dari kata menjadi pengabdian perjalanan rija aulia mayatri menghidupkan bahasa - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Kata Menjadi Pengabdian: Perjalanan Rija Aulia Mayatri Menghidupkan Bahasa

Dari Kata Menjadi Pengabdian: Perjalanan Rija Aulia Mayatri Menghidupkan Bahasa
images info

Dari Kata Menjadi Pengabdian: Perjalanan Rija Aulia Mayatri Menghidupkan Bahasa (Sumber: Dok Kholis Azhari/Rija Aulia Mayatri)


Ada orang yang sejak kecil terbiasa menjadi pusat perhatian. Mudah berbicara, cepat bergaul, dan percaya diri ketika harus berdiri di hadapan banyak orang. Rija Aulia Mayatri, atau Aya, bukan salah satunya.

Tumbuh sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Rija Aulia Mayatri justru lebih akrab dengan kesunyian. Ia dikenal sebagai sosok pemalu, pendiam, dan cenderung pasif. Berada di lingkungan yang ramai terkadang membuatnya lebih nyaman menjadi pengamat daripada mengambil peran di dalamnya.

Namun, kenyamanan yang selama ini menjadi tempat berlindung perlahan berubah menjadi pertanyaan. Apakah ia akan terus membiarkan rasa takut menentukan langkahnya?

Rija Aulia Mayatri bersama sang kakak tampil mengenakan Sina Beranti, busana pengantin adat Tidung, dalam Final Raya Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026.(Sumber: Dok. Kholis Azhari/Rija Aulia Mayatri)
info gambar

Rija Aulia Mayatri bersama sang kakak tampil mengenakan Sina Beranti, busana pengantin adat Tidung, dalam Final Raya Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026.(Sumber: Dok. Kholis Azhari/Rija Aulia Mayatri)


Pertanyaan itu semakin kuat ketika Aya melihat perjalanan sang kakak Kholis Azhari di bangku kuliah. Sang kakak aktif, berprestasi, dan mampu tampil percaya diri di tengah lingkungan sosialnya. Dari sana muncul sebuah pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi titik balik dalam hidup Aya.

"Jika kakak bisa, mengapa saya adiknya tidak?"

Pertanyaan itu tidak langsung mengubah Aya menjadi sosok yang percaya diri. Namun, ia menjadi alasan untuk mulai mencoba.

Merantau dan Keluar dari Zona Nyaman

Langkah pertama Aya adalah meninggalkan zona nyaman. Ia merantau ke Samarinda, Kalimantan Timur meninggalkan Kota Asalnya Tarakan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik, Jurusan Sistem Informasi, Universitas Mulawarman.

Bagi Rija Aulia Mayatri, merantau bukan sekadar berpindah kota. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu banyak karakter, sekaligus belajar berdiri di atas kemampuannya sendiri.

baca juga

Pilihan masuk dunia teknik pun sempat membuat sebagian orang ragu. Lingkungan teknik sering dianggap identik dengan karakter yang tegas dan aktif, sementara Aya dikenal lebih introvert. Namun, justru di situlah ia menemukan ruang untuk berkembang.

Aya mulai menantang dirinya untuk berbicara di depan orang lain. Salah satu kesempatan itu datang melalui kompetisi debat tingkat fakultas. Dengan persiapan yang masih jauh dari sempurna, ia memberanikan diri naik ke podium. Ia berbicara, dan ternyata, dunia tidak runtuh. Tim yang diikutinya berhasil meraih Juara 3.

Bagi Aya, pencapaian itu bukan sekadar sebuah gelar. Ada sesuatu yang lebih penting. Aya mulai menyadari bahwa keberanian tidak harus muncul sebelum seseorang mencoba. Kadang, keberanian justru tumbuh setelah seseorang berani mengambil langkah pertama.

Pengalaman itu membuat Aya ingin mencoba tantangan yang lebih besar. Dengan dorongan dan pendampingan sang kakak, ia mendaftarkan diri dalam Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Tantangannya kali ini lebih luas. Ia harus mengasah kemampuan komunikasi, memperluas wawasan, sekaligus belajar tampil percaya diri di hadapan publik. Proses panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Aya dinobatkan sebagai Juara 1 Duta Bahasa Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Prestasi itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Bukan semata karena piala yang berhasil dibawa pulang, melainkan karena ia berhasil melewati batas yang sebelumnya ia bangun sendiri. Gadis pemalu dari Tarakan itu mulai menemukan suaranya.

Perjalanan pengembangan dirinya kemudian berlanjut ketika Aya terpilih sebagai salah satu awardee Beasiswa ETOS ID. Kesempatan tersebut semakin memperluas pengalaman, wawasan, dan ruang baginya untuk berkembang.

