gila gila teh hijau kita masih setia dengan yang hitam - News | Good News From Indonesia 2026

Gila-gila Teh Hijau, Kita Masih Setia dengan yang Hitam

Gila-gila Teh Hijau, Kita Masih Setia dengan yang Hitam
images info

Pucuk daun teh hijau dengan embun yang menghiasi permukaannya. Foto: Natasha Yurova/Unsplash


Beberapa waktu belakangan, teh hijau terasa hadir di berbagai percakapan. Salah satunya melalui lagu Teh Hijau yang dinyanyikan Tulus.

Teh hijau kerap kali dikaitkan dengan ketenangan dan gaya hidup yang sehat. Namun, di balik popularitasnya ada industri pertanian yang juga bergerak mengikuti permintaan pasar global.

Teh hijau sedang naik daun di pasar global dan ironisnya, Indonesia sebagai salah satu penghasil teh terbesar masih bertahan dengan teh hitamnya.

Saat Dunia Jatuh Cinta pada Teh Hijau

Teh hijau sedang banyak dicari di pasar global. Sebagai penghasil teh, Indonesia juga berkontribusi dalam memproduksi teh hijau untuk kebutuhan pasar dunia. Meski teh hitam masih memiliki angka permintaan yang tinggi, teh hijau kini mulai ramai diminati.

Di pasar global, permintaan teh hijau punya proyeksi pertumbuhan tahunan (CAGR) 8.04–9.8% dalam periode 2022–2030.

Pada tahun 2024 nilai pasar teh hijau di pasar global mencapai USD 15 miliar dengan proyeksi USD 29,27 miliar pada tahun 2030. Angka tersebut bukan angka yang kecil dan berpotensi mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri, ekspor teh hijau berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2024 mencapai 3.721 ton. Angka tersebut naik ~40% dari tahun 2023 yang hanya 2.656 ton. Meski angkanya tak setinggi ekspor teh hitam yang mencapai 30.303 ton pada tahun 2024, tetapi ekspor teh hitam malah mengalami penurunan ~9% dari tahun sebelumnya.

Permintaan teh hijau di pasar global sudah cukup tinggi, seharusnya permintaan teh hijau juga meningkat, tapi kenapa ya, Indonesia masih setia dengan teh hitamnya?

Indonesia yang Setia Dengan Hitamnya

Teh hitam sebenarnya menjadi salah satu warisan sejarah yang masih dibudidayakan hingga saat ini. Relasi untuk distribusi teh hitam sudah dibentuk sejak masa kolonial dahulu, ketika pengusaha Eropa mulai mengembangkannya secara lebih pesat di era liberal.

baca juga

Jika kita lihat dari data ekspor teh pada tahun 2024, persentase ekspor teh hitam jauh lebih banyak daripada teh hijau. Teh hitam yang diekspor dari Indonesia mencapai 82%, sedangkan teh hijau hanya berkisar 10%-nya saja, dan sisanya berupa teh olahan.

Sekalipun angka permintaan teh hijau meningkat, tidak mengubah kenyataan kalau produksi teh hitam jauh lebih tinggi. Bukan tanpa alasan, produksi teh hitam memang relatif lebih mudah, utamanya dalam produksi masal. Teh hijau membutuhkan proses yang presisi tanpa oksidasi.

Pasarnya pun jauh lebih banyak. Teh hitam yang diproduksi akan diekspor ke beberapa negara, seperti Pakistan, Rusia, Malaysia, Timur Tengah. Negara-negara itu adalah pasar tradisional teh hitam Indonesia yang udah lama terbentuk, sementara pasar teh hijau didominasi preferensi Asia Timur, tepatnya Jepang, dan China, dan belum dilakukan secara serius.

Lantas, dengan meningkatnya angka permintaan teh hijau di pasar dunia, apakah ke depannya Indonesia akan mulai beradaptasi dengan situasi yang ada?

Kebun Teh Juga Punya Jedanya Sendiri

Di Indonesia sendiri, jumlah petani teh terbilang tidak sedikit. Ada sekitar 170.000 petani dan tenaga kerja yang bergantung dengan komoditas ini. Para petani itu tersebar di 13 provinsi. Jawa Barat menjadi produsen teh tertinggi dan disusul dengan Jawa Tengah di posisi kedua.

Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jambi juga menyuplai hasil produksi teh Indonesia. Sumatra Selatan, Jawa Timur, Bengkulu, Yogya, Banten berada pada posisi selanjutnya.

Sayangnya, potensi ini belum terealisasi secara maksimal. Rantai pasok yang belum efisien jadi salah satu alasan produksinya belum jadi komoditas ekspor yang benar-benar diperhitungkan. Padahal, permintaan dunia terhadap teh hijau lagi naik-naiknya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dermawan, dkk. (2025), disebutkan bahwa proyeksi produksi teh di Indonesia hingga 2023 memang diperkirakan stabil di angka 123 ribuan ton per tahun. Namun, mereka juga menyebutkan bahwa ada angka ketidakpastian dari rentang antara batas atas dan bawah produksi yang semakin meningkat. Artinya, momentum ini bukan sesuatu yang bisa ditunda-tunda.

baca juga

Momen teh hijau yang lagi ngetren ini sebenarnya bisa dimanfaatkan. Kalau dunia mulai bergerak ke arah hijau, ini bisa jadi kesempatan bagi Indonesia untuk menjadikan teh hijau bukan sekadar tren, tetapi produksi yang serius dan berkelanjutan.

Teh hijau yang kini sedang naik daun dikenal sebagai simbol jeda dan pemulihan. Mestinya, teh hijau sendiri juga bisa memulihkan industri teh di Indonesia. Dari sekadar komoditas sampingan menjadi sesuatu yang benar-benar diperhitungkan dunia.

Kalau dunia sudah mulai bergeser ke teh hijau, apa Indonesia siap ambil momennya, atau bakal keburu keduluan negara lain?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.