Pada Kamis, 17 September 2026, Indonesian Heritage Society kembali menggelar program tahunan bertajuk “Selamat Datang”. Bertempat di auditorium Museum Nasional, acara ini turut dihadiri beberapa tamu undangan berkewarganegaraan asing dan beberapa Kedubes luar negeri di Jakarta. Penasaran bagaimana keseruannya? Yuk, simak sampai selesai!
Dalam rangka menyambut kembalinya IHS Friends yang berkewarganegaraan asing sekaligus para anggota barunya, setiap tahunnya di bulan September Indonesian Heritage Society rutin menggelar “Selamat Datang”.
Bukan hanya itu, acara ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beberapa program dari setiap divisinya, lengkap dengan rencana agenda dalam satu periode ke depan. Menariknya, tahun ini, acara Selamat Datang dikemas dengan tema kebudayaan dari Nusa Tenggara Timur.
“Tema ini dipilih sebagai bentuk ekspresi simpati dan solidaritas untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pagi ini kita samakan hati dengan mereka, kita hormati kekuatan serta kebudayaan mereka dengan menempatkan cerita mereka di tengah-tengah perayaan kita pagi ini,” sebut Christine Kristiati, Presiden dari Indonesian Heritage saat sambutan pembuka.
Memang, bahkan sebelum acaranya resmi dibuka, sambil menunggu tamu undangan tiba acara sudah disuguhi alunan instrumen musik Gemu Fa Mi Re dan Tabola Bale yang dibawakan oleh studygroup Arumba dari Saung Angklung Udjo, Bandung.
Kedua lagu asal NTT yang cukup populer di media sosial. Menariknya, segala personil yang memainkan alat musiknya bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari berbagai negara lainnya.
Selain itu, para undangan juga disuguhkan dengan beragam kuliner daerah khas Indonesia seperti salah satunya nasi kucing, lontong isi, dan sup jagung khas NTT.
Lebih Dekat dengan Indonesian Heritage Society
Setelah pembukaan dari kepala Museum Nasional dan beberapa petinggi Indonesian Heritage Society, barulah acara masuk ke sesi utamanya. Tidak hanya mengenalkan profil dan tim pengurus yang terlibat, pada sesi ini mereka mengenalkan program-program dari beberapa divisi yang berbeda.
Dari Explorers yang rencananya ke beberapa tempat yang berbeda di Jakarta, Rumahku yang akan tetap mengajak belajar di kediaman Duta Besar di Jakarta, dan Coffee Morning yang kembali jadi ruang untuk mengenalkan kekayaan kuliner Nusantara.
Satu hal yang menarik dari sesi ini, meski payungnya “IndonesianHeritage” tetapi IHS memiliki ragam divisi yang dikelola oleh grup kewarganegaraan asing. Misalnya seperti French Sections yang memiliki enam program dengan tagline “Discover Indonesia & Connect Culture”, ada juga tur museum yang dipandu oleh Japanesesections, dan KoreanSections yang memiliki program merangkul pelajar sekolah.
Eksplorasi Kekayaan Budaya Indonesia di Museum Nasional Bersama Pemandu Dari IHS
Sebagai sesi penutup, para undangan diajak untuk berkeliling Museum Nasional dan dipandu oleh divisi museum dari Indonesian Heritage Society. Tur kali ini menggunakan bahasa Inggris, di mana merupakan pengenalan salah satu programnya juga.
Meski terbilang cukup singkat, tetapi rangkaian tur tersebut mengajak partisipannya melihat lebih dekat tentang peninggalan kebudayaan Indonesia dan menjadi pemantik untuk nantinya mendorong para undangan untuk eksplorasi mandiri melihat koleksi yang ada disana.
Satu hal yang bisa disoroti, tur kali ini cukup banyak mengajak ke area lantai 3 Museum Nasional. Di sini para undangan diajak untuk lebih dekat pada cikal bakal pembentukan Indonesia dari masa penjajahan Belanda, seperti salah satunya cerita dari peninggalan Keris Gajah Dompak dari Kerajaan Sisingamangaraja.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