Namun, bagi Aya, sebuah pencapaian bukanlah akhir perjalanan. Justru setelah mendapatkan kesempatan, muncul pertanyaan lain: apa yang dapat ia lakukan untuk orang lain?

baca juga

Menjadikan Bahasa sebagai Jalan Pengabdian

Berawal dari sosok pemalu yang belajar berani berbicara, Rija Aulia Mayatri kini menjadikan bahasa sebagai ruang untuk bertumbuh, berbagi, dan mendampingi generasi muda melalui krida KARSA

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya melalui KARSA, sebuah krida yang ia inisiasi dalam perannya sebagai Duta Bahasa. KARSA berfokus pada pendampingan peserta didik dalam mengolah tutur kata serta membangun kesadaran menggunakan bahasa secara santun.

Gagasannya sederhana, kata-kata memiliki dampak. Cara seseorang berbicara dapat membuat orang lain merasa dihargai, tetapi juga dapat melukai apabila digunakan tanpa kesadaran.

Rija Aulia Mayatri saat menghadiri pembukaan Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026 di Jakarta. Ia dipercaya menjadi “Ibu Lurah” atau wakil ketua angkatan setelah dipilih oleh para peserta lainnya dan menjadi salah satu peserta putri yang secara simbolis dipakaikan samir Duta Bahasa Nasional 2026.(Sumber: Dok. Kholis Azhari/Rija Aulia Mayatri)
info gambar

Rija Aulia Mayatri saat menghadiri pembukaan Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026 di Jakarta. Ia dipercaya menjadi “Ibu Lurah” atau wakil ketua angkatan setelah dipilih oleh para peserta lainnya dan menjadi salah satu peserta putri yang secara simbolis dipakaikan samir Duta Bahasa Nasional 2026.(Sumber: Dok. Kholis Azhari/Rija Aulia Mayatri)


"KARSA hadir untuk membantu para peserta didik memperbaiki tutur kata agar tidak menyakiti lawan bicaranya, baik secara sengaja maupun tidak," ujar Aya kepada GNFI.

Dari kegiatan tersebut, Aya menemukan pemahaman baru. Komunikasi ternyata bukan hanya tentang kemampuan berbicara. Ia juga tentang kemampuan mendengarkan.

Melalui interaksi dengan peserta didik dan masyarakat, Aya mulai melihat bahwa setiap percakapan membawa cerita. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Dan bahasa dapat menjadi jembatan untuk saling memahami.

Menariknya, ruang komunikasi yang dahulu menjadi tantangan bagi Aya kini justru menjadi ruang yang memberinya energi dan makna.

Dari Langkah Kecil Menuju Perubahan

Perjalanan Rija Aulia Mayatri  menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Tidak harus dengan gerakan yang langsung mengubah banyak orang. Kadang, perubahan dimulai dari keberanian untuk mengubah diri sendiri.

Dari seorang gadis yang pemalu dan lebih nyaman berada dalam diam, Aya perlahan belajar berbicara. Dari podium debat, ia melangkah ke panggung Duta Bahasa. Dari sebuah gelar, ia kemudian memilih menggunakannya untuk berbagi melalui KARSA.

Semua itu tidak terjadi dalam semalam. Ada rasa gugup, keraguan, dan proses panjang untuk membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Karena itu, ketika berbicara kepada generasi muda yang sedang mencari arah.

Aya tidak menawarkan resep untuk menjadi hebat secara instan. Ia justru menyampaikan pesan yang sederhana.

"Kita tidak harus langsung melakukan perubahan besar yang berdampak luas. Mulailah dengan menjalani hidup semaksimal mungkin, dan istirahatlah saat lelah. Teruslah mengeksplorasi potensi diri, karena di salah satu persimpangan jalan itu, kamu akan menemukan versi terbaik dari dirimu." tegas Aya

baca juga

Pesan itu terasa dekat dengan perjalanan hidupnya sendiri. Aya tidak berubah menjadi orang lain. Ia hanya memberi dirinya kesempatan untuk tumbuh. Dari Tarakan ke Samarinda. Dari seorang pendiam ke atas podium debat. Dari ruang kompetisi menuju pengabdian melalui bahasa.

Perjalanan itu masih panjang. Namun, Aya kini tahu bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski rasa takut masih ada.

Dan terkadang, satu langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa membawa kita menuju versi terbaik dari diri kita yang selama ini bahkan belum kita kenal. Selamat Rija Aulia Mayatri teruslah berprestasi dan menginspirasi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.