Pada 6 Agustus 2026 Rangkaian Incoming Global Volunteer (IGV) AIESEC in UIN Jakarta kembali mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan masyarakat lokal melalui kegiatan Community Growth Lab: Digital Branding Promotion & Photography di Pokdarwis Situpam.
Aktivitas ini menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai bagaimana potensi lokal dapat dikenalkan secara lebih luas melalui kreativitas digital, tanpa mengesampingkan cerita dan karakter yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Kegiatan diawali dengan berbagai pembuka yang mempertemukan EPs dan LVs sebelum peserta memasuki sesi utama. Setelah itu, peserta mengikuti “Stories Behind the Sales”, yaitu sesi ketika mereka duduk bersama para penerima manfaat untuk mendengarkan cerita mengenai pengalaman menjual dan mempromosikan produk, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut.
Bagi para EPs, sesi tersebut menjadi kesempatan untuk memahami kondisi masyarakat dari pengalaman mereka secara langsung.
Tantangan dalam mengembangkan potensi wisata atau produk lokal tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk. Namun, juga bagaimana masyarakat dapat memperkenalkan apa yang mereka miliki kepada masyarakat yang lebih luas.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui sesi “Introduction to Sustainable Tourism.” Peserta diajak memahami konsep pariwisata berkelanjutan dengan cara yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pembahasan juga mengarahkan peserta untuk melihat bagaimana langkah-langkah kecil, seperti pengelolaan sampah, penggunaan kemasan daur ulang, maupun pengembangan daya tarik lokal, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan suatu destinasi.
Selanjutnya, peserta bersama masyarakat mengidentifikasi berbagai Unique Selling Points (USP) yang dimiliki Situpam.
Berbagai potensi seperti aktivitas masyarakat, UMKM, makanan, alam, budaya, keramahan, cerita sejarah, hingga tempat-tempat yang belum banyak dikenal dibahas untuk melihat bagaimana keunikan tersebut dapat diterjemahkan menjadi materi foto dan video.
“Setiap daerah memiliki cerita dan keunikan yang bisa menjadi daya tarik. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat dapat menyampaikan cerita tersebut dengan cara yang mudah dipahami dan menarik bagi orang lain tanpa kehilangan identitas lokalnya,” ujar Putri, salah satu peserta.
Setelah mengenali potensi yang ada, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai smartphone photography. Mereka diperkenalkan pada beberapa prinsip dasar pengambilan gambar, seperti memanfaatkan pencahayaan, memastikan lensa bersih, dan menghindari penggunaan digital zoom.
Peserta kemudian mencoba mempraktikkan cara membuat foto produk maupun destinasi terlihat lebih menarik hanya dengan menggunakan perangkat yang mereka miliki.
Pembelajaran berlanjut pada sesi “Social Media Branding”, ketika peserta dikenalkan dengan cara menyusun caption dan merancang konten untuk media sosial.
Materi tersebut kemudian dipraktikkan melalui sesi “Snap It Beautifully” dan “Catchy Caption Corner.” Peserta tidak hanya belajar membuat dokumentasi visual. Namun, juga memahami bagaimana foto, tulisan, dan konsistensi publikasi dapat digunakan untuk memperkenalkan sebuah potensi wisata.
Pada sesi “Lights, Camera, Promote!”, peserta bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan sejumlah foto dan caption mengenai potensi lokal yang telah mereka temukan.
Kemudian melalui “Capture the Village Vibes,” mereka mengikuti tantangan fotografi dengan kategori seperti keberlanjutan, kebahagiaan, kerja sama, budaya lokal, dan hidden gem. Aktivitas tersebut mendorong peserta untuk melihat lingkungan sekitar melalui perspektif yang lebih kreatif.
“Teknologi digital dapat menjadi alat untuk memperluas cerita masyarakat lokal. Namun, yang paling penting bukan hanya bagaimana membuat konten yang menarik, melainkan bagaimana konten tersebut tetap membawa cerita dan nilai yang dimiliki oleh komunitas,” ungkap Salma, salah satu peserta.

Bagi EPs, pengalaman di Pokdarwis Situpam memberikan pembelajaran yang berbeda dari sekadar mengenal sebuah destinasi sebagai wisatawan.
Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki sekaligus menghadapi tantangan dalam memperkenalkannya kepada publik.
Melalui Community Growth Lab, pertukaran perspektif juga terjadi dalam proses belajar bersama. Para peserta membawa pengalaman dan sudut pandang dari latar belakang masing-masing, sementara masyarakat lokal memberikan pengetahuan mengenai kondisi dan potensi yang mereka miliki.
Pertemuan keduanya menciptakan ruang untuk saling belajar mengenai pariwisata, kreativitas, dan pemberdayaan komunitas.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa cultural exchange dalam Incoming Global Volunteer dapat berlangsung melalui proses yang sederhana namun nyata. Dari cerita para pelaku lokal, eksplorasi potensi desa, hingga praktik membuat konten digital, EPs tidak hanya belajar mengenai Indonesia. Namun, juga memahami bagaimana masyarakat lokal berusaha membangun dan memperkenalkan potensi mereka melalui cara yang relevan dengan perkembangan zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


