Pada tahun 2025 lalu BRIN mengumumkan penemuan spesies baru anggrek tanpa daun di belantara Sumatra, tepatnya di Aceh. Dikenal dengan nama ilmiah Chiloschista tjiasmantoi, flora unik ini menawarkan lembaran baru dalam studi keanekaragaman hayati Nusantara.
Secara morfologi, spesies baru ini sekilas menyerupai Chiloschista javanica yang merupakan flora endemik Pulau Jawa. Meski demikian, analisis lanjutan menunjukkan adanya perbedaan mencolok pada struktur bagian bunga, terutama pada petal dan bentuk bibir bunganya.
Temuan spesies anggrek ini sekaligus mencatatkan sejarah baru sebagai penemuan genus Chiloschista pertama di Pulau Sumatra. Mari mengenal lebih dalam anggrek Chiloschista tjiasmantoi dan bagaimana cara uniknya bertahan hidup di alam liar.
Mengenal Chiloschista tjiasmantoi, Anggrek Unik dari Aceh
Dalam jurnal yang ditulis oleh Destario Metusala, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikonfirmasi bahwa Chiloschista tjiasmantoi merupakan spesies anggrek epifit tak berdaun yang ditemukan di wilayah paling utara Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Aceh.
Sebelum penemuan ini, Indonesia mencatat empat spesies dari genus serupa yang tersebar di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil, tanpa ada catatan penemuan sebelumnya dari wilayah Sumatra, Kalimantan, atau Papua.
Nama ilmiah spesies ini diberikan untuk menghormati Wewin Tjiasmanto selaku filantropis pelindung lingkungan yang banyak mendukung upaya pelestarian flora di Indonesia, khususnya di daerah Aceh.
Sebagai catatan, anggrek langka Indonesia ini disebut Destario masuk ke dalam kategori status Genting (Endangered) berdasarkan kriteria IUCN Red List karena jumlah individu dan wilayah sebarannya yang sangat terbatas.
Tumbuhan Epifit yang Menempel di Pohon
Sebagai bagian dari kelompok anggrek epifit, tumbuhan ini tidak bersifat parasit. Hubungan anggrek epifit dengan pohon inangnya bersifat komensalisme karena tumbuhan itu hanya menumpang hidup pada batang, dahan, atau ranting pohon lain dan tidak menyerap nutrisi dari pohon yang ditumpangi. Tidak hanya pohon yang masih hidup, mereka pun bisa hidup di pohon yang sudah mati (Purwanti dkk., 2021).
Berdasarkan data lapangan di laporan Destario, habitat anggrek tanpa daun ini banyak ditemukan menempel pada batang pohon kopi tua (Coffea spp.) serta pohon pelindung (Leucaena spp.) di perkebunan kopi setempat, bersama dengan Vanda pumila (Orchidaceae). Secara spesifik, anggrek ini disebut tumbuh di kawasan perkebunan semi-terbuka yang berdekatan dengan hutan.
Kawasan tumbuh kembangnya berada pada ketinggian 700 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan kondisi habitat yang berangin, lembap, serta memiliki intensitas cahaya sedang.
Bentuk tubuh anggrek yang didominasi oleh tumpukanakar yang berwarna serupa batang pohon kerap kali membuat tumbuhan ini mampu berkamuflase dengan sangat baik di alam bebas dan sulit diamati keberadaannya.
Identik dengan Akar Mirip Warna Pohon dan Bunganya yang Kuning

Ciri Khas Anggrek Tanpa Daun Chiloschista tjiasmantoi Metusala, Bunganya Kuning Cerah! | Foto: Destario Metusala, resolusi ditingkatkan menggunakan Gemini
Karakteristik fisik menjadi pembeda utama yang membuat ciri-ciri anggrek tanpa daun ini begitu unik di mata para peneliti. Tumbuhan ini memiliki kuntum bunga berukuran 1 hingga 1,2 cm berwarna kuning cerah dengan kombinasi bintik jingga atau kemerahan.
Dalam satu tangkai yang panjang, Chiloschista tjiasmantoi mampu menghasilkan hingga 30 kuntum bunga yang mekar secara serentak. Pertengahan bulan Juli serta awal bulan November hingga akhir Desember disebut menjadi musim tumbuhan ini berbunga.
Sepanjang daur hidupnya, tumbuhan ini mengalami reduksi organ daun secara ekstrem sehingga hampir tidak pernah dijumpai berdaun. Kalaupun ada, ukurannya pun sedikit, hanya 1 hingga 2 helai saja, dan akan segera gugur dalam waktu singkat, digantikan oleh tumpukan akar fotosintetik berwarna hijau keabuan saat basah dan putih keabuan ketika kering.
Bagaimana Anggrek Tanpa Daun Bisa Tetap Hidup sekalipun Tanpa Daun?
Kawan GNFI barangkali terbiasa memahami bahwa proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau bergantung penuh pada bagian daunnya. Akan tetapi, prinsip tersebut tidak berlaku bagi Chiloschista tjiasmantoi.
Lalu, bagaimana anggrek tanpa daun hidup di alam liar?
Seperti yang sudah disinggung, organ akar pada Chiloschista tjiasmantoi sudah melalui proses evolusi yang panjang hingga bagian akarnya bisa mengambil alih fungsi fotosintesis tersebut.
Keunikan yang Diiringi Ancaman Kepunahan
Di balik pesonanya yang unik, kehadiran tumbuhan anggrek tanpa daun dari Aceh ini menghadapi tantangan besar akibat tekanan lingkungan dan perubahan iklim di dataran tinggi. Sebagian petani kopi kerap mengira tumbuhan ini sebagai parasit dan membersihkannya dari batang pohon kopi mereka, ditambah ancaman perluasan kebun serta perdagangan bebas spesies ini secara daring.
Menariknya, merujuk pada situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup melalui laman Direktorat Jenderal KSDAE, jenis flora unik ini tercatat belum masuk dalam daftar flora yang dilindungi menurut hukum nasional.
Dengan alasan-alasan di atas, dukungan nyata berupa konservasi anggrek Indonesia dan perluasan kawasan lindung dinilai sangat penting untuk digalakkan.
Kawan GNFI juga dapat turut membantu dengan senantiasa memberi perhatian pada spesies anggrek Chiloschista tjiasmantoi ini dan menyebarkan informasi terbaru seputar tumbuhan tersebut agar kesadaran masyarakat terhadap isu ini meningkat dan pemerintah dapat segera membuat kebijakan yang mendukung pelestariannya.
Mari terus tingkatkan kepedulian bersama untuk menjaga kelestarian ragam hayati Nusantara. Kawan GNFI dapat menggali lebih banyak informasi inspiratif seputar alam dan kekayaan Indonesia melalui beragam rubrik edukasi pilihan di Good News From Indonesia!
REFERENSI:
- https://share.google/vkQByKtqckqdkK5m4
- https://www.brin.go.id/press-release/122637/penemuan-spesies-baru-dari-pulau-sumatra-anggrek-akar-tak-berdaun-yang-unik-dan-endemik
- https://pdfs.semanticscholar.org/776b/a79809b8c28801967b47b8ee5817473be60b.pdf
- https://ksdae.kehutanan.go.id/spesies/flora/


