aiesec in bandung bangun perspektif bersama dalam project green leaders melalui sailing the horizon - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Bandung Bangun Perspektif Bersama dalam Project Green Leaders Melalui “Sailing the Horizon”

AIESEC in Bandung Bangun Perspektif Bersama dalam Project Green Leaders Melalui “Sailing the Horizon”
images info

Green Leaders @AIESEC in Bandung


AIESEC in Bandung melalui Green Leaders menyelenggarakan Sailing the Horizon, sebuah sesi onboarding yang mempertemukan para volunteer dengan berbagai partner representative untuk memahami kondisi di lapangan, serta menyelaraskan arah dan hasil yang ingin dicapai dalam proyek. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi para volunteer untuk membangun pemahaman bersama sebelum melanjutkan perjalanan mereka dalam menciptakan dampak di bidang lingkungan dan keberlanjutan. 

Green Leaders merupakan proyek Global Volunteer AIESEC in Bandung yang berfokus pada isu lingkungan dan keberlanjutan, khususnya dalam mendukung SDG 13: Climate Action. Melalui proyek ini, para volunteer tidak hanya diajak untuk memahami permasalahan lingkungan, tetapi juga melihat bagaimana isu tersebut berkaitan dengan masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.

Bertempat di Ngopi Doeloe Sangkuriang, Dago, Kota Bandung, Sailing the Horizon menjadi ruang untuk memulai perjalanan tersebut. Kegiatan dibuka dengan pengenalan agenda, penjelasan mengenai Green Leaders, serta ice breaking yang membuat suasana lebih interaktif. Setelah itu, para volunteer mengikuti beberapa sesi bersama partner representative yang memberikan sudut pandang berbeda mengenai isu sosial dan lingkungan.

Sesi pertama disampaikan oleh partner representative dari Kidsville, Mr. Oscar Samuel Koirewa. Kidsville sebagai partner yang bergerak dalam pendampingan dan pengembangan anak usia dini, mengajak para volunteer memahami bagaimana pendekatan yang berpusat pada anak diterapkan hingga tingkat TK B. Pembahasan tidak hanya berfokus pada perkembangan akademik, tetapi juga keterampilan sosial dan motorik serta kemampuan anak dalam memahami aturan. Diskusi mengenai penerimaan anak berkebutuhan khusus turut memberikan gambaran bahwa memahami penerima manfaat berarti juga memahami kebutuhan mereka secara lebih spesifik.

baca juga

Sesi selanjutnya diisi oleh Najla Salma, partner representative dari Instaperfect. Ia membagikan berbagai upaya yang dilakukan Instaperfect dan merek-merek di bawah Paragon Corp untuk mengurangi limbah produk, mulai dari sistem refill, penggunaan cermin yang dapat digunakan kembali, hingga program pengumpulan empties produk kecantikan.

“Kemasan produk yang sudah habis dapat dikembalikan untuk mendapatkan voucher sebagai bentuk apresiasi sekaligus mendorong konsumen untuk mengurangi limbah,” ujar Najla Salma, partner representative dari Instaperfect. Program serupa juga diterapkan oleh berbagai merek di bawah Paragon Corp sebagai bagian dari upaya mendorong praktik keberlanjutan.

Para volunteer juga berdiskusi mengenai pentingnya memastikan klaim ramah lingkungan memiliki dasar yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana sebuah perusahaan mengelola hal tersebut secara transparan.

Pembahasan mengenai lingkungan dilanjutkan bersama Herman Sukmana, partner representative dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Salah satu topik yang dibahas adalah penerapan eco-enzyme dalam pengelolaan sampah organik di tingkat masyarakat.

baca juga

Dengan memanfaatkan bahan seperti kulit buah, sampah organik dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat untuk kebutuhan rumah tangga. Herman juga menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di Bandung turut menerapkan prinsip 3R melalui program Kang PisMan, yaitu Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. “Di Bandung, prinsip 3R diterapkan melalui Kang PisMan, yaitu Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan,” ujar Herman Sukmana, partner representative dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Penerapan praktik tersebut di kawasan Sungai Cikapundung juga menunjukkan bagaimana pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan secara lebih luas.

Berbagai perspektif yang diperoleh kemudian dibawa ke dalam sesi Focus Group Discussion (FGD). Para volunteer diberi kesempatan untuk membagikan kembali hal-hal yang mereka pelajari dan menghubungkan berbagai isu dari sesi sebelumnya. Dari pembahasan mengenai perkembangan anak hingga pengelolaan sampah, peserta melihat bahwa menciptakan dampak tidak selalu dimulai dari solusi yang besar, tetapi dari kemampuan memahami masalah dan pihak-pihak yang terdampak olehnya.

Sesi terakhir bersama Ifandra Cahya Kusuma Reynaldi, sebagai Initiative lead dan partner representative dari Summitlife, semakin memperkuat refleksi tersebut. Para volunteer diajak melihat kembali posisi generasi muda sebagai agent of change. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk menciptakan dampak sekaligus menjaga sumber daya yang masih tersedia.

Melalui Green Leaders, rangkaian kegiatan pembelajaran ini diharapkan dapat mendorong para volunteer untuk menjadi agent of change yang mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan pemahaman yang telah dibangun sejak tahap onboarding, perjalanan Green Leaders selanjutnya diharapkan dapat berjalan dengan tujuan yang lebih terarah dan kolaborasi yang lebih kuat bersama para partner.

baca juga

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan partner representative sebagai dokumentasi sekaligus menandai dimulainya perjalanan para volunteer Green Leaders dalam menciptakan dampak melalui proyek mereka.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.