โAku nggak jago ngomong di depan orang.โ Kalimat itu seringkali muncul sebagai alasan untuk tidak melakukan banyak hal, seperti saat kita malu mengajukan pertanyaan di kelas atau saat kita memilih diam ketika berdiskusi.
Di balik ketakutan tersebut, terdapat pula anggapan yang mungkin kebanyakan orang sering mempercayainya, bahwa public speaking hanya milik orang yang fasih, karismatik, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Adakah yang merasa sama?
Anggapan itulah yang sedang coba diluruskan oleh AIESEC in UNS dan GIGIGO Dental melalui acara โElevate Your Confidence: Speak Better & Smile Brighterโ yang digelar pada 10 Oktober 2026 lalu. Acara ini sukses dihadiri oleh 190 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa di sekitar Surakarta.
Okfied Sosendar, pembicara utama pada acara tersebut, punya definisi yang lebih sederhana dari public speaking.
โPublic speaking bukan soal menjadi pembicara paling hebat, tetapi bagaimana kita berani memulai, percaya pada ide sendiri, dan mampu menyampaikannya sehingga orang lain tertarik untuk mendengarkan,โ ujarnya.
Kalau diperhatikan, pernyataan tersebut secara tak langsung mengungkapkan tiga kunci dari public speaking yang sukses dan tidak satu kata pun berkaitan dengan kefasihan.
Hal pertama adalah berani memulai. Banyak orang sebenarnya punya sesuatu untuk disampaikan, tetapi harus menunggu sampai mereka merasa cukup siap.
Padahal, rasa siap yang mereka tunggu-tunggu itu sering kali baru akan datang setelah mereka mulai mencoba. Sehingga selama menunggu, kesempatan untuk berbicara harus lewat begitu saja.
Hal kedua adalah percaya pada ide sendiri. Di titik ini, tantangannya biasanya hadir bukan dari kemampuan berbicara kita, melainkan dari keraguan apakah gagasan kita itu cukup layak untuk didengar.
Hal ketiga baru soal penyampaian, yaitu menyusun gagasan yang kita miliki agar orang lain tertarik untuk mendengarkannya. Inilah bagian penting yang bisa kita latih secara mandiri.
Bersama pembicara, para peserta dibekali materiย public speaking dan micro-pitching, yakni cara menyampaikan ide yang kita miliki secara singkat dan jelas, tanpa harus berbicara panjang lebar.
Dapat kita lihat bahwa dari ketiga kunci tersebut, keterampilan teknis ditempatkan di urutan paling akhir, setelah keberanian dan keyakinan. Yang mana, dapat kita simpulkan bahwa kita tidak perlu menunggu sempurna dulu untuk mulai belajar.
Pandangan serupa juga datang dari pihak GIGIGO Dental. Ryo, pemilik GIGIGO Dental, menyebut keberanian berbicara dan menyampaikan gagasan sebagai hal yang membuka lebih banyak peluang bagi pemuda di masa depan.
โKami ingin membantu anak muda bukan hanya berani tersenyum, tetapi juga berani tampil dan meraih masa depan,โ tuturnya.
Dengan slogan โSemua Bisa Full Senyumโ, acara ini memadukan seminar pengembangan diri dengan pemeriksaan gigi gratis, sebagai pengingat bahwa percaya diri turut ditopang oleh kondisi diri yang terawat.
Tak hanya ilmu dan pemeriksaan gigi gratis, acara turut dimeriahkan denganย Doorprize yang dibagikan sepanjang acara.
Di titik ini, dapat dikatakan bahwa kemampuan berbicara di depan umum itu bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal keberanian dan keyakinan diri. Yang mana keduanya mampu menjadi bekal untuk menyampaikan ide dan meraih peluang-peluang baru.
ย
ย
ย
Penulis: Nakeisha Azzahra


