Di sebuah ruang kelas anak usia dini di ME SINCE 1988, Ho Chi Minh City, sesuatu yang lebih besar dari sekadar kegiatan mengajar sedang terjadi. Selama enam minggu, kelas ini menjadi titik temu bagi volunteer dari empat negara berbeda dimulai dari Indonesia, Thailand, Korea Selatan, dan Azerbaijan yang bersama-sama mendampingi puluhan anak balita sembari saling bertukar budaya satu sama lain.
Pertemuan lintas negara ini terjadi melalui program Global Classroom – Early Childhood Education, bagian dari skema oGV yang berlangsung sejak 17 Agustus hingga 28 September 2026.
Salah satu peserta dari Indonesia, Zakiya Rakha Fadhillah, mahasiswi Ekonomi Pembangunan Unila angkatan 2023, menjadi salah satu dari sekian volunteer yang merasakan langsung bagaimana ruang kelas kecil ini berubah menjadi miniatur dunia yang penuh keberagaman.
Secara formal, misi utama program ini adalah membantu guru mendampingi lebih dari 30 anak berusia 1-3 tahun melalui aktivitas seperti coloring, building blocks, dan berbagai hands-on learning activities.
Namun di balik tugas tersebut, program ini sekaligus menjadi sarana cultural exchange yang tidak kalah berharga, baik antara sukarelawan dengan anak-anak dan guru lokal, maupun antarsesama volunteer dari berbagai latar belakang negara.
Setiap hari, para volunteer dari Indonesia, Thailand, Korea Selatan, dan Azerbaijan ini bekerja berdampingan, berbagi metode mengajar, cara berkomunikasi dengan anak-anak, hingga kebiasaan dan perspektif yang mereka bawa dari negara asal masing-masing.
Interaksi semacam ini terjadi secara alami, tanpa dirancang khusus. Namun, justru menjadi salah satu bagian paling berkesan dari keseluruhan program.
Zakiya mengungkapkan bahwa pengalaman berinteraksi dengan volunteer dari berbagai negara membuatnya menjadi pribadi yang lebih terbuka, mudah beradaptasi, dan percaya diri ketika bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Ia menyebut, perjalanan ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupnya, bukan hanya karena ia belajar banyak soal mendampingi anak usia dini, tetapi juga karena pertemuannya dengan berbagai budaya baru melalui sesama volunteer.
Kolaborasi lintas negara seperti ini bukan tanpa tantangan. Perbedaan bahasa, gaya komunikasi, hingga kebiasaan sehari-hari menjadi hal yang harus dinavigasi bersama.
Namun, justru dari proses saling menyesuaikan inilah, para peserta mengasah kemampuan yang tidak selalu bisa dipelajari di ruang kelas formal: kesabaran, komunikasi lintas budaya, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim, tanggung jawab, serta pemahaman terhadap perbedaan sebagai sebuah kekuatan, bukan hambatan.
Fenomena menarik dari program ini adalah bagaimana isu pendidikan anak usia dini yang sering dianggap sebagai urusan lokal semata justru berhasil mempertemukan empat kebangsaan berbeda dalam satu tujuan yang sama.
Anak-anak balita di ME SINCE 1988 pun turut diuntungkan dari keberagaman ini. Sebab, secara tidak langsung mereka diperkenalkan pada wajah, suara, dan cara berinteraksi yang berasal dari berbagai belahan dunia, jauh sebelum mereka cukup umur untuk memahami konsep "negara" maupun "budaya".
Bagi guru-guru lokal seperti Miss Thao, Miss Lam, Miss Keith, Miss Huong, dan Miss Ma, kehadiran volunteer lintas negara juga membuka ruang pertukaran metode pengajaran dan sudut pandang baru dalam mendampingi anak-anak usia dini.
Kisah dari ME SINCE 1988 ini menjadi pengingat bahwa pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, dapat menjadi bahasa universal yang mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang, dalam satu misi yang sama: memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan pendampingan yang layak untuk tumbuh kembangnya.


