Kawan GNFI tentu familiar samaΒ Upin & Ipin β animasi asal Malaysia yang udah puluhan tahun jadi tontonan wajib anak-anak Indonesia, bahkan sering diputar berjam-jam sehari di layar kaca.
Namun, tahukah kamu, ternyata animasi lokal Indonesia pernah, dan terus, membuktikan diri sanggup bersaing bahkan mengungguli animasi impor sekelas itu?
Dominasi Upin & Ipin dan Respons Industri Lokal
Upin & Ipin memang punya rekam jejak mentereng di Indonesia β tujuh tahun berturut-turut meraih Anugerah Kartun Kesayangan di Mom and Kids Awards MNC TV sejak 2015, plus lima kali menang kategori Animasi Asing di Anugerah Penyiaran Ramah Anak (APRA) dari KPI. Namun, menariknya, dominasi ini bukan berarti animasi lokal selalu kalah telak.
Pada survei rating Nielsen 2014, serial Adit Sopo Jarwo garapan MD Animation justru menempati peringkat 1 dengan rating 4,2 dan share penonton 20,2 persen, mengungguli Upin & Ipin yang saat itu ada di posisi 5 dengan rating 3,7 dan share 19,3 persen.
Temuan ini penting karena membuktikan bahwa dari segi genre, cerita, dan gaya animasi 3D yang serupa, karya anak bangsa nyatanya sanggup jadi pilihan utama penonton Indonesia sendiri, bukan cuma jago kandang yang kalah pamor.
Kebangkitan Studio Animasi Lokal
Momentum ini terus berlanjut di berbagai genre dan format. Nussa & Rara garapan Visinema Pictures, yang versi filmnya melibatkan 130 animator Indonesia, sukses jadi perwakilan Indonesia di ajang penghargaan internasional berkat cerita sarat pesan moral yang dibungkus dengan visual rapi dan hangat.
Si Juki, karakter ciptaan Faza Meonk yang awalnya hanya komik online sejak akhir 2011, berkembang jadi waralaba film layar lebar dengan teknologi animasi berstandar internasional berbasis sistem aset digital penuh.
Puncaknya ada di 2025, ketika film Jumbo produksi Visinema Pictures ditonton lebih dari 10 juta orang dalam sembilan minggu penayangan dan tercatat sebagai film animasi terlaris di Asia Tenggara, bahkan direncanakan tayang di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Rusia dan Ukraina.
Sebelumnya, Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir juga menembus lebih dari 600 ribu penonton, disusul Nussa dengan 445 ribu penonton.
Ekonomi Kreatif di Balik Layar Animasi
Di balik pencapaian-pencapaian itu, ada industri yang terus tumbuh signifikan. Sektor animasi Indonesia tumbuh sekitar 153 persen antara 2015 dan 2020, rata-rata 26 persen per tahun, dengan jumlah pekerja di sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 24.000 orang, menjadikannya salah satu sektor padat karya di ekonomi kreatif nasional.
Subsektor film, animasi, dan video bahkan tercatat sebagai salah satu dari tiga subsektor ekonomi kreatif dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia.
Setiap film atau serial yang tayang otomatis membuka lapangan kerja baru, mulai dari animator, penulis cerita, sound engineer, hingga tim pemasaran.
Ekosistem seperti inilah yang jadi fondasi penting agar industri animasi lokal tidak hanya mengandalkan satu-dua karya besar, tetapi tumbuh berkelanjutan dari berbagai studio kecil dan menengah.
Tantangan yang Masih Menghadang
Meski begitu, Kawan GNFI, jalan animasi lokal belum sepenuhnya mulus. Penayangan animasi lokal di televisi nasional masih kalah porsi dibanding animasi impor, sebagian karena minimnya promosi sehingga banyak karya lokal berkualitas justru kurang dikenal publik luas.
Jumlah animator profesional di Indonesia pun disebut masih berada di urutan belakang dibanding kebutuhan proyek yang terus bertambah, membuat proses produksi karya berkualitas internasional makan waktu lama dan modal besar.
Dukungan pemerintah lewat kebijakan dan insentif, riset pasar yang lebih matang, serta kolaborasi lintas studio jadi kunci penting agar animasi Indonesia tidak hanya numpang lewat. Namun, benar-benar jadi pemain tetap di industri animasi global,Β bukan hanya menjadi penonton setia animasi dari negeri tetangga.


