kukang bangka satu satunya primata beracun di dunia kembali ditemukan setelah sempat dikira punah - News | Good News From Indonesia 2026

Kukang Bangka, Satu-satunya Primata Beracun di Dunia Kembali Ditemukan Setelah Sempat Dikira Punah

Kukang Bangka, Satu-satunya Primata Beracun di Dunia Kembali Ditemukan Setelah Sempat Dikira Punah
images info

Sumber: Wikimedia Commons CC-BY-SA-4.0.


Kukang Bangka atau Bangka Slow Loris merupakan primata langka yang sempat dianggap mungkin telah punah karena tidak tercatat dalam literatur ilmiah sejak awal 1930-an.

Namun, kabar terbaru membawa harapan baru bagi pelestarian satwa endemik Indonesia ini. Keberadaannya kembali terungkap melalui penyelamatan satwa di sekitar permukiman warga, kebun, dan jalanan di Pulau Bangka.

Sempat Hilang dari Catatan Ilmiah Selama Hampir Satu Abad

Kukang Bangka dengan nama ilmiah Nycticebus bancanus merupakan primata nokturnal yang berasal dari Pulau Bangka. Hewan ini dikenal memiliki gerakan lambat, mata besar, bulu cokelat kemerahan, serta pola khas pada wajahnya.

Penampilannya yang unik membuat kukang Bangka menjadi salah satu satwa liar yang menarik perhatian para peneliti dan pemerhati konservasi.

Menurut laporan Deutsche Welle (DW) pada 22 Oktober 2026, catatan ilmiah terakhir mengenai keberadaan kukang Bangka berasal dari periode 1930–1932.

Selama puluhan tahun setelah itu, tidak tersedia informasi ilmiah yang meyakinkan mengenai kelangsungan hidup spesies tersebut di habitat aslinya. Kondisi ini membuat kukang Bangka masuk dalam daftar primata yang keberadaannya sulit dipastikan.

Pada 2020, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengategorikan kukang Bangka sebagai spesies yang berstatus kritis atau Critically Endangered, dengan kemungkinan telah punah. Spesies ini juga masuk dalam daftar primata hilang yang menjadi perhatian organisasi konservasi Re:wild.

Namun, hilangnya catatan ilmiah ternyata tidak selalu berarti suatu spesies benar-benar menghilang dari alam. Kisah kukang Bangka menjadi bukti bahwa satwa yang luput dari pengamatan ilmuwan masih mungkin bertahan di tengah perubahan lingkungan yang berlangsung selama puluhan tahun.

Ditemukan Kembali di Sekitar Permukiman Warga

Keberadaan kukang Bangka kembali mendapatkan perhatian setelah organisasi konservasi Alobi Wildlife Rescue Center mendokumentasikan lebih dari 90 individu selama periode 2015–2025.

Temuan tersebut berasal dari berbagai wilayah di Pulau Bangka dan menjadi dasar penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Spixiana.

Sebagian besar kukang ditemukan ketika memasuki rumah warga, kebun, perkebunan, atau kawasan di sekitar jalan. Ada pula individu yang mengalami cedera akibat tersengat listrik dari jaringan kabel.

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kukang Bangka masih bertahan hidup, meskipun ruang hidupnya semakin terdesak oleh aktivitas manusia.

Dari lebih dari 90 individu yang tercatat, sebanyak 86 ekor berhasil dipulihkan dan dilepasliarkan kembali ke habitat yang dinilai sesuai. Data tersebut memberikan bukti penting bagi dunia ilmiah mengenai keberadaan spesies yang selama hampir satu abad tidak terdokumentasikan secara memadai.

Meski demikian, angka penyelamatan tersebut tidak dapat dianggap sebagai jumlah keseluruhan populasi kukang Bangka di alam. Survei lapangan yang lebih sistematis masih diperlukan untuk mengetahui persebaran, ukuran populasi, dan kondisi kelangsungan hidupnya.

Primata Beracun dengan Karakteristik Unik

Salah satu keistimewaan kukang Bangka adalah kemampuannya menghasilkan racun, menjadikannya bagian dari kelompok kukang yang dikenal sebagai satu-satunya primata beracun di dunia. Racun tersebut terbentuk melalui perpaduan sekresi dari kelenjar khusus di dekat siku dengan air liur.

Ketika merasa terancam, kukang dapat mengangkat lengannya, menjilat sekresi kelenjar tersebut, kemudian menyalurkan racun melalui gigitan. Mekanisme ini merupakan karakteristik biologis yang tidak biasa di antara kelompok primata.

Racun kukang dapat menimbulkan reaksi alergi serius pada manusia, bahkan berpotensi mengancam nyawa dalam kondisi tertentu. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menyentuh atau menangkapnya secara langsung apabila menemukan hewan ini di sekitar rumah.

Sebagai hewan nokturnal, kukang Bangka lebih aktif pada malam hari. Pergerakannya yang lambat dan kebiasaannya hidup di pepohonan membuatnya bergantung pada keberadaan habitat yang menyediakan tempat berlindung sekaligus sumber makanan.

Makanannya sendiri diperkirakan mencakup buah, getah pohon, nektar, serta bagian tumbuhan lainnya. Selain itu, kukang Bangka juga memakan serangga yang sering ditemukan berada di sekitar pohon tempat mereka tinggal.

Kerusakan Habitat Menjadi Ancaman Serius

Meskipun keberadaannya telah terkonfirmasi kembali, masa depan kukang Bangka masih menghadapi tantangan besar. Salah satu ancaman utamanya adalah kerusakan habitat akibat penambangan timah dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Hilangnya tutupan hutan memaksa satwa meninggalkan tempat hidup alaminya untuk mencari perlindungan dan makanan.

Akibatnya, kukang semakin sering ditemukan di lingkungan manusia, yang justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan, sengatan listrik, penangkapan, hingga perdagangan satwa liar.

Kebakaran hutan dan lahan juga menambah tekanan terhadap kelangsungan hidup satwa endemik Pulau Bangka. Ketika pepohonan terbakar atau habitatnya rusak, kukang yang bergerak lambat memiliki keterbatasan untuk menyelamatkan diri.

Oleh karena itu, upaya penyelamatan tidak cukup hanya dengan merawat individu yang terluka. Perlindungan hutan yang tersisa, rehabilitasi, pelepasliaran terpantau, serta edukasi masyarakat harus berjalan beriringan.

Menjaga Kukang Bangka agar Tidak Kembali Punah

Penemuan kembali kukang Bangka memberikan harapan sekaligus peringatan mengenai pentingnya penelitian dan konservasi satwa liar.

Kisah ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat lokal dapat menjadi sumber informasi berharga ketika pengamatan ilmiah belum mampu menjangkau suatu spesies secara memadai.

Masyarakat yang menemukan kukang sebaiknya tidak memeliharanya sebagai hewan peliharaan atau mencoba menangkapnya sendiri. Pelaporan kepada petugas konservasi atau lembaga penyelamatan satwa merupakan langkah yang lebih aman bagi manusia maupun hewan tersebut.

Pada akhirnya, keberlangsungan kukang Bangka sangat bergantung pada kemampuan manusia menjaga habitat alaminya. Tanpa perlindungan hutan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, penemuan kembali ini hanya akan menjadi kabar menggembirakan sesaat.

Sebaliknya, dengan penelitian yang konsisten dan keterlibatan masyarakat, masih ada kesempatan untuk memastikan primata unik ini tetap menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.