AIESEC in UNEJ memulai rangkaian Teaching Day melalui kegiatan English Day di MI Ar-Roudhoh pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Global Classroom yang menghadirkan pengalaman belajar lintas budaya bersama Exchange Participant (EP) asal Turki, Sumeyye.
Melalui aktivitas bahasa Inggris yang menyenangkan, siswa diajak mengenal bahasa sebagai sarana komunikasi sehari-hari, bukan hanya materi yang dipelajari di kelas.
Aktivitas ini juga dirancang agar siswa dapat terlibat langsung dan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran rutin.
English Day berfokus pada pengenalan present continuous tense dan kosakata benda-benda di ruang kelas. Siswa diperkenalkan pada pola kalimat sederhana menggunakan kata kerja berakhiran -ing untuk menjelaskan aktivitas yang sedang berlangsung.
Materi disampaikan melalui contoh yang dekat dengan keseharian agar siswa dapat memahami penggunaan kalimat sekaligus mencoba mengucapkannya.
Dengan demikian, pembelajaran diharapkan terasa lebih mudah dipahami dan relevan dengan lingkungan sekolah.
Penggunaan contoh sederhana membantu siswa melihat hubungan antara aturan bahasa dan situasi yang mereka temui setiap hari.
Selain mempelajari pola kalimat, siswa diajak mengenali nama benda di kelas melalui latihan interaktif. Mereka menghubungkan kosakata bahasa Inggris dengan benda yang dijumpai di sekitar, lalu mencoba menggunakannya dalam kalimat sederhana
Aktivitas ini memberi kesempatan kepada siswa untuk mengamati, menjawab pertanyaan, dan berlatih bersama fasilitator.
Pendekatan praktik langsung juga membantu menciptakan suasana belajar yang aktif dan memberi ruang bagi siswa untuk mencoba tanpa takut melakukan kesalahan.
Siswa pun dapat berlatih secara bertahap, mulai dari mengenali kata hingga menyusun ungkapan singkat.
Kehadiran Sumeyye sebagai EP asal Turki turut memperkenalkan siswa pada interaksi dengan seseorang dari latar belakang budaya berbeda. Melalui program bersama, siswa memperoleh kesempatan mendengar penggunaan bahasa Inggris dan mempraktikkan komunikasi sederhana.
Interaksi ini sekaligus menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan orang dari negara lain. English Day menjadi bagian dari kolaborasi AIESEC in UNEJ dengan pihak sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai kebutuhan siswa.
Rangkaian Teaching Day akan berlanjut melalui kegiatan berikutnya dengan materi yang disesuaikan dengan kondisi kelas.

Nuril Islamiyah, Team Member of Ad-Hoc Project, Incoming Global Volunteer, AIESEC in UNEJ, menyampaikan bahwa aktivitas yang dekat dengan keseharian siswa dapat membantu mereka memahami materi bahasa Inggris.
Praktik langsung juga memberi ruang untuk mencoba kosakata baru dan membangun keberanian menggunakan bahasa dalam situasi sederhana.
Menurutnya, pembelajaran yang dikemas secara menyenangkan dapat membuat siswa lebih terlibat dalam proses belajar serta membantu mereka mengingat materi melalui pengalaman langsung.
“Melalui English Day, kami ingin siswa tidak hanya menghafal kosakata atau pola kalimat, tetapi juga mencoba menggunakannya. Aktivitas yang menyenangkan memberi mereka ruang untuk berlatih, bertanya, dan membangun kepercayaan diri secara bertahap. Kami berharap pengalaman ini membuat mereka semakin tertarik belajar bahasa Inggris dan lebih berani mempraktikkannya di kelas,” ujarnya.
Selaras dengan hal itu, Nabilah Shifa Khairunisa, Local Head of Incoming Global Volunteer, AIESEC In UNEJ, menekankan pentingnya merancang kegiatan lintas budaya dengan memperhatikan tujuan pendidikan dan kebutuhan siswa.
Keterlibatan EP asal Turki menjadi kesempatan untuk memperluas interaksi siswa, sekaligus membangun kolaborasi antara tim Global Classroom dan pihak sekolah.
Persiapan serta koordinasi yang baik diperlukan agar kegiatan tetap relevan dengan kebutuhan pembelajaran dan tujuan yang telah disepakati bersama.
“Global Classroom menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bahasa sekaligus mengenal perspektif yang lebih luas melalui interaksi lintas budaya. Kami berharap English Day dapat menjadi pengalaman positif bagi siswa, EP, dan seluruh pihak yang terlibat. Kolaborasi ini juga diharapkan terus dikembangkan agar kegiatan berikutnya semakin sesuai dengan kebutuhan siswa dan mendukung lingkungan belajar yang terbuka terhadap keberagaman,” ujarnya.


