Irama tifa dan gong memenuhi lapangan SD YPK Werianggi pada sore 21 September 2026. Enam penari bergerak mengikuti tabuhan, mengenakan kain tradisional yang diikat di dada, hiasan lengan, dan kalung.
Di dekat mereka, seorang pemain tifa dan seorang pemain gong menjaga irama. Sejumlah anak yang sedang bermain di lapangan ikut berhenti untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Ekspedisi PATRIOT merupakan program nasional di bawah Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk tidak berhenti pada evaluasi kawasan, melainkan turun tangan langsung memberikan dampak nyata.
Di Kampung Werianggi, Teluk Wondama, misi tersebut salah satunya diterjemahkan melalui kerja sama dengan para aktor lokal untuk mengembangkan community-based cultural tourism.
Di bawah kepemimpinan Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, S.S., S.Pd., M.A., CertDA, dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI (DPIS UI), Tim Ekspedisi PATRIOT UI terdiri atas Devita Putri Hanjari, S.Hum., Maharani Arfila, S.Hum., Sausan Fajar Alamislami, S.Sos., Pendiron Indra Enumbi, S.Pol., dan Arya Agung Siregar, S.Ag.
Tim berfokus pada pengembangan Rumah Budaya Papua sebagai Pusat Aktualisasi Kebudayaan dan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan.

Sekelompok penari dan pemain gong sedang menampilkan dansa adat | Dokumentasi Pribadi
Sore itu, Tim Ekspedisi Patriot UI bersama masyarakat adat Marga Kurube, Werianggi, dan Tatiorim yang tergabung dalam Persekutuan KUWETA merekam penampilan tari dan musik tradisional.
Rekaman tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan kesenian masyarakat Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Kamera tidak hanya menangkap gerakan penari dan bunyi alat musik. Dokumentasi itu juga menyimpan bentuk penampilan, pakaian, serta irama yang menjadi bagian dari kesenian masyarakat setempat.
Rekaman tersebut direncanakan menjadi materi pengenalan budaya sekaligus mendukung kegiatan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua.

Sekelompok pemain suling dari Kampung Werianggi sedang memainkan suling | Dokumentasi Pribadi
Kemudian, pada 25 September 2026, proses dokumentasi berlanjut di halaman belakang Gereja Efata Werianggi. Kali ini, Tim PATRIOT UI berkumpul bersama Yohanis Godlief Kurube, Salmon Tatiorim, dan sejumlah warga lainnya untuk merekam permainan suling yang mengiringi lagu-lagu rohani yang diwariskan oleh orang tua mereka.
Bagi masyarakat Werianggi, suling memiliki kaitan dengan sejarah masuknya Injil ke Papua. Menurut penuturan masyarakat, alat musik ini hadir bersama perjalanan penyebaran agama Kristen dan menjadi bagian dari tradisi bermusik yang terus mereka kenang.
Permainan suling tersebut tidak dilakukan oleh satu orang saja. Para pemain menggunakan susunan beberapa suling, yang masing-masing memiliki peran dan karakter nada berbeda. Dalam sistem yang mereka jelaskan, terdapat suling satu, dua, tiga, dan empat.
Suling satu berperan sebagai suara pertama sekaligus pemimpin, sedangkan suling lainnya melengkapi harmoni melalui perbedaan ukuran dan kedalaman nada.
Saat musik dimainkan, harmoni suling mengalun di halaman gereja. Di sela-sela kegiatan, para bapak juga berbagi cerita tentang siapa yang dahulu mengajari mereka bermain, bagaimana pengetahuan itu mereka peroleh, dan kepada siapa mereka ingin meneruskannya.
Percakapan tersebut memperlihatkan bahwa dokumentasi tidak harus berhenti pada perekaman suara. Prosesnya juga dapat menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan sebuah kesenian dan membicarakan siapa yang akan melanjutkan tradisi itu.

Bapak Adolof Wekaburi sedang menyanyikan lagu rohani berbahasa Wamesa | Dokumentasi Pribadi
Pada 19 Oktober 2026, tim kembali mendapat kesempatan mendokumentasikan kesenian masyarakat melalui penampilan Adolof Wekaburi. Ia menyanyikan salah satu lagu rohani berbahasa Wamesa yang dahulu dinyanyikan oleh generasi orang tua mereka.
Dalam rekaman tersebut, Bapak Adolof mengenakan cawat, mahkota, dan aksesori tradisional yang dibuatnya sendiri, sambil memainkan tifa. Perpaduan suara, busana, dan iringan musik menghadirkan dokumentasi yang merekam beberapa unsur kebudayaan sekaligus.
Lagu yang dinyanyikan bukan sekadar rangkaian nada. Bahasa yang digunakan, cara menyanyikannya, serta cerita tentang siapa yang dahulu melantunkannya menjadi bagian dari pengetahuan yang menyertai lagu tersebut.
Ketika sebuah lagu hanya diingat oleh sebagian orang, merekam penampilannya dapat membantu menjaga jejaknya agar tetap dapat dipelajari kembali.

Seorang Penabuh Tifa sedang memainkan tifa | Dokumentasi Pribadi
Upaya merekam tari, musik suling, dan lagu rohani merupakan bagian dari persiapan pengembangan Rumah Budaya dan Sekolah Budaya Papua. Dokumentasi dapat menjadi bahan pengenalan bagi pengunjung, tetapi juga berpotensi menjadi sumber belajar bagi generasi muda yang ingin mengenal kembali kesenian di kampungnya.
Rekaman tidak dapat menggantikan proses belajar langsung dari para pemain, penyanyi, dan pemilik pengetahuan. Namun, dokumentasi dapat membantu menjaga bukti tentang bagaimana sebuah kesenian ditampilkan, bunyi yang dihasilkan, dan siapa saja yang masih mempraktikkannya. Dengan keterlibatan masyarakat dalam proses ini, cerita di balik setiap pertunjukan juga memiliki kesempatan untuk ikut tercatat.
Pada akhirnya, yang tersimpan bukan hanya video tarian atau rekaman lagu. Ada suara suling yang dipelajari dari orang tua, irama tifa dan gong yang mengiringi gerakan penari, serta lagu berbahasa Wamesa yang kembali dinyanyikan di hadapan kamera. Selama suara-suara itu masih dapat didengar dan dipelajari, generasi berikutnya memiliki jalan untuk mengenali kesenian yang diwariskan kepada mereka.


