cara budidaya ikan nila ini bisa hemat pakan sampai 80 bagaimana metodenya - News | Good News From Indonesia 2026

Cara Budidaya Ikan Nila Ini Bisa Hemat Pakan Sampai 80%, Bagaimana Metodenya?

Cara Budidaya Ikan Nila Ini Bisa Hemat Pakan Sampai 80%, Bagaimana Metodenya?
images info

Foto oleh Creab ThePolymath di Unsplash


Pakan menjadi salah satu komponen penting dalam biaya budidaya ikan nila. Karena itu, semakin banyak pakan yang termanfaatkan, semakin besar pula pengaruhnya terhadap biaya produksi dan hasil usaha pembudidaya.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menunjukkan sistem bioflok memiliki efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 84,03 persen. Angka tersebut muncul dari perbandingan tiga sistem budidaya ikan nila, yaitu bioflok, kolam intensif, dan keramba jaring apung.

Bioflok juga mencatat tingkat kelangsungan hidup ikan yang lebih tinggi dibandingkan keramba jaring apung. Sementara itu, kolam intensif dan bioflok sama-sama menunjukkan produktivitas biomassa yang tinggi.

Β 

Bioflok Unggul dalam Efisiensi Pakan

Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN Estu Nugroho membandingkan kinerja ketiga sistem tersebut menggunakan data dari unit produksi komersial.

Kajian itu melihat tingkat kelangsungan hidup ikan, efisiensi pakan, pertumbuhan harian, produktivitas biomassa, dan nilai ekonomi. Tim juga menghitung biaya produksi, rasio penerimaan terhadap biaya atau R/C ratio, tingkat pengembalian investasi atau ROI, titik impas atau BEP, serta periode pengembalian modal.

β€œHasil kajian terhadap unit produksi komersial menunjukkan bahwa sistem kolam intensif dan bioflok memiliki keunggulan dalam produktivitas biomassa, sementara bioflok lebih unggul dari sisi efisiensi pakan dan indikator ekonomi,” ujar Estu.

Sistem bioflok memanfaatkan aktivitas mikroorganisme di dalam air. Mikroorganisme tersebut membantu mengolah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan atau flok yang dapat dimanfaatkan dalam lingkungan budidaya.

Pengelola kolam tetap perlu menjaga kadar oksigen, kualitas air, dan kondisi flok. Pengawasan tersebut diperlukan agar sistem dapat berjalan dan ikan tumbuh dalam kondisi yang sesuai.

Β 

Kolam Intensif Menghasilkan Biomassa Tinggi

Kolam intensif dan bioflok sama-sama mencatat produktivitas biomassa yang tinggi. Perbedaan keduanya terlihat pada kebutuhan pengelolaan dan keunggulan yang ditawarkan.

Kolam intensif dapat dipilih pembudidaya yang menargetkan produksi biomassa tinggi dalam skala besar. Sistem ini memerlukan pengawasan terhadap oksigen dan limbah secara ketat.

Bioflok lebih unggul dalam efisiensi pakan dan indikator ekonomi. Sistem tersebut dapat menjadi pilihan bagi pembudidaya yang ingin menekan penggunaan pakan tanpa mengabaikan produktivitas.

Keramba jaring apung bergantung pada kondisi perairan terbuka. Kualitas air dan daya dukung lingkungan di luar kolam turut memengaruhi hasil budidaya.

Dalam kajian tersebut, tingkat kelangsungan hidup ikan pada keramba jaring apung lebih rendah dibandingkan kolam intensif dan bioflok. Produktivitas serta profitabilitasnya juga lebih rendah daripada dua sistem lainnya.

Β 

Pilihan Bergantung pada Kondisi Usaha

Estu mengatakan hasil kajian tidak menunjukkan satu sistem yang dapat diterapkan untuk seluruh pembudidaya. Pemilihan metode perlu disesuaikan dengan target produksi, modal, kemampuan pengelolaan, dan kondisi lingkungan.

β€œPemilihan teknologi budidaya perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya ikan nila dapat berlangsung secara produktif dan berkelanjutan,” kata Estu.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN Huria Marnis mengatakan budidaya ikan nila dalam skala besar memerlukan benih unggul, teknologi efisien, pengelolaan produksi, dan inovasi sesuai kebutuhan pembudidaya.

Huria juga menggarisbawahi jarak antara hasil penelitian dan penerapannya dalam produksi komersial. Kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha diperlukan agar hasil riset dapat digunakan oleh pembudidaya dan industri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.