Pengalaman mengenal sebuah kota tidak selalu harus dimulai dari destinasi wisata yang populer. Hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dirasakan para Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dalam rangkaian Incoming Global Volunteer (IGV) AIESEC in UIN Jakarta melalui kegiatan Urban City Quest pada 30 Juli 2026. Berlangsung di kawasan Glodok dan sekitarnya, kegiatan ini mengajak peserta mengenal Jakarta melalui kuliner, ruang publik, aktivitas perdagangan, serta interaksi langsung dengan masyarakat lokal.
Sejak awal kegiatan, peserta diarahkan untuk melihat lingkungan sekitar dengan sudut pandang yang lebih terbuka. Kawasan yang mereka kunjungi tidak hanya diposisikan sebagai tempat untuk mengambil dokumentasi, tetapi sebagai ruang yang memiliki cerita dan aktivitas masyarakat di dalamnya. Bagi EPs yang berasal dari berbagai negara, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan perkotaan Jakarta melalui pengalaman langsung.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah “Temple Whisper: Secrets of the Old Walls” di Klenteng Dharma Bakti atau Toasebio. Dalam sesi tersebut, peserta mengeksplorasi kawasan klenteng dan mencari jawaban dari sejumlah pertanyaan dengan berinteraksi bersama pemandu maupun pihak di lokasi. Aktivitas ini memberikan kesempatan bagi EPs untuk memahami salah satu bagian dari keberagaman budaya yang dapat ditemukan di Jakarta.
Eksplorasi kemudian berlanjut melalui “Color Hunt: 50 Shots of New Memories.” Peserta diajak mengamati berbagai objek di sekitar Glodok dan mendokumentasikan lingkungan berdasarkan kategori warna tertentu. Bangunan, makanan, hingga hewan menjadi bagian dari objek yang mereka temukan. Melalui aktivitas ini, peserta belajar memperhatikan detail lingkungan yang mungkin tidak langsung terlihat ketika hanya melewati suatu kawasan.
Pengalaman tersebut kemudian semakin dekat dengan kehidupan masyarakat melalui sesi “UMKM Bites: Chat, Chew & Capture.” Para peserta berbincang dengan pelaku usaha makanan mengenai aktivitas berjualan dan kehidupan sehari-hari mereka. Bagi EPs, percakapan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana usaha kecil menjadi bagian dari dinamika ekonomi sekaligus pengalaman wisata di sebuah kawasan.
“Kuliner dan aktivitas perdagangan sebenarnya bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah budaya. Dari makanan yang dijual hingga cerita orang yang menjalankan usahanya, kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat berjalan sehari-hari,” ujar Rahma, salah satu pembicara.
Setelah berinteraksi dengan masyarakat lokal, peserta diajak melihat kawasan tersebut melalui perspektif pariwisata berkelanjutan dalam sesi “Heritage Mapping: Spot the Gaps & Glows.” Kelompok mengidentifikasi berbagai kekuatan, kekurangan, serta peluang yang dapat dikembangkan dari kawasan yang mereka eksplorasi. Proses tersebut mendorong peserta untuk tidak hanya menikmati pengalaman sebagai pengunjung, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sebuah destinasi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Pada sesi berikutnya, peserta kembali mengeksplorasi sisi lain kawasan melalui “Jajan Time.” Mereka mencari berbagai makanan ringan, suvenir, dan produk lokal yang tersedia di sekitar pasar. Setelah itu, melalui “Stories Behind the Market,” setiap kelompok berbagi cerita mengenai hal-hal yang mereka temukan selama eksplorasi. Perbedaan respons dari peserta menjadi bagian menarik dari pertukaran perspektif, karena satu produk atau kebiasaan lokal dapat memiliki kesan yang berbeda bagi seseorang yang berasal dari budaya lain.
“Ketika seseorang datang dari negara yang berbeda, hal-hal sederhana seperti makanan, cara berdagang, atau suasana pasar bisa menjadi pengalaman budaya yang baru. Dari sana muncul kesempatan untuk saling bertanya, membandingkan pengalaman, dan memahami bahwa setiap tempat memiliki karakter yang berbeda,” ungkap Adam, salah satu pembicara.

Menjelang akhir kegiatan, peserta mengumpulkan berbagai dokumentasi yang telah dibuat sepanjang perjalanan. Mereka kemudian menentukan foto dan cerita yang akan dibagikan melalui media sosial serta membuat konten mengenai salah satu tempat atau UMKM yang mereka temukan. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh selama eksplorasi tidak berhenti pada peserta, tetapi juga dapat menjadi cara untuk memperkenalkan sisi lokal Jakarta kepada audiens yang lebih luas.
Urban City Quest memperlihatkan bahwa ruang publik, pasar, dan kuliner dapat menjadi bagian penting dari pengalaman cultural exchange. Ketika EPs berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengamati kehidupan lokal, mereka tidak hanya menjadi wisatawan yang melihat suatu tempat, tetapi juga pembelajar yang mencoba memahami cerita di baliknya.
Melalui kegiatan ini, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan pengalaman Incoming Global Volunteer yang mempertemukan perspektif internasional dengan kehidupan lokal. Dari sebuah makanan, percakapan bersama pedagang, hingga suasana pasar, Jakarta memberikan ruang bagi para peserta untuk menemukan bahwa pertukaran budaya dapat tumbuh dari pengalaman sehari-hari yang sederhana namun bermakna.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


