merangkai cerita di balik batik belajar budaya melalui pengalaman langsung - News | Good News From Indonesia 2026

Merangkai Cerita di Balik Batik: Belajar Budaya Melalui Pengalaman Langsung

Merangkai Cerita di Balik Batik: Belajar Budaya Melalui Pengalaman Langsung
images info

Incoming Global Volunteer (IGV) AIESEC in UIN Jakarta kembali menghadirkan pengalaman cultural exchange melalui kegiatan Palbatu's Journey


Pada 13 Agustus 2026 Perjalanan Incoming Global Volunteer (iGV) AIESEC in UIN Jakarta kembali menghadirkan pengalaman cultural exchange melalui kegiatan Palbatu’s Journey di Rumah Batik Palbatu. Kegiatan ini mengajak para Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) untuk mengenal batik bukan hanya sebagai kain dengan beragam motif, tetapi sebagai bagian dari identitas, sejarah, dan cerita budaya Indonesia.

Kegiatan dimulai melalui sesi “Batik? Let’s Talk About It!” yang mengajak peserta berbagi pengetahuan awal mengenai batik. Pertanyaan sederhana mengenai apakah peserta pernah melihat atau menggunakan batik menjadi pembuka untuk melihat sejauh mana budaya tersebut telah dikenal oleh peserta yang berasal dari latar belakang berbeda.

Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui sesi “Threads of Identity: Discovering Indonesian Batik.” Peserta diperkenalkan pada pengertian dan sejarah batik, keberagaman motif, hingga makna yang dapat ditemukan di balik pola-pola batik. Batik juga dibahas dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, identitas budaya, serta bagaimana generasi muda dapat berperan dalam menjaga keberlangsungannya di tengah perkembangan zaman.

Bagi EPs, pembelajaran tersebut memberikan kesempatan untuk melihat batik dari perspektif yang lebih luas. Batik tidak hanya menjadi produk yang dikenakan dalam kesempatan tertentu, tetapi memiliki cerita yang berkaitan dengan masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi dasar sebelum peserta mencoba membuat batik secara langsung.

baca juga

“Ketika kita berbicara tentang batik, yang kita pelajari sebenarnya bukan hanya teknik membuat sebuah kain bermotif. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, dan cerita yang membuat batik memiliki nilai lebih bagi masyarakat Indonesia,” ujar Islami, salah satu Peserta.

Setelah mendapatkan pengenalan mengenai batik, peserta mengikuti sesi “From Culture to Creation.” Dalam kegiatan praktik tersebut, EPs dan LVs mencoba membuat batik pada kain berukuran 30 × 30 sentimeter menggunakan kuas, malam dingin, dan media pendukung yang telah disediakan. Pengalaman membuat batik secara langsung memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami bahwa proses menghasilkan sebuah motif membutuhkan ketelitian, kreativitas, dan kesabaran.

Pengalaman praktik kemudian menjadi bahan refleksi dalam sesi “Stories Behind the Strokes.” Peserta membagikan kesulitan yang mereka alami, bagian yang paling menarik, serta motif yang mereka sukai. Menariknya, diskusi juga mengarah pada perbandingan dengan bentuk warisan budaya dari negara atau daerah asal peserta, seperti tenun, ikat, songket, maupun seni tradisional lainnya.

Pertukaran tersebut memperlihatkan bahwa meskipun setiap wilayah memiliki bentuk dan karakter budaya yang berbeda, terdapat kesamaan dalam cara masyarakat menjaga warisan yang mereka miliki. EPs tidak hanya belajar mengenai batik Indonesia, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan budaya dari tempat asal mereka.

baca juga

Setelah waktu istirahat, kegiatan berlanjut melalui “Walking Through Batik Heritage.” Peserta diajak melihat berbagai koleksi batik sekaligus mendengarkan cerita mengenai motif dan warisan budaya yang ada di dalamnya. Eksplorasi tersebut memberikan konteks yang lebih luas setelah sebelumnya peserta mendapatkan pengalaman membuat batik sendiri.

“Menariknya, setiap peserta membawa warisan budaya dari tempat asal masing-masing. Ketika cerita tentang batik dipertemukan dengan cerita tentang tenun, ikat, atau kain tradisional lainnya, kita bisa melihat bahwa perbedaan budaya juga dapat menjadi ruang untuk menemukan kesamaan,” ungkap faizan, salah satu peserta.

Suasana pembelajaran kemudian dibuat lebih interaktif melalui permainan “Two Truths One Lie: Truth, Twist & Tradition.” Peserta diajak menguji pengetahuan mereka mengenai berbagai fakta budaya. Aktivitas tersebut menjadi ruang untuk memperkuat interaksi sekaligus membuat proses mengenal budaya berlangsung secara lebih ringan dan menyenangkan.

baca juga

Menjelang akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi “Beyond Batik: Connections That Last.” Dalam sesi berbagi tersebut, mereka merefleksikan pengalaman yang telah diperoleh dan membicarakan bagaimana pengalaman mengenai batik dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka selama berada di Indonesia.

Melalui Palbatu’s Journey, batik menjadi lebih dari sekadar objek budaya yang diamati. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk mendengar ceritanya, mempelajari maknanya, mencoba proses pembuatannya, hingga membandingkannya dengan warisan budaya yang mereka kenal dari tempat asal masing-masing.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk cultural exchange dalam rangkaian Incoming Global Volunteer AIESEC in UIN Jakarta. Ketika budaya dipelajari melalui pengalaman langsung dan dibagikan bersama orang-orang dari latar belakang yang berbeda, sebuah warisan budaya tidak hanya dipahami sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun koneksi dan cerita baru di antara para peserta.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.