tous satwa papua yang bertahan sejak ribuan tahun lalu berkat hutan dan kearifan leluhur - News | Good News From Indonesia 2026

Tous, Satwa Papua yang Bertahan Sejak Ribuan Tahun Lalu Berkat Hutan dan Kearifan Leluhur

Tous, Satwa Papua yang Bertahan Sejak Ribuan Tahun Lalu Berkat Hutan dan Kearifan Leluhur
images info

Tous


Hutan Papua menjadi rumah bagi mamalia berkantung yang keberadaannya sempat hanya diketahui melalui fosil berusia ribuan tahun. Satwa bernama Tous (Tous ayamaruensis) ini menarik perhatian ilmuwan setelah ditemukan melalui dokumentasi foto pada 2015 lalu.Β 

Penelitian lanjutan mengungkap bahwa hewan tersebut masih bertahan di hutan Semenanjung Vogelkop, Papua Barat, serta memperkenalkan genus baru dalam kelompok marsupial.

Ditemukan Lagi setelah Ribuan Tahun

Sebelum ditemukan kembali, Tous dikenal melalui fragmen tulang dan gigi yang diperkirakan berusia sekitar 6.000–7.500 tahun. Sisa-sisa tersebut ditemukan di Dataran Tinggi Ayamaru, Semenanjung Vogelkop, dan sebelumnya diklasifikasikan sebagai Petauroides ayamaruensis.

Petunjuk baru muncul pada 2015 ketika seorang pekerja perkebunan di Papua memotret seekor mamalia yang tidak dikenalnya. Foto-foto tersebut kemudian menarik perhatian peneliti karena memperlihatkan hewan dengan ciri fisik menyerupai posum peluncur besar Australia.

baca juga

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa satwa dalam foto itu memiliki karakteristik yang sesuai dengan spesimen fosil yang sebelumnya dikenal. Melalui kajian yang diterbitkan dalam Records of the Australian Museum pada 2026, tim peneliti yang dipimpin Tim Flannery menempatkan spesies tersebut dalam genus baru bernama Tous.

Nama ilmiahnya kemudian ditetapkan sebagai Tous ayamaruensis. Penamaan ini menggunakan istilah lokal yang telah dikenal masyarakat Papua. Warga setempat juga mengenal sebutan Tous wansai untuk membedakannya dari posum peluncur berukuran lebih kecil.

Mamalia Kecil yang Jago Meluncur

Tous termasuk ordo Diprotodontia, kelompok mamalia berkantung yang juga mencakup kanguru, koala, dan posum. Satwa ini berada dalam famili Pseudocheiridae, yang dikenal sebagai kelompok posum ekor cincin, serta subfamili Hemibelideinae.

Tubuh Tous berukuran sekitar 33 sentimeter dengan berat berkisar 255–312 gram. Bulunya berwarna cokelat, sementara matanya yang besar dan telinganya yang tidak berbulu menjadi ciri fisik yang mudah dikenali.

baca juga

Sebagai mamalia arboreal, Tous menghabiskan kehidupannya di pepohonan. Cakar yang kuat membantunya berpegangan pada batang dan dahan, sedangkan ekornya mendukung pergerakan serta membantu mencengkeram permukaan pohon.

Tous juga memiliki patagium, yakni selaput kulit yang membantu mamalia tertentu meluncur dari satu pohon ke pohon lain. Adaptasi ini memungkinkan pergerakan di antara tajuk hutan tanpa harus selalu turun ke permukaan tanah.

Karakteristik tersebut membuat Tous kerap dibandingkan dengan Marsupilami, karakter fiksi penghuni hutan dalam komik karya AndrΓ© Franquin. Namun, Tous merupakan satwa nyata dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil dan penampilan alami khas mamalia hutan.

Dianggap sebagai Asal Mula Kehidupan

Keberadaan Tous juga berkaitan erat dengan pengetahuan dan tradisi masyarakat adat di Papua. Rika Korain, peneliti asal Suku Maybrat, menjelaskan bahwa satwa ini memiliki kedudukan penting dalam kepercayaan masyarakat setempat. Tous dipandang sebagai manifestasi roh leluhur dan memiliki hubungan dengan tradisi adat.

baca juga

Dalam sejumlah kepercayaan lokal, habitat Tous dianggap sebagai tempat asal mula kehidupan berbagai makhluk. Pandangan tersebut turut membentuk aturan adat yang membatasi aktivitas manusia di wilayah tertentu, termasuk larangan memburu satwa ini.

Pantangan untuk menyebut nama Tous di sejumlah konteks adat juga menunjukkan hubungan kultural masyarakat dengan satwa tersebut. Pengetahuan semacam ini menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana masyarakat setempat memaknai dan menjaga lingkungan tempat mereka hidup.

Nilai konservasi yang terkandung dalam aturan adat dapat menjadi sumber pengetahuan bagi upaya perlindungan keanekaragaman hayati. Namun, keberlanjutan praktik tersebut juga bergantung pada penghormatan terhadap hak masyarakat adat dan perlindungan wilayah yang mereka kelola.

Menjaga Habitat di Hutan Papua

Meskipun berhasil ditemukan kembali, keberadaan Tous tetap menghadapi tantangan. Kerusakan dan perubahan tutupan hutan dapat mengurangi ketersediaan pohon yang menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berpindah bagi satwa arboreal ini.

baca juga

Risiko tersebut perlu diperhatikan karena Tous memiliki tingkat reproduksi yang relatif rendah. Satwa ini dilaporkan melahirkan satu anak dalam setahun dan membentuk pasangan jangka panjang. Karakteristik tersebut membuat pemulihan populasinya berpotensi berlangsung lambat ketika habitat mengalami gangguan.

Perlindungan Tous memerlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui persebaran, ukuran populasi, kebutuhan habitat, dan ancaman yang dihadapinya. Informasi tersebut penting untuk menentukan langkah konservasi yang sesuai dengan kondisi ekologis setempat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.