Dengan masa depan yang penuh kemungkinan, muncul dua pilihan: menunggu tantangan datang atau justru mencari tantangan itu sendiri?
Pertanyaan ini datang dari Firyal Naj’la Chalih atau yang akrab disapa Firyal, seorang mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Sebelas Maret, yang kerap kali menunggu tantangan itu datang dengan sendirinya.
Namun, dengan satu titik ini, perspektifnya mulai berubah, yaitu melalui AIESEC Global Volunteer.
Bermula dari rasa penasaran yang datang sejak masih menjadi mahasiswa tingkat awal, Firyal mulai tertarik dengan salah satu kesempatan global yang ditawarkan oleh AIESEC.

Tim B LEON Project bersama anggota AIESEC in SGU di Uijeongbu English Library (Sumber: Dokumentasi Pribadi Firyal Naj’la Chalih)
Namun, keraguan bahwa dirinya masih belum cukup baik membuatnya belum berani untuk mencobanya saat itu.
Seiring waktu berlalu pun tidak serta-merta membuatnya merasa siap. Namun, setelah melalui banyak pergulatan, Firyal memutuskan untuk memberanikan diri menghadapi ketakutan yang selama ini ada dalam dirinya. Sebagaimana salah satu kutipan yang sekarang menjadi favoritnya, yaitu “You Only Live Once”.
Ketertarikan akan kegiatan belajar dan mengajar mendorongnya untuk mencoba mengimplementasikan tujuan ke-4 dari Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Quality Education, melalui Global Classroom.
Salah satu programnya, yaitu LEON (Language Education Over Nation), menjadi ruang bagi Firyal untuk mulai menghadapi tantangan yang dicarinya.
LEON Project merupakan sebuah program yang memberikan kesempatan bagi para relawan untuk mengajar bahasa Inggris sekaligus mengenalkan kebudayaan kepada anak-anak lokal Korea Selatan.
Program ini dihimpun oleh AIESEC in SGU (Sogang University) yang berkolaborasi dengan beberapa perpustakaan dalam membuka kelas musim panas.

Mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di Mapo Children English Library (Sumber: Dokumentasi Pribadi Firyal Naj’la Chalih)
Dalam pelaksanaannya, Firyal berkolaborasi dengan beberapa relawan global dari Malaysia, Taiwan, China, dan Polandia. Mereka berlima tergabung dalam Tim B yang dijadwalkan untuk mengajar di Mapo Children English Library di Seoul dan Uijeongbu English Library di Provinsi Gyeonggi.
Komunikasi dan kerja sama antaranggota tim dengan perbedaan latar belakang menjadi proses yang unik, di mana mereka harus menghasilkan sebuah luaran dengan kesamaan perspektif dan tujuan yang ingin dicapai.
Bertemu dan memberikan sesuatu yang berdampak kepada anak-anak bukanlah sesuatu yang sederhana.
Perbedaan bahasa menjadi suatu halangan yang cukup menantang. Karena itu, diperlukan penyesuaian metode pembelajaran agar lebih dapat dinikmati oleh anak-anak.
Belajar sambil bermain (play-based learning) menjadi metode pembelajaran yang diterapkan untuk memastikan implementasi kegiatan tetap interaktif dan inklusif.
Selain pembelajaran bahasa Inggris, kelas pun diselingi dengan pengenalan budaya melalui kegiatan yang interaktif, seperti storytelling, truth or false, hunting game, dan sebagainya.
Di sini Firyal berkesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia, seperti bendera nasional, makanan tradisional, rumah adat, hingga fakta-fakta unik lainnya.
Di luar kegiatan mengajar, Firyal juga mendapat kesempatan untuk mengenal dan beradaptasi dengan kehidupan di Korea Selatan.
Sebagai pengalaman pertamanya mengunjungi negara tersebut, ia mempelajari berbagai kebiasaan lokal, mulai dari memilah sampah, menggunakan transportasi umum, hingga memahami budaya ketepatan waktu.

Relawan LEON Project dan anggota AIESEC in SGU saat Kegiatan Seoul Tour (Sumber: Dokumentasi Pribadi Firyal Naj’la Chalih)
Di sela-sela kegiatan, Firyal dan relawan lainnya turut mengeksplorasi Korea Selatan melalui kunjungan ke berbagai destinasi, mencicipi hidangan tradisional, serta mencoba pengalaman baru.
Salah satunya melalui kegiatan Seoul Tour yang diadakan oleh AIESEC in SGU. Selain berkeliling Seoul, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi para relawan untuk saling berbagi cerita dan budaya sekaligus mempererat kebersamaan.
Melalui program tersebut, Firyal tidak hanya mengenal nilai-nilai budaya Korea Selatan saja, tetapi juga memperoleh eksposur budaya dari negara lain.
Relawan yang tergabung dalam LEON Project tinggal dalam lingkup yang sama selama enam minggu.
Secara langsung maupun tidak, mereka bertukar dan belajar untuk memahami berbagai budaya dari Indonesia, Malaysia, Taiwan, China, Polandia, Türkiye, dan Yunani.
Selain itu, terdapat juga wadah untuk melakukan pertukaran budaya melalui Global Village di mana relawan global dari berbagai Local Committee di Korea Selatan berkumpul, termasuk relawan dari Indonesia.
Global Village menjadi ruang untuk merasakan pengalaman budaya, sekaligus kesempatan untuk memperluas koneksi dan wawasan.
Bagi Firyal, tinggal di negara asing, melakukan edukasi bahasa Inggris kepada anak-anak lokal, serta beradaptasi dengan lingkungan dan sosial baru merupakan suatu pengalaman yang membekas.
Selama kegiatan edukasi berlangsung, timbul rasa bangga tersendiri saat anak-anak aktif, menikmati kelas, dan dapat memahami materi yang disampaikan. Hal ini dapat menjadi langkah kecil bagi mereka untuk mulai mengenal bahasa internasional dan kebudayaan luar.
Menurut Firyal, kegiatan tersebut tidak hanya berdampak bagi anak-anak, namun juga bagi dirinya sendiri dimana ia dapat memetik nilai dari semangat belajar dan pola pandang mereka..
Seiring berjalannya waktu, ia menemukan berbagai rintangan sekaligus moral yang dapat dipelajari.
Ia menyadari bahwa keberanian untuk mencari tantangan dan keluar dari zona nyaman sungguh memperluas cara pandangnya dari berbagai sudut, mulai dari lingkup yang kecil hingga besar, sampai merasakan pengembangan dirinya dari berbagai aspek.
Penulis: Firyal Naj’la Chalih


