World Cleanup Day 2026 di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, dipenuhi warga yang menikmati Car Free Day minggu lalu. Tampak sekelompok anak muda membawa sarung tangan dan karung. Mereka sesekali berhenti, membungkuk, lalu mengambil botol plastik, bungkus makanan, hingga puntung rokok yang ditemukan di sepanjang jalan.
Mereka tidak hanya berolahraga pagi itu; sebagai bagian dari World Cleanup Day 2026, gerakan internasional ini kembali mengajak Trash Ranger Indonesia sebagai kolaborator untuk mengajak masyarakat hingga anak muda peduli sampah.
Keterlibatan komunitas lingkungan ini memperlihatkan bahwa gerakan anak muda tidak berhenti pada aktivitas memungut sampah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengajak masyarakat mengenali persoalan sampah dari dekat.
World Cleanup Day 2026 di Jakarta
Puncak World Cleanup Day Indonesia 2026 berlangsung pada Minggu, 20 September. Di Jakarta, aksi dimulai dari kawasan Waste Station Rekosistem Dukuh Atas dan bergerak menuju Kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Peserta sudah aksi plogging pukul 07.00 pagi. Dengan konsep plogging, mereka berjalan atau berlari santai sembari memungut sampah yang ditemukan di sepanjang rute.
World Cleanup Day 2026 kali ini sampah yang ditemukan peserta antara lain botol plastik, bungkus makanan, dan puntung rokok. Sampah kemudian dibawa ke titik akhir di Universitas Atma Jaya untuk diproses lebih lanjut.
Aksi tersebut tidak hanya melibatkan komunitas lingkungan. Pemerintah, masyarakat umum, institusi pendidikan, perusahaan pengelola sampah, media, hingga berbagai komunitas ikut mengambil bagian.
Mengutip laman Metro TV melaporkan lebih dari 1.000 relawan mengikuti aksi plogging di kawasan Sudirman-Thamrin. Dari kegiatan tersebut terkumpul 175 kilogram sampah, terdiri atas 117 kilogram residu, 17 kilogram plastik, 4 kilogram sampah organik, dan jenis sampah lainnya.
Angka tersebut menunjukkan satu hal sederhana kepada Kawan GNFI bahwa ruang publik yang terlihat bersih ternyata masih menyimpan persoalan sampah yang cukup nyata dan perlu keberlanjutan menanamkan niat baik ini kepada Kawan GNFI.
Trash Ranger dan Gerakan Anak Muda
Kegiatan menjadi lebih menarik adanya kehadiran Trash Ranger Indonesia. Komunitas ini dikenal telah mendekatkan anak muda dengan masalah lingkungan melalui pendidikan dan aktivitas lapangan.
Sebelumnya, di Tebet Eco Park, Trash Ranger mengadakan Perjalanan Alam Kota pada bulan Juli 2026. Pemungutan sampah dan pengetahuan tentang jenis sampah, jurnal sampah, dan eco enzyme. Di sana mengajak rekan-rekan World Cleanup Day diikuti oleh komunitas lingkungan lainnya.
Keterlibatan Trash Ranger dalam World Cleanup Day 2026 kemudian menjadi bagian dari pola gerakan yang sama: mengajak anak muda tidak hanya mengetahui persoalan lingkungan, tetapi ikut turun tangan.
Founder Trash Ranger Indonesia, Dimas Dwi Pangestu, juga menyampaikan dalam rangkaian WCD Jawa Barat 2026 bahwa Trash Ranger telah berkolaborasi dengan World Cleanup Day sejak awal berdirinya komunitas.
Menurutnya, persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Pesan tersebut menjadi relevan ketika aksi bersih-bersih tidak dipandang sebagai tujuan akhir.
Memungut Sampah Bukan Akhir dari Aksi
Ketua World Cleanup Day Indonesia, Andy Bahari, mengatakan kegiatan bersih-bersih merupakan pintu masuk untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah. Setelah sampah dikumpulkan, masyarakat perlu didorong untuk memilah dan mengolahnya agar memiliki nilai guna.
Sebuah keberhasilan World Cleanup Day tidak hanya dapat dilihat dari jumlah kilogram sampah yang berhasil dikumpulkan. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting untuk mengetahui pada Kawan GNFI tentang apa yang dilakukan setelah sampah tersebut dipungut?
Pertanyaan itu membawa aksi bersih ke persoalan yang lebih besar, yakni kebiasaan masyarakat dalam menghasilkan dan mengelola sampah.
Data indikatif SIPSN berdasarkan pencatatan sebanyak 278 kabupaten/kota pada 2025 menunjukkan sampah terkelola tercatat sekitar 32,9 persen, sedangkan 67,1 persen masuk kategori tidak terkelola. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Dari Aksi Bersih Menjadi Kebiasaan
Direktur Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengapresiasi keterlibatan anak muda dalam aksi plogging di Jakarta. Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam keberlanjutan upaya pengelolaan lingkungan.
Di sinilah peran komunitas seperti Trash Ranger menjadi penting. Anak muda dapat menjadi penghubung antara aksi di lapangan dengan kebiasaan sehari-hari.
Mereka bisa mengajak teman untuk membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, menggunakan kembali barang yang masih layak, hingga memahami ke mana sampah berakhir setelah dibuang.
World Cleanup Day 2026 akhirnya bukan hanya tentang membersihkan Sudirman-Thamrin selama beberapa jam.
Ada botol plastik yang berhasil dipungut. Ada puntung rokok yang tidak lagi tertinggal di trotoar. Ada sampah yang dipilah dan dibawa untuk dikelola. Namun, yang lebih penting adalah orang-orang yang setelah kegiatan tersebut mulai melihat sampah dengan cara berbeda.
Trash Ranger Indonesia, melalui keterlibatannya sebagai kolaborator dan community partner, ikut membawa pesan bahwa kepedulian terhadap sampah tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Bisa dimulai dari satu botol yang dipungut. Dari satu sampah yang dipilah atau dari satu ajakan kepada teman untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Sebab setelah karung sampah ditutup dan kegiatan World Cleanup Day berakhir, persoalan sampah tetap ada. Yang membedakan adalah apakah kepedulian yang muncul pada 20 September 2026 berhenti sebagai kegiatan satu hari, atau berubah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari.


