Semangat kebersamaan, kreativitas, dan inovasi kian membara di Kabupaten Bogor. Peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) 2026 yang dirangkaikan dengan perayaanย 5 Tahun Ekraf Gunung Sindur sukses digelar pada tanggal 25 Oktober 2026.
Mengusung tema besar "Ekraf Kuat, Ekonomi Bangkit!" dengan tagar khas #BergerakBertumbuhBersama, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang sekaligus merumuskan masa depan industri kreatif di tingkat lokal.
Rangkaian acara utama diisi dengan diskusi interaktif Ekraf Talk bertajuk "Potensi Ekraf Gunung Sindur" yang mempertemukan berbagai stakeholder (pemangku kepentingan) penting, mulai dari unsur pemerintah kecamatan, dinas pariwisata, pegiat komunitas kreatif, hingga praktisi media.
Menyalakan Asa Ekonomi Kreatif dari Akar Rumput
Ekonomi kreatif bukan lagi sekadar tren urban, melainkan telah menjadi tulang punggung baru perekonomian nasional yang berakar dari kreativitas lokal.
Di Gunung Sindur, perjalanan selama lima tahun terakhir membuktikan bahwa ketahanan ekonomi masyarakat dapat dibangun melalui kolaborasi yang erat antar-subsektor, mulai dari kuliner,ย fashion, kriya, seni musik, literasi, akademisi, pemerintah, hingga media.
Namun, agar pertumbuhan ini berdampak secara makro dan berkelanjutan, dibutuhkan orkestrasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dari sinilah Ekraf Talk hadir sebagai wadah strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan kebijakan, dan memperkuat ekosistem kreatif daerah.
Sinergi Lintas Stakeholder: Peran Pemerintah, Komunitas, dan Media
Dalam sesi diskusi, masing-masing stakeholder memaparkan peran krusial serta komitmen mereka dalam memajukan ekosistem ekonomi kreatif Gunung Sindur:
1.ย Pemerintah Kecamatan (Fasilitator Lokal): Perwakilan Pemerintah Kecamatan Gunung Sindur, Muhammad Zen, menyatakan sambutan hangat dan dukungan penuh terhadap seluruh inisiatif kreatif masyarakat.
Pemerintah kecamatan berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi agar para pelaku kreatif lokal merasa didukung dalam mengembangkan potensinya.
2. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Regulator & Kebijakan): Dari sudut pandang kebijakan daerah, Dadang Siradzudin, selaku Ketua Tim SDM Disparekraf Kabupaten Bogor menekankan pentingnya langkah strategis berupa pemetaan (mapping) serta ketersediaan data yang akurat mengenai potensi riil di Gunung Sindur.
Dinas hadir untuk memastikan regulasi, pengembangan SDM, serta arah kebijakan berpihak pada kemajuan ekraf daerah.
3. Komunitas dan Penggerak Kreatif: Andrian Yuliyanto, selaku founder Ekraf Gunung Sindur sekaligus moderator acara memaparkan bagaimana kolaborasi lintas sektor yang selama ini dikerjakan telah berhasil merajut solidaritas antar-pelaku kreatif lokal.
Didukung oleh para tokoh seperti Bara Wafa (Founder Tongkrongan Literasi), Fardiyansah (penggiat kuliner), Mohammad Zaki (Music Curator), dan Muchti Ali (Founder Mutiara Cool), ekosistem ini terus bergerak dinamis.
4. Media (Akselerator Publikasi): Sektor media yang diwakili oleh Belgi Alhuda, menegaskan bahwa publikasi dan strategi komunikasi merupakan pilar vital yang menentukan hidup matinya bisnis kreatif.
Belgi memaparkan bahwa media berperan mengubah ide abstrak bernilai estetika dan intelektual menjadi nilai ekonomi yang dipahami pasar, membangun kredibilitas (brandauthority), serta memperluas jangkauan pasar secara organik melalui siaran pers dan artikel featured.
Menyongsong Masa Depan Ekraf yang Lebih Maju
Peringatan lima tahun Ekraf Gunung Sindur bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi sebuah manifestasi ketahanan kolektif.
Ketika regulasi pemerintah, semangat komunitas, dukungan wilayah, dan ketajaman publikasi media berpadu dalam satu irama, ekonomi kreatif di tingkat lokal tidak hanya akan bertahan, tetapi juga melesat menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri dan berdaya saing global.
Mari dukung terus karya, produk, dan gerakan lokal anak bangsa!


