bermain belajar dan praktek langsung di jelajah edukasi sahabat gizi pesisir bersama jejak seribu dan sahabat gizi di pulau tidung - News | Good News From Indonesia 2026

Bermain, Belajar, dan Praktek Langsung di Jelajah Edukasi Sahabat Gizi Pesisir bersama Jejak Seribu dan Sahabat Gizi di Pulau Tidung

Bermain, Belajar, dan Praktek Langsung di Jelajah Edukasi Sahabat Gizi Pesisir bersama Jejak Seribu dan Sahabat Gizi di Pulau Tidung
images info

Aksi Menanam Mangrove di Pulau Tidung bersama Jejak Seribu dan Sahabat Gizi | Dok. Sahabat Gizi


Pada Sabtu, 19 September 2026, komunitas Jejak Seribu mengadakan trip edukasi ke pulau Tidung. Jika biasanya topik utamanya tentang literasi dan edukasi konservasi, pada program ini mereka bersama Sahabat Gizi, komunitas edukasi gizi seimbang, mengangkat fokus yang baru! Penasaran bagaimana ceritanya? Yuk simak sampai selesai!

Lewat program “Jelajah Edukasi Sahabat Gizi Pesisir”, aktivitas kali ini berlangsung selama dua hari. Agenda utamanya berlangsung di RPTRA Tidung Ceria. Acara dibuka dengan mendengarkan dongeng tentang pentingnya makan makanan bergizi yang dibacakan oleh Raisa Nasyita, perwakilan Jejak Seribu.

Setelah belajar sedikit tentang pentingnya menjaga pola makan, di sesi kedua, anak-anak Pulau Tidung diajak untuk mewarnai kipas dan bermain ular tangga didampingi oleh volunteer dari Sahabat Gizi dan Sahabat Jejak seribu.

Anak-anak Pulau Tidung mewarnai kipas bersama Sahabat Gizi | Dok. Jejak Seribu 
info gambar

Anak-anak Pulau Tidung mewarnai kipas bersama Sahabat Gizi | Dok. Jejak Seribu 


Lewat mewarnai kipas, mereka belajar makanan apa saja yang kaya gizi. Lewat permainan ular tangga, mereka belajar tentang dampak baik dan buruknya menjaga pola makan dan hidup sehat. Sementara anak-anak bermain di pinggir pantai, para ibu juga diajak sharing tentang peran penting makanan sehari-hari dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang.

baca juga

Ssesi ini makin interaktif dengan adanya lokakarya memasak sempol ikan yang kaya akan gizi dan tidak rumit cara membuatnya.

“Dalam praktik ini kami mencoba membuat pangan lokal dan kudapan MPASI dari ikan tongkol. Di tengah suasana tersebut, edukasi seperti ini sangat inklusif karena partisipan diajak untuk terlibat mencoba dan bermain, bukan sekedar mengikuti pelajaran di kelas” ujar Anugrah Novianti, co-founder dari Sahabat Gizi.

Mengenal Olahan Khas Pulau Seribu dan Filosofinya

Selepas mengedukasi tentang gizi, di malam harinya para volunteer diajak untuk mengenal lebih jauh tentang makanan olahan khas pulau Tidung dan juga hasil ikan tangkapan. Bukan hanya mencicipi, tetapi mereka juga diajak untuk kenal dengan filosofinya.

Seperti salah satunya ada puk cue, olahan khas Kepulauan Seribu seperti cireng tapi dengan campuran ikan tongkol yang disajikan bersama bumbu kacang.

baca juga

Peserta Edukasi Gizi di RPTRA Tidung Ceria | Dok. Jejak Seribu
info gambar

Peserta Edukasi Gizi di RPTRA Tidung Ceria | Dok. Jejak Seribu


Ada juga kue janda mengandang. Olahan dari tepung beras, sagu, dan ampas kelapa. Penamaannya sendiri karena dahulu makanan ini diperuntukkan untuk bekal untuk suami yang melaut dari istrinya.

“Dahulu sering kali suami yang melaut tanpa memberi kepastian kapan pulangnya, yang secara tidak langsung membuat istrinya di rumah seperti janda. Mengandang sendiri punya artian yaitu menjaga kandang (rumahnya).” Ujar Andi Hakim, founder dari Jejak Seribu.

Lebih Dekat dengan Ekosistem Laut

Setelah serangkaian program tentang gizi dan olahan lokal, di hari keduanya para volunteer diajak untuk lebih dekat dengan ekosistem laut. Diawali dengan bersepeda bersama dari barat pulau menuju Jembatan Cinta.

Kemudian, mereka berjalan menuju Pulau Tidung Kecil sambil mempelajari ekosistem tanaman di sana hingga mangrove. Barulah puncaknya aksi menanam seribu bibit mangrove.

baca juga

Selain menanam, para volunteer dari Sahabat Gizi dan Sahabat Jejak Seribu diajak untuk lebih mengenal pertumbuhan dari mangrove. Salah satunya mengenali tanda tanaman siap tanam dan posisi menanam ideal agar tidak terlalu tenggelam di laut.

Di agenda penutup, saat freetime seluruh partisipan menghabiskan waktu berenang di area pantai. Menariknya walau saat itu laut sedang cukup surut dan terdapat banyak hewan laut kecil yang diduga salp. Justru ini menjadi pengalaman baru tersendiri.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.