AIESEC in UIN Jakarta mengajak Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) memahami bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari pariwisata berkelanjutan melalui kegiatan Keranggan Growth Lab: Sustainable Tourism Strategy & Local Branding. Berlangsung di kawasan Ekowisata Keranggan, kegiatan ini memadukan pengenalan konsep, eksplorasi lingkungan, diskusi, dan praktik penyusunan strategi sederhana yang dapat diterapkan pada potensi wisata maupun usaha lokal.
Peserta terlebih dahulu diajak mengenal lingkungan sekitar melalui eksplorasi kawasan. Pengalaman tersebut menjadi pengantar sebelum mereka memperoleh pemahaman mengenai prinsip pariwisata berkelanjutan dan bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan dalam konteks kehidupan masyarakat.
Dalam sesi From Vision to Strategy, peserta diperkenalkan pada cara melihat potensi lokal sebagai bagian dari aktivitas pariwisata. Kuliner rumahan, kerajinan, maupun aktivitas keseharian masyarakat dapat memiliki nilai bagi wisatawan apabila dikelola dengan tepat. Pembahasan juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan potensi dengan keberlanjutan lingkungan dan budaya setempat.
Pembelajaran kemudian berlanjut pada konsep local branding. Peserta diajak memahami bahwa sebuah produk membutuhkan identitas agar lebih mudah dikenali dan memiliki nilai yang lebih kuat di mata konsumen. Nama, karakteristik, cerita, hingga tampilan visual menjadi beberapa unsur yang dapat membangun identitas suatu produk.

โDari sesi ini saya belajar bahwa branding bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat bagus. Cerita dan ciri khas dari sebuah produk juga bisa membuat orang lebih mudah mengingatnya,โ ujar Davin, salah satu peserta kegiatan.
Konsep tersebut kemudian dihubungkan dengan pariwisata melalui sesi Connecting Tourism & Local Products. Peserta mempelajari bahwa produk lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata, misalnya melalui makanan tradisional, oleh-oleh khas, maupun aktivitas yang memperkenalkan kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian, pengembangan produk dan pengembangan destinasi dapat saling mendukung.
Setelah memperoleh pembekalan, peserta memasuki tahap praktik melalui Build Your Tourism & Branding Strategy. Dalam kelompok, mereka diminta menyusun strategi sederhana yang menggabungkan gagasan pariwisata dan identitas produk. Setiap kelompok mempertimbangkan gambaran destinasi, target pengunjung, serta konsep branding seperti nama dan tagline.
Proses ini mendorong peserta untuk menerjemahkan materi yang telah dipelajari menjadi sebuah gagasan yang lebih konkret. Mereka perlu berdiskusi, menentukan arah konsep, serta membagi peran agar strategi yang dihasilkan dapat disusun secara jelas.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasilnya dalam Presentation & Feedback Session. Peserta mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan ide mereka kepada kelompok lain dan memperoleh masukan. Sesi tersebut juga menjadi sarana untuk melihat bagaimana sebuah konsep dapat dikembangkan melalui sudut pandang yang berbeda.
Menurut Naura, salah satu peserta, proses menyusun strategi secara langsung membuat materi yang diberikan lebih mudah dipahami. โKetika harus membuat konsep sendiri, kami jadi lebih sadar bahwa mengembangkan pariwisata membutuhkan banyak pertimbangan. Bukan hanya soal tempatnya menarik, tetapi juga bagaimana produk dan identitas lokal bisa ikut mendukung pengalaman pengunjung,โ ungkapnya.
Setelah rangkaian praktik, peserta mengikuti sesi refleksi untuk mengevaluasi pengalaman selama kegiatan. Dalam kelompok kecil, mereka membahas hal-hal yang berjalan dengan baik, tantangan yang muncul, serta pembelajaran yang dapat diterapkan pada kegiatan berikutnya. Diskusi tersebut membantu peserta melihat kembali proses yang telah mereka jalani, bukan hanya dari hasil akhir.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi engagement dan dokumentasi bersama. Interaksi informal antar-EPs dan LVs menjadi bagian dari pengalaman kolaboratif yang dibangun sepanjang kegiatan.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengalaman untuk melihat pengembangan pariwisata dari sisi yang lebih strategis. Potensi lokal tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat dikunjungi, tetapi juga sebagai sumber daya yang membutuhkan identitas, perencanaan, dan pengelolaan yang berkelanjutan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta dalam memahami bagaimana masyarakat dan pelaku usaha lokal dapat memperkuat potensi wilayahnya melalui strategi yang relevan dengan kebutuhan mereka.


