lestarikan warisan leluhur berkawan gnfi ajak generasi muda belajar aksara jawa bersama komunitas segajabung di museum kotagede - News | Good News From Indonesia 2026

Lestarikan Warisan Leluhur, BerKawan GNFI Ajak Generasi Muda Belajar Aksara Jawa Bersama Komunitas Segajabung di Museum Kotagede

Lestarikan Warisan Leluhur, BerKawan GNFI Ajak Generasi Muda Belajar Aksara Jawa Bersama Komunitas Segajabung di Museum Kotagede
images info

Kawan GNFI


Halo, Kawan GNFI! Setelah membaca buku bareng, menyusuri kawasan bersejarah, berkunjung ke museum, jelajah situs geopark, bus tour, hingga belajar siaran radio di RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu, BerKawan Yogyakarta kali ini menghadirkan workshop Aksara Jawa, berkolaborasi dengan Komunitas Segajabung.

Bertempat di Museum Kotagede, acara ini diselenggarakan pada Minggu, 18 Oktober 2026. Dengan mengusung tema "Kala di Museum Kotagede: Jelajah Sejarah dan Sinau Bareng Aksara Jawa", BerKawan kali ini bertujuan mengenalkan kembali sejarah dan warisan budaya, khususnya Aksara Jawa kepada generasi muda sekaligus sebagai wadah untuk saling bertemu, berjejaring, dan mempererat keakraban antaranggota komunitas.

Dengan peserta kurang lebih 25 orang, Kawan GNFI tidak hanya diajak untuk belajar bareng Aksara Jawa, tetapi juga menjelajahi langsung Museum Kotagede dan seru-seruan bareng di Games Challenge. Mau tahu bagaimana keseruannya? Siapkan teh dan cemilanmu, ayo ikut BerKawan membayangkan kembali ke jejak masa lalu!

Membangun Keakraban Lewat Sesi Perkenalan

Dimulai pada pagi hari sekitar pukul 08.30-an, setelah pembukaan acara, setiap Kawan GNFI yang ikut langsung diberikan kesempatan untuk memperkenalkan dirinya. Menariknya, hal terunik dari sesi ini adalah saat mereka harus menceritakan asal daerah atau domisili masing-masing. Kawan GNFI hanya boleh menyebutkan beberapa clue berupa "kuliner khas" yang kemudian harus ditebak oleh yang lain.

Mulai dari clue yang mudah ditebak sampai yang sedikit nyeleneh, gelak tawa sampai saling berinteraksi antara peserta sudah mulai tampak meskipun belum masuk ke inti acara. Dari sesi ini terlihat bahwa Kawan GNFI yang mengikuti acara kali ini banyak yang berasal dari luar Yogyakarta, seperti Jakarta, Kebumen, Pemalang, Klaten, Lamongan, Semarang, dan sebagainya.

Mengenal Sejarah Kotagede Lewat Tur Museum

Setelah saling berkenalan, Kawan GNFI lalu diajak mengelilingi Museum Kotagede. Bersama edukator museum, peserta dijelaskan tentang sejarah Kotagede hingga koleksi-koleksi yang terdapat di museum. Berlokasi di Jalan Tegalgendu No. 20, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta, Museum Kotagede menempati bangunan bersejarah yang awalnya merupakan rumah pribadi salah seorang perempuan Kalang tersohor yang bernama Ibu Hadi Noerijah. Pada tahun 2015, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta membeli rumah tersebut dan mengubahnya menjadi museum yang dibuka pada tahun 2021.

Museum Kotagede atau yang disebut juga Intro Living Museum Kotagede tidak hanya menampilkan artefak sejarah, tetapi juga memberikan paparan menyeluruh tentang sejarah, warisan budaya, dan perkembangan kawasan Kotagede. Intro yang berarti sebuah titik awal, menandakan museum ini sebagai pengantar untuk memahami Kotagede secara keseluruhan. Sementara Living Museum atau Museum Hidup diadopsi untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya mereka.

Museum Kotagede dibagi menjadi empat klaster, yaitu klaster situs arkeologi dan lanskap sejarah; klaster seni pertunjukan, sastra, adat-tradisi, dan kehidupan keseharian; klaster kemahiran teknologi tradisional; serta klaster pergerakan sosial kemasyarakatan. Pada klaster situs arkeologi dan lanskap sejarah, menampilkan peninggalan sejarah dan arkeologi Kotagede. Salah satunya adalah Watu Gilang yang konon digunakan sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati.

Klaster seni pertunjukan, sastra, adat-tradisi, dan kehidupan keseharian mengangkat corak kebudayaan yang bersifat takbenda, mulai dari kuliner khas seperti Kembang Waru, Kipo, Yangko, dan Legomoro; serta seni pertunjukan dan upacara adat yang berkembang di Kotagede. Informasi mengenai peninggalan arsitektur dan kriya perak sebagai kerajinan khas Kotagede ditampilkan dalam klaster kemahiran teknologi tradisional. Sementara itu, klaster pergerakan sosial kemasyarakatan menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan organisasi sosial-kemasyarakatan di Kotagede.

