Bagi sebagian orang, jeans yang sudah robek, kekecilan, atau ketinggalan zaman mungkin tidak lagi memiliki nilai. Namun, Bunay Ilhamullah punya cara pandang berbeda. Pemuda asal Banda Aceh ini justru melihat pakaian bekas tersebut sebagai bahan baku untuk menciptakan produk fashion yang unik dan bernilai ekonomi.
Melalui usaha bernama Bumoe Fabric Art Clothing, Bunay mengolah limbah jeans menjadi beragam produk, mulai dari tas, pakaian, dompet, gantungan kunci, hingga sepatu. Dari bahan yang kerap dianggap tidak terpakai, ia membangun usaha kreatif yang menggabungkan kecintaannya terhadap fashion dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Berawal dari Kecintaan terhadap Fashion dan Kepedulian Lingkungan
Bunay Ilhamullah merupakan pemuda berusia 23 tahun yang merintis Bumoe Fabric Art Clothing di Banda Aceh. Ketertarikannya terhadap dunia fashion, khususnya gaya streetwear, mendorongnya untuk mencoba membuat produk sendiri.
Ide memanfaatkan jeans bekas muncul dari pengamatannya terhadap pakaian yang sudah tidak digunakan. Menurutnya, banyak orang bercelana jeans yang sebenarnya masih memiliki bahan kuat, tetapi akhirnya disimpan begitu saja atau dibuang karena sudah tidak muat maupun tidak lagi sesuai selera.
Padahal, denim masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang baru. Pemikiran sederhana itulah yang kemudian menjadi awal perjalanan Bunay dalam mengembangkan usaha fashion berbahan limbah tekstil.
Usahanya mulai dirintis pada Agustus 2024. Saat itu, ia memperoleh pendanaan sebesar 8 juta rupiah melalui Program Pembinaan Internal Kewirausahaan (PIKU) Universitas Syiah Kuala. Dana tersebut digunakan untuk membeli mesin jahit, perlengkapan menjahit, dan kebutuhan produksi lainnya.
Belajar Menjahit secara Otodidak, Kini Produksi 100 Produk per Bulan
Menariknya, Bunay tidak menempuh pendidikan menjahit secara formal. Meskipun ayahnya berprofesi sebagai penjahit, ia mempelajari keterampilan tersebut secara otodidak melalui video tutorial di media sosial. Pengalamannya mengamati sang ayah bekerja sejak kecil juga menjadi bekal dalam proses belajar.
Perjalanannya tentu tidak selalu berjalan mulus. Ia harus mencoba membuat pola, membongkar jahitan yang kurang rapi, dan mengulang prosesnya sampai menghasilkan produk yang layak dipasarkan.
Kini, proses produksi Bumoe masih dikerjakan dari rumah kontrakannya di Banda Aceh. Dalam sebulan, Bunay mampu menghasilkan sekitar 100 produk, mulai dari tas, pakaian, dompet, gantungan kunci, hingga sepatu.
Produk-produknya dipasarkan melalui media sosial dan dititipkan di sejumlah toko di Banda Aceh, Lhokseumawe, serta Aceh Selatan. Harganya berkisar antara 25 ribu hingga 500 ribu rupiah.
Dari Jeans Bekas jadi Produk Bernilai Ekonomi
Dalam proses pembuatannya, Bunay memanfaatkan jeans bekas yang diperoleh dari teman, pelanggan, maupun masyarakat yang ingin menyumbangkan pakaian lama mereka. Bahan tersebut kemudian dipilah dan diolah sesuai kebutuhan desain.
Ia menggunakan pendekatan upcycling, yaitu mengolah barang yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru dengan fungsi atau nilai tambah. Melalui teknik yang dikuasainya, Bunay menyusun kembali potongan-potongan denim bekas menjadi beragam produk fashion yang unik dan memiliki karakter tersendiri.
Karena menggunakan bahan bekas dengan warna, tekstur, dan ukuran yang tidak selalu sama, produk yang dihasilkan memiliki keunikan masing-masing. Ada produk yang dibuat sepenuhnya dari jeans bekas, dan ada juga produk yang dibuat menggunakan paduan bahan baru sesuai kebutuhan.
Hal ini membuat produksi dalam jumlah besar tidak selalu mudah dilakukan. Ketersediaan bahan dan karakter setiap potongan bahan perlu disesuaikan dengan desain yang akan dibuat.
Dari kisah ini, Bunay Ilhamullah menunjukkan bahwa jeans bekas tidak selalu berakhir di tempat sampah. Di tangan yang tepat, bahan tersebut bisa menjadi awal dari karya baru, menjadi peluang usaha, sekaligus langkah kecil untuk lebih bijak memanfaatkan barang yang masih layak pakai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


