bersama masyarakat adat kuweta tim patriot ui gotong royong menyiapkan kriya tradisional untuk rumah budaya dan sekolah budaya papua - News | Good News From Indonesia 2026

Bersama Masyarakat Adat KUWETA, Tim Patriot UI Gotong Royong Menyiapkan Kriya Tradisional untuk Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua

Bersama Masyarakat Adat KUWETA, Tim Patriot UI Gotong Royong Menyiapkan Kriya Tradisional untuk Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua
images info

Cawat dan noken dari kulit kayu hasil karya pemuda di Kampung Werianggi | Dokumentasi Pribadi


Bagi masyarakat adat, pakaian tidak pernah sekadar selembar kain penutup tubuh. Di Kampung Werianggi, selembar kulit kayu yang dibentuk menjadi cawat adalah peninggalan sejarah yang menuturkan siapa mereka dan dari mana leluhur mereka berasal.

Momen kehangatan itu terlihat jelas pada Sabtu (26/9/2026) ketika Tim Ekspedisi Patriot mengunjungi kediaman Pak Paulus. Suasana tampak hidup ketika sekelompok pemuda duduk melingkar memotong pola kulit kayu dan menggoreskan motif-motif tradisional. Didampingi oleh generasi tua, para pemuda Werianggi ini sedang membuat cawat yang dipersiapkan untuk pameran Rumah Budaya, Sekolah Budaya, dan Festival Budaya Papua yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Ekspedisi Patriot merupakan program nasional di bawah Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk tidak berhenti pada evaluasi kawasan, melainkan turun tangan langsung memberikan dampak nyata. Di Kampung Werianggi, Teluk Wondama, misi besar ini diterjemahkan salah satunya melalui kerja sama dengan para aktor lokal untuk mengembangkan community-based cultural tourism.

Di bawah kepemimpinan Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, S.S., S.Pd., M.A., CertDA, dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI (DPIS UI), Tim Ekspedisi Patriot UI yang beranggotakan Devita Putri Hanjari, S.Hum., Maharani Arfila, S.Hum., Sausan Fajar Alamislami, S.Sos., Pendiron Indra Enumbi, S.Pol., dan Arya Agung Siregar, S.Ag., hadir dengan fokus utama pada Pengembangan Rumah Budaya Papua sebagai Pusat Aktualisasi Kebudayaan dan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan.

baca juga

Tim Patriot dan Pemuda Kampung Werianggi sedang berdiskusi mengenai progres pembuatan cawat | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Tim Patriot dan Pemuda Kampung Werianggi sedang berdiskusi mengenai progres pembuatan cawat | Dokumentasi Pribadi


"Pembuatan cawat, noken, sisir, dan benda-benda lainnya ini memerlukan proses panjang dan sumber daya yang tidak sedikit. Namun, melihat antusiasme pemuda yang belajar langsung dari para orang tua mereka, kami yakin bahwa keberadaan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua dapat menjadi wadah yang memberi tujuan nyata bagi pemajuan dan transmisi kebudayaan Marga KUWETA," ujar Arya Agung Siregar, Anggota Tim 9 Ekspedisi Patriot UI.

Pengetahuan membuat cawat sejatinya terancam perlahan memudar seiring bertambahnya zaman. Cawat tidak lagi menjadi pakaian harian warga Persekutuan Marga KUWETA (Kurube, Werianggi, dan Tatiorim), sehingga generasi muda jarang memiliki alasan maupun kesempatan untuk mempraktikkannya. Tanpa adanya wadah khusus, kekayaan kriya ini berisiko menjadi catatan sejarah dalam foto-foto lama semata.

Namun, keterlibatan langsung para pemuda dalam persiapan festival, sekolah, dan rumah budaya membuktikan bahwa rasa bangga mereka terhadap warisan leluhur tidak pernah padam. Melalui praktik langsung ini, anak-anak muda tidak hanya belajar cara memotong pola atau memilih warna, tetapi juga memahami aturan adat di baliknya, mengenai siapa yang berhak mengenakan motif tertentu, arti filosofis setiap garis, dan sejarah tradisi yang melekat padanya.

Selain memantau pembuatan cawat, tim mengunjungi Mama Feronika Werianggi, yang akrab disapa Mama Suku, untuk melihat perkembangan noken anyam. Bersama rekan-rekannya, ia membagi tugas pengerjaan agar anyaman dapat diselesaikan untuk kebutuhan Sekolah Budaya. Ia pun dengan antusias memperlihatkan hasil pekerjaan yang telah dibuat.

baca juga

Mama Sipora Tatiorim sedang memegang tikar anyaman buatannya | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Mama Sipora Tatiorim sedang memegang tikar anyaman buatannya | Dokumentasi Pribadi


Kunjungan berlanjut ke Mama Sipora Tatiorim, yang sedang menyiapkan tikar anyaman. Ia menunjukkan hasil kerjanya dengan bangga. Tim juga menemui Abner, pengrajin bambu yang dikenal di wilayah tersebut, untuk melihat pembuatan sisir bambu hias yang akan menjadi bagian dari koleksi Rumah Budaya.

Beragam kerajinan itu memperlihatkan bahwa pengetahuan tradisional tidak berada di tangan satu orang saja. Ada keterampilan mengolah kulit kayu, menganyam serat, hingga membentuk bambu menjadi benda yang berguna maupun bernilai seni. Masing-masing pengrajin membawa pengetahuan yang berbeda, sementara persiapan bersama memberi mereka tujuan untuk menyelesaikan karya-karya tersebut.

Pendokumentasian dan pembuatan kriya tradisional ini menegaskan relevansi penting hadirnya Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua. Program ini memberikan alasan yang kuat bagi masyarakat adat untuk kembali mentransfer pengetahuan lokal mereka, memastikan bahwa hak atas pengetahuan yang telah bertahan ratusan tahun ini tetap diwariskan secara utuh.

Pada akhirnya, yang dipersiapkan di Werianggi bukan hanya cawat dari kulit kayu, noken, tikar, atau sisir bambu. Ada pengetahuan dan cerita yang menyertai setiap benda, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika para pemuda duduk bersama orang tua mereka untuk membuatnya, proses pewarisan itu tidak lagi sekadar menjadi harapan bagi masa depan, ia sudah mulai berlangsung.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.