prof widodo dan arah universitas brawijaya dari biologi sel hingga hilirisasi riset - News | Good News From Indonesia 2026

Prof. Widodo dan Arah Universitas Brawijaya: Dari Biologi Sel hingga Hilirisasi Riset

Prof. Widodo dan Arah Universitas Brawijaya: Dari Biologi Sel hingga Hilirisasi Riset
images info

Rektor Universitas Brawijaya | Foto: Dokumentasi Pribadi


Kawan GNFI, di balik sebuah kampus besar selalu ada pemimpin yang memengaruhi arah geraknya. Universitas Brawijaya (UB) di Malang dipimpin oleh Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. sebagai rektor periode 2022โ€“2027.

Dalam beberapa bulan terakhir, namanya muncul dalam peluncuran jamu berbasis riset, pelepasan mahasiswa ke 76 desa, hingga kerja sama dengan BRIN.

Siapa beliau, dan seperti apa arah kebijakan yang ia dorong? Mari kita telusuri bersama.

Dari Mahasiswa UB Menjadi Rektor UB

Menurut profil yang dimuat Detik dan Edunews, Prof. Widodo menempuh pendidikan sarjana di UB pada 1992โ€“1998 dengan fokus penelitian biologi sel. Ia kemudian menyelesaikan program magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1998โ€“2001, dan melanjutkan studi di University of Tsukuba, Jepang, hingga 2008 (gelar Ph.D.Med.Sc.). Dengan kata lain, beliau adalah produk UB yang kembali memimpin almamaternya.

Sebelum menjadi rektor, ia pernah menjabat Ketua Jurusan Biologi UB dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia terpilih sebagai rektor melalui sidang pleno Majelis Wali Amanat (MWA) pada 21 Mei 2022, secara mufakat, untuk masa jabatan 2022โ€“2027. Pada periode 2020โ€“2022, ia juga meneliti pengembangan Virus-Like Particle (VLP) COVID-19 sebagai kandidat vaksin dengan dukungan BRIN. Beberapa penghargaan yang tercatat antara lain Dosen Berprestasi UB (2015), Young Scientist dari Kalbe-Ristek (2012), dan Best Original Paper Award dari Nestle Nutrition Council Japan (2007).

Menarik dicatat bahwa FMIPA yang pernah ia pimpin, kini berubah nama menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) pada 2026.

Agenda yang Terlihat

Dari sejumlah pemberitaan, ada beberapa garis besar yang tampak dalam pernyataan dan kegiatan beliau.

1. Pembelajaran berbasis pengalaman. Dalam QS Higher Education Summit: Middle East di Uni Emirat Arab pada Februari 2024, Prof. Widodo memaparkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) UB. Menurutnya, program ini menawarkan pengalaman langsung kepada mahasiswa di industri, komunitas, dan laboratorium, serta membentuk kepekaan sosial dan sikap bertanggung jawab.

2. Hilirisasi riset. Pada Forum Public and Business Leader di Jakarta, 13 Desember 2025, beliau menyoroti bahwa kampus sudah punya peneliti dan inovasi, tetapi kesulitan menghilirisasinya karena wadah yang ada belum berjalan baik. Ia berharap Danantara menjadi pendorong industrialisasi baru yang membuka peluang hilirisasi bagi perguruan tinggi, bahkan menyebut Danantara harus menjadi โ€œpemecah mata rantaiโ€ yang selama ini membuat Indonesia belum mandiri di industri.

Sikap itu kemudian tampak dalam langkah nyata. Pada 5 Januari 2026, dalam Dies Natalis ke-63, UB meluncurkan dua jamu (BEATRIXLIM dan MAGHERB) serta parfum Majamatara. Prof. Widodo menyebutnya perwujudan semangat Brawijaya: kecerdasan yang berakar pada budaya dan siap bersaing secara global. Pada 3 Juli 2026, UB dan BRIN sepakat memperkuat ekosistem riset nasional, termasuk membuka BRIN Corner di kampus untuk mempercepat hilirisasi, dan beliau berharap riset yang dihasilkan dapat terhilirisasi.

3. Kampus yang turun ke masyarakat. Pada 6 Juli 2026, ia melepas mahasiswa Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) ke 76 desa di delapan kabupaten di Jawa Timur. Menurutnya, tujuan akhir program adalah menjadikan desa sebagai living laboratory di masyarakat. Ia meminta mahasiswa memahami persoalan warga, menjalin komunikasi, dan berpikir positif. Dalam laporan lain, ia menekankan bahwa yang terpenting bukan alat atau barang yang diberikan, melainkan warga memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk membangun desa secara mandiri.

4. Keberlanjutan kampus. Pada 19 Januari 2026, UB meluncurkan program Smart Green Campus, yang dihadiri Rektor. Program ini menargetkan kampus sebagai laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan, mulai dari transisi energi hingga pengelolaan limbah.

Capaian yang Menyertai

Periode kepemimpinan ini bersamaan dengan sejumlah capaian kampus, meski kita perlu berhati-hati menghubungkannya langsung dengan satu orang. Dalam data Puspresnas yang dirilis Mei 2026, UB berada di peringkat pertama jumlah prestasi mahasiswa nasional (734 prestasi).

UB juga naik dari peringkat 653 ke 623 di QS Sustainability 2026 dan berada di peringkat 567 dunia untukย employability di QS World University Rankings 2026. Pada Agustus 2026, UB menerima 57 mahasiswa asing baru dari 35 negara untuk program gelar penuh.

Menimbang dengan Jernih

Sebagai opini, ada beberapa pertanyaan yang menurut saya layak diajukan, bukan untuk menyudutkan, tetapi untuk menjaga akuntabilitas kampus negeri yang dibiayai publik.

  • Pertama, hilirisasi perlu dibuktikan lewat hasil. Jamu dan parfum baru diluncurkan, dan BRIN Corner baru disepakati. Publik perlu melihat apakah produk benar-benar sampai ke masyarakat dan memiliki izin edar.
  • Kedua, dampak program desa perlu diukur. Program MMD berlangsung sebulan. Yang menentukan adalah apa yang tersisa di desa setelah mahasiswa pulang.
  • Ketiga, keterbukaan. Pemeringkatan dan jumlah prestasi adalah indikator, bukan tujuan. Kampus yang sehat berani melaporkan kelemahan, misalnya indikator dampak sosial QS yang masih berada di peringkat 830.

Masa jabatan beliau sendiri tercatat sampai 2027, sehingga perkembangan kebijakan dan capaiannya akan terus menarik diikuti.

Penutup

Kawan GNFI, kisah Prof. Widodo menggambarkan jalur seorang akademisi: dari mahasiswa biologi sel, peneliti vaksin, dekan, hingga memimpin salah satu kampus negeri terbesar di Jawa Timur. Yang penting bagi kita sebagai masyarakat adalah apakah kebijakan kampus menghasilkan manfaat nyata: lulusan yang siap kerja, riset yang sampai ke masyarakat, dan kampus yang terbuka untuk dikritik.

Menurut Kawan, apa peran terpenting pemimpin perguruan tinggi bagi bangsa?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.