Di balik setiap sesi kelas yang terlihat singkat dan sederhana, ternyata tersimpan perhitungan waktu yang jauh lebih ketat dari yang dibayangkan. Selama sebulan penuh, sejak 27 Juli hingga 21 Agustus 2026, AIESEC in UNILA dan Lumisea harus berpacu dengan jadwal padat demi memastikan satu pesan penting benar-benar sampai ke setiap anak di Wellrise School Bandar Lampung, yaitu bumi ini butuh dijaga, dan mereka semua punya peran di dalamnya.
Bayangkan harus memindahkan semangat dan materi yang sama ke empat kelas berbeda, hanya dalam waktu 30 menit per kelas, dalam satu hari yang sama. Itulah yang dilakukan Lumisea pada Class Visit pertama di Week 1, tepatnya 27 Juli 2026, dimulai pukul 09.35 hingga 12.15, mengunjungi kelas P4A, P4B, P5B, dan P5A. Tiga hari kemudian, pada 30 Juli, ritme yang sama kembali diulang dari pukul 09.10 hingga 12.45, kali ini menyapa kelas P6 serta Sec 1, 2, dan 3, dengan jeda istirahat singkat di antara jam 11.10 hingga 12.15.
Di balik jadwal yang terlihat teknis ini, ada satu tujuan besar yang sedang dibangun pelan-pelan, memperkenalkan konsep perubahan iklim dan efek rumah kaca kepada anak-anak yang mungkin baru pertama kali mendengarnya secara langsung dari seseorang yang benar-benar peduli.
Perjalanan itu tidak berhenti di satu sesi. Pada Week 2, tanggal 3 dan 6 Agustus, materi berlanjut ke konsep 3Rs, Reduce, Reuse, Recycle, lengkap dengan contoh sehari-hari yang membuat anak-anak mulai mengaitkan pelajaran dengan kebiasaan mereka sendiri di rumah. Uniknya, semangat ini tidak hanya datang dari EP, tapi juga dari Local Volunteer yang ikut turun langsung ke lapangan.
"Ketika kami datang mengajar, mereka begitu antusias bertemu dengan Lumi dan kami. Mereka banyak bercerita tentang rasa senang mereka. Selain itu, mereka juga punya kontribusi yang baik dalam memberikan solusi atas isu-isu lingkungan dan bisa memberi contoh solusinya sendiri," ungkap salah satu Local Volunteer yang terlibat dalam sesi tersebut.
Memasuki Week 3, pada 10 dan 13 Agustus, tantangan justru datang dari sisi lain, seperti bagaimana membahas Kampanye Lingkungan tanpa terjebak dalam nuansa kaku dan formal, namun tetap menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak. Di sinilah kerja keras tim benar-benar diuji, memastikan setiap kelas tetap fokus pada aksi nyata seperti mengatasi sampah plastik, kebiasaan membuang sampah sembarangan, hingga pemborosan listrik, tanpa kehilangan sisi ceria yang membuat anak-anak betah belajar.
Semua rangkaian usaha itu akhirnya bermuara pada dua momen penutup yang saling melengkapi. Pada Week 4, siswa diberi ruang untuk melanjutkan presentasi solusi kelompok mereka sekaligus merefleksikan apa yang telah dipelajari selama sebulan penuh, ditutup dengan sesi apresiasi, foto bersama, dan secarik kertas berisi pesan serta motivasi dari siswa untuk tim EP.
Lalu pada 21 Agustus, seluruh proses itu resmi berakhir lewat Farewell Session di aula Wellrise School Bandar Lampung, saat semua kelas yang sebelumnya terpisah akhirnya berkumpul dalam satu ruangan yang sama untuk berpamitan. Sepanjang perjalanan ini, satu hal selalu konsisten disampaikan oleh tim yang terlibat langsung di lapangan.
"Anak-anaknya benar-benar aktif dan terlihat antusias begitu melihat EP datang. Mereka bukan tipe yang diam saja saat ditanya, mereka justru punya banyak hal untuk dibicarakan dan dipelajari," ujar Taza. Sementara itu, Lumi menambahkan, "Ada yang ngobrol dengan lancar dan benar-benar paham topik yang sedang dibahas, itu luar biasa untuk usia mereka. Guru-gurunya juga sangat terbuka dan selalu membantu ketika saya butuh bantuan di lapangan."
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


