museeid bahas langkah nyata museum dalam menjaga lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

MuseeID Bahas Langkah Nyata Museum dalam Menjaga Lingkungan

MuseeID Bahas Langkah Nyata Museum dalam Menjaga Lingkungan
images info

MuseeID Bahas Langkah Nyata Museum dalam Menjaga Lingkungan︱Foto: Rizkia Putri Fahira


Perubahan iklim dan persoalan lingkungan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan energi yang tinggi, penumpukan sampah, hingga menurunnya kualitas lingkungan perkotaan menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian banyak pihak. Upaya menjaga lingkungan pun tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga berbagai institusi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, termasuk museum.

Di balik ruang pamer yang tertata rapi, museum memiliki kebutuhan energi, air, dan material yang tidak sedikit. Lampu, pendingin ruangan, fasilitas penyimpanan koleksi, hingga pembangunan instalasi pameran turut memengaruhi jejak lingkungan sebuah institusi. Karena itu, museum perlu melihat kembali cara mereka beroperasi agar kegiatan pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam MSDG Learning Series ke-3 MuseeID bertajuk Green Museum: Tata Kelola Lingkungan dan Aksi Iklim, yang berlangsung pada 22 Oktober 2026 di Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, Jakarta.

Kegiatan ini menghadirkan Bambang Arifatmi dari UNEP UN-REDD Programme di Indonesia, Nofa Farida Lestari dari MuseeID, Erni Pelita Fitratunnisa dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, serta Adang Suryana dari AMIDA Jakarta Paramita Jaya. Diskusi dipandu Sriwulantuty Rizkiningsih dari MuseeID.

baca juga

Mengurangi Jejak Lingkungan dari Dalam Museum

Melalui presentasi bertajuk Dari Koleksi ke Aksi: Museum Hijau untuk SDG 13, Bambang Arifatmi mengajak peserta melihat bahwa museum juga memiliki peran dalam menghadapi perubahan iklim. Peran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui edukasi kepada pengunjung, tetapi juga lewat pengelolaan bangunan dan kegiatan operasional sehari-hari.

Penggunaan lampu LED, sistem pendingin yang lebih hemat energi, panel surya, serta pemantauan konsumsi listrik menjadi beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan. Pengelola juga perlu memperhatikan penggunaan air dan risiko lingkungan seperti banjir, perubahan suhu, serta kelembapan yang dapat mengancam koleksi dan bangunan.

Pembahasan mengenai pengelolaan gedung ini berkaitan dengan prinsip bangunan gedung hijau. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) Nomor 21 Tahun 2021 mengatur penilaian kinerja bangunan gedung hijau, dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung sebagai salah satu landasan hukum yang relevan.

Di Jakarta, efisiensi energi dan air pada bangunan gedung juga menjadi perhatian melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026. Dalam konteks museum, kebijakan tersebut menjadi acuan untuk memperhatikan penggunaan energi dan air secara lebih efisien, sesuai dengan kategori bangunan dan ketentuan yang berlaku.

baca juga

Dengan demikian, upaya menuju museum hijau dapat dimulai dari pengelolaan fasilitas yang lebih hemat dan terukur.

Pameran Berakhir, Material Masih Bisa Digunakan

Selain penggunaan energi, limbah dari pameran temporer juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Setelah sebuah pameran selesai, panel, backdrop, papan display, dan berbagai bahan dekorasi sering kali tidak lagi digunakan, meskipun sebagian masih dalam kondisi baik.

Adang Suryana mengajak pengelola museum mempertimbangkan penggunaan kembali material sejak tahap perencanaan pameran. Panel dan backdrop dapat dirancang agar mudah dibongkar dan dipasang kembali. Material yang tidak lagi digunakan juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya kayu menjadi rak atau bingkai, serta spanduk menjadi tas.

Ia juga mengusulkan penyediaan ruang penyimpanan khusus bagi material pameran yang masih layak digunakan. Dengan cara ini, tim kreatif dapat memeriksa persediaan sebelum membeli bahan baru untuk kegiatan berikutnya. Selain mengurangi limbah, pendekatan tersebut berpotensi menekan biaya produksi pameran.

baca juga

Pengelolaan Sampah dan Air Limbah Perlu Perhatian

Pengelolaan lingkungan museum juga mencakup penanganan sampah dan air limbah. Erni Pelita Fitratunnisa dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada penyediaan tempat sampah terpilah. Prosesnya perlu mencakup pemilahan berdasarkan jenis, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan akhir.

Bagi museum, langkah ini dapat diterapkan dalam kegiatan operasional maupun penyelenggaraan pameran. Sampah yang dapat didaur ulang perlu dipisahkan dari sampah organik, residu, dan limbah berbahaya agar penanganannya sesuai dengan karakteristik masing-masing. Pengelolaan air limbah juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas lingkungan.

Materi yang disampaikan Erni turut mencatat bahwa sebanyak 825 perusahaan dan kawasan terkelola di Jakarta telah melaporkan pengelolaan sampah hingga 24 Juli 2026, meningkat dari 604 pada Juni 2026. Angka tersebut mencakup berbagai sektor, seperti hotel, restoran, apartemen, dan perkantoran, bukan hanya museum.

Data ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Bagi museum, komitmen terhadap lingkungan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan kerja, pencatatan yang baik, serta sistem penanganan sampah yang jelas.

baca juga

Menghubungkan Museum dengan Cerita Lingkungan Kota

Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus berhenti di dalam gedung museum. Nofa Farida Lestari membawa pembahasan ke Sungai Gomati di Jakarta Utara, dengan mengangkat sejarah sungai, perubahan kawasan sekitarnya, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa museum dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan kota melalui sejarah dan pengalaman masyarakat. Cerita tentang sungai, misalnya, dapat membuka diskusi mengenai perubahan lingkungan, kondisi bantaran, dan kehidupan komunitas yang terdampak.

Nofa juga mengundang peserta melanjutkan percakapan dalam Festival Cerita Kota pada 24 Oktober 2026 di Museum Bahari Jakarta. Kegiatan tersebut akan menghadirkan anak muda untuk membahas Gomati dan lingkungan perkotaan.

Melalui MSDG Learning Series ini, museum diajak melihat keberlanjutan sebagai bagian dari pengelolaan sehari-hari. Penghematan energi dan air, penggunaan kembali material pameran, pengelolaan sampah, serta keterlibatan masyarakat merupakan langkah yang dapat menghubungkan pelestarian budaya dengan tanggung jawab lingkungan.

baca juga

Dengan begitu, museum tidak hanya merawat cerita masa lalu, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun masa depan kota yang lebih berkelanjutan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.