limbah plastik laut ini diubah jadi nanofiber diuji untuk bersihkan limbah tekstil - News | Good News From Indonesia 2026

Limbah Plastik Laut Ini Diubah Jadi Nanofiber, Diuji untuk Bersihkan Limbah Tekstil

Limbah Plastik Laut Ini Diubah Jadi Nanofiber, Diuji untuk Bersihkan Limbah Tekstil
images info

Dok. Dave Robinson (Unsplash)


Limbah jaring ikan berbahan nilon menjadi salah satu sumber sampah plastik di laut. Jaring yang tertinggal atau dibuang dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik dan mencemari ekosistem perairan.

Pada saat yang sama, industri tekstil menghasilkan limbah cair yang mengandung pewarna. Salah satu bahan yang digunakan dalam pengujian pengolahan limbah tersebut adalah Methylene Blue.

Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Muhamad Nasir bersama tim mengembangkan nanofiber dari limbah jaring nilon untuk mengatasi limbah pewarna tekstil.

Inovasi tersebut memanfaatkan limbah laut sekaligus mengembangkan material yang dapat membantu menguraikan zat pewarna dalam limbah cair.

Β 

Jaring Nilon Diolah Menjadi Material Nano

Nasir mengatakan jaring ikan berbahan nilon berkontribusi besar terhadap fragmentasi mikroplastik di laut. Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 81.000 kilometer sehingga limbah jaring ikan dihasilkan dalam jumlah besar setiap tahun.

β€œAlih-alih mengubah limbah ini menjadi produk bernilai rendah, kami mengolahnya kembali atau upcycling menjadi material nano fungsional berkinerja tinggi melalui proses electrospinning,” kata Nasir dalam Forum e-Asia Joint Research Program 15th Joint Review Meeting and Annual Board Meeting 2026, Selasa, 8 September 2026.

Tim mengolah limbah jaring nilon menggunakan proses electrospinning untuk membentuk serat berukuran nano. Material tersebut kemudian dikompositkan dengan nanopartikel Titanium Dioksida atau TiO2.

Penambahan TiO2 memperkuat struktur serat. Material tersebut juga meningkatkan kemampuan menyerap air dan memperluas permukaan aktif yang berperan dalam proses penguraian zat pewarna.

Β 

Degradasi Pewarna Capai 88,68 Persen

Tim menguji nanofiber tersebut pada limbah pewarna tekstil Methylene Blue dengan bantuan penyinaran sinar ultraviolet.

Pada tingkat keasaman atau pH netral 7, material itu mampu mencapai efisiensi degradasi sebesar 88,68 persen dalam waktu 60 menit.

β€œKetika kami uji pada limbah pewarna tekstil Methylene Blue di bawah penyinaran sinar UV, hasilnya sangat memuaskan. Pada pH netral 7, material ini mencapai efisiensi degradasi hingga 88,68 persen hanya dalam waktu 60 menit,” ujar Nasir.

Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan nanopartikel TiO2 murni yang mencapai efisiensi degradasi sebesar 67,84 persen.

Struktur nanofiber membantu mencegah partikel TiO2 menggumpal. Kondisi tersebut membuat penyerapan cahaya berlangsung lebih maksimal sehingga radikal bebas dapat terbentuk untuk memecah molekul pewarna.

Proses itu mengubah molekul pewarna menjadi air dan karbon dioksida.

Β 

Kolaborasi BRIN, ITB, dan Universitas Andalas

Nasir mengatakan pengolahan limbah jaring nilon menjadi nanofiber memberikan fungsi baru pada material yang sebelumnya berpotensi mencemari laut.

β€œDengan mengubah limbah jaring nilon menjadi nanofiber multifungsi, kami memberikan nilai tambah pada limbah laut sekaligus menciptakan produk berkelanjutan untuk mengatasi polusi limbah tekstil,” katanya.

Penelitian tersebut merupakan kolaborasi BRIN, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Andalas.

Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Science Advanced Materials and Devices pada 2025. Artikel penelitian memuat pengembangan nanofiber berbasis limbah jaring nilon dan TiO2 untuk menguraikan Methylene Blue.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.