Pemuda Persis (Persatuan Islam) adalah organisasi sayap kepemudaan dari organisasi Islam modern Persatuan Islam. Organisasi ini dibentuk di Bandung oleh Fachruddin Al-Kahiri dan Kemas Ahmad pada 22 Maret 1936.
Pada masa-masa awal pembentukannya, organisasi otonom ini langsung bergerak progresif dengan mendirikan berbagai pilar pendukung ekonomi dan sosial masyarakat, seperti koperasi kredit (crediet cooperatie) dan koperasi konsumsi (verbruik cooperatie), di samping tetap fokus pada penguatan basis akidah serta pemahaman Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pemuda Persis hadir sebagai wadah regenerasi dan pembibitan kader dakwah di bawah bimbingan ulama pembaharu Islam seperti Ahmad Hassan. Dari organisasi kepemudaan inilah sejumlah tokoh bangsa lahir salah satunya Mohammad Natsir yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri RI pada awal-awal kemerdekaan.
Sebagai organisasi otonom tertua di lingkungan Persis, Pemuda Persis tidak hanya berfungsi sebagai pencetak kader ulama dan mubaligh, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam merespons tantangan zaman khususnya pada era digital seperti sekarang ini. Mulai dari literasi media, pendidikan modern, hingga pemberdayaan sosial dengan bantuan teknologi di berbagai pelosok nusantara kini menjadi aspek-aspek yang diperhatikan oleh mereka.
Meskipun gaungnya kurang terdengar, Pemuda Persis masih terus eksis kini sampai sekarang ini. Mereka secara konsisten kerap menyelenggarakan forum diskusi keilmuan, simposium, dan dialog kebangsaan untuk membekali anggotanya dengan wawasan politik terkini, geopolitik, Pancasila, dan Konstitusi. Adapun yang terbaru mereka mengadakan diskusi mengenai keberlangsungan asupan pendidikan untuk masyarakat di ujung timur Indonesia.
Pemuda Persis Rayakan Sumpah Pemuda
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini menjadi momentum krusial bagi generasi muda merapatkan barisan dan menjaga asa kebangsaan. Pesan kuat inilah yang mengemuka saat Pemuda Persis menggelar acara diskusi "Refleksi Sumpah Pemuda dari Ujung Timur Indonesia" di Merauke, pada Selasa (27/10/2026).
Di hadapan perwakilan Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, HMI, KAMMI, GMKI, dan BEM Mamusu Kabupaten Merauke, agenda lintas organisasi ini menyoroti satu pesan utama yaitu ajakan untuk terus "Merawat Optimisme Generasi Muda untuk Indonesia".
Wakil Ketua Umum Pemuda Persis, Edwin Khadafi, menekankan pentingnya menjaga mentalitas dan daya juang kaum muda dalam menghadapi berbagai situasi bangsa agar terus bisa berkontribusi.
"Di tengah dinamika dan tantangan yang ada, kita harus tetap tangguh dan merawat optimisme untuk Indonesia. Dengan merawat cita optimisme itulah, kita akan selalu punya energi untuk hadirkan kerja-kerja kebaikan bagi Indonesia,” kata Edwin.
Optimisme yang dibangun dalam forum ini tidak hanya berupa semangat persatuan, melainkan juga menyoroti isu-isu fundamental di daerah, salah satunya adalah sektor pendidikan. Musa, seorang pemuda asal Boven Digoel yang turut hadir dalam diskusi tersebut, menyampaikan pentingnya perhatian serius terhadap nasib pendidikan anak-anak Papua.
“Sebagai seorang calon guru, saya sangat berharap perhatian semua elemen untuk memastikan pendidikan anak bangsa, terkhusus bagi kami anak Papua dari timur Indonesia,” ungkap Musa menyampaikan aspirasinya.
Gagasan untuk merawat optimisme dan kepedulian terhadap pendidikan ini disambut hangat dan dihidupi oleh seluruh elemen kepemudaan yang hadir. Ketua Umum HMI Cabang Merauke, Irwan, dan Ketua GMKI Merauke, Daniel, menyatakan kesepahaman mereka bahwa sinergi lintas batas dan agama merupakan wujud nyata dari peran pemuda untuk menguatkan pembangunan daerah di Papua Selatan.
Melalui forum refleksi ini, seluruh organisasi yang hadir sepakat bahwa menjaga asa bukanlah sekadar retorika, melainkan fondasi untuk bergerak bersama.
Dengan merawat optimisme dan saling peduli terhadap isu-isu nyata seperti pendidikan, generasi muda diyakini mampu bergandengan tangan mewujudkan janji kemerdekaan dan menghadirkan kegembiraan bagi seluruh rakyat Indonesia.