Salah satu bagian paling menarik dari Museum Kotagede adalah keberadaan bunker yang diyakini digunakan untuk menyimpan harta keluarga dan konon terhubung dengan Restoran Sekar Kedhaton. Selain itu, terdapat layar interaktif dan video informatif yang diaktifkan oleh sensor sehingga meningkatkan pengalaman tersendiri, misalnya di ruangan kuliner.

Museum Kotagede sendiri buka dari Selasa hingga Minggu, kecuali pada hari Senin dan libur nasional, pada pukul 08.00 hingga 15.30 (untuk Jumat sampai pukul 14.00). Selain pameran, museum ini juga mengadakan program Ngepit, yakni menjelajahi Kotagede sambil bersepeda. Program ini mengundang peserta untuk mengeksplorasi Kotagede sambil mempelajari sejarah dan budayanya. Setelah mengelilingi museum, Kawan GNFI diajak untuk berfoto bersama di depan museum sebelum memulai sesi belajar Aksara Jawa.

Sinau Bareng Aksara Jawa

Memasuki acara utama, Kawan GNFI kemudian bersama-sama duduk lesehan di pendopo museum untuk mendengarkan pemaparan materi dari Komunitas Segajabung. Sebagai informasi, Segajabung merupakan komunitas yang bergerak pada pelestarian dan pengembangan aksara Jawa, baik yang bersifat manual maupun digital. Komunitas ini lahir pada 31 Agustus 2019 dari tangan Setya Amrih Prasaja, S.S., aktivis Aksara Jawa sekaligus filolog. Singkatan dari Seneng Gaul Aksara Jawa Adiluhung, Segajabung didirikan untuk menampung kreativitas generasi milenial yang masih peduli dengan Aksara Jawa, namun tidak memiliki ruang gerak dan ekspresi yang memadai. Sejak berdiri hingga sekarang, komunitas ini sudah sering menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan Aksara Jawa.

Bagi Kawan GNFI yang tertarik untuk belajar Aksara Jawa bisa datang langsung ke Sekretariat Sega Jabung yang bertempat di Jalan Tjokro Salim, Serayu, Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Informasi selengkapnya bisa Kawan telusuri melalui akun Instagram @segajabung maupun websitenya yaitu segajabung.id. Saat ini, Segajabung dipimpin oleh Singgih Indarta sebagai ketua komunitas.

Materi pertama adalah sejarah dan mitologi tentang Aksara Jawa yang dibawakan langsung oleh Firnanda Wakhid. Menurutnya, "dalam mengenal sejarah Aksara Jawa, masih banyak dari kita yang memahaminya sebatas yang dinarasikan pada sosok Ajisaka." Ajisaka digambarkan sebagai pengembara dari luar Jawa (Hindustan dsb) yang datang ke Jawa untuk melawan penguasa lokal yang berwujud raksasa dan kejam bernama Dewata Cengkar.

Ajisaka menitipkan keris pusakanya kepada pengawalnya, Sembada, di Pulau Majeti, sementara pengawal lainnya, Dora, diajak ke Medang Kamulan. Ajisaka kemudian menyuruh Dora mengambil keris tersebut, tetapi Sembada menolak karena memegang teguh pesan agar keris hanya diserahkan langsung kepada Ajisaka. Terjadilah pertarungan sakti yang menyebabkan kedua pengawal itu tewas.

Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya, Ajisaka menciptakan 20 aksara dasar (Carakan) yang dikenal dengan susunan:

• Ha-Na-Ca-Ra-Ka (Ada utusan)

• Da-Ta-Sa-Wa-La (Saling berselisih)

• Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (Sama-sama sakti)

• Ma-Ga-Ba-Tha-Nag (Sama-sama menjadi mayat)

"Padahal, Aksara Jawa memiliki perjalanan panjang sebuah peradaban literasi bagi orang Jawa, sebagai hasil evolusi panjang dari masa-masa sebelumnya." tutur Firnanda Wakhid. Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Nusantara membawa tradisi tulis-menulis menggunakan aksara asal India. Bermula dari Aksara Pallawa, lalu beradaptasi dan berkembang sebagai Aksara Kawi (Jawa Kuno) hingga akhirnya menjadi Aksara Carakan yang kita kenal saat ini.

Materi kedua adalah media tulis aksara yang dijelaskan langsung oleh Afifah Adzkiya. Media tulis aksara merupakan benda atau bahan fisik yang digunakan sebagai tempat untuk menorehkan atau menuliskan aksara. "Dalam perkembangannya, media tulis aksara meliputi media batu, logam, lontar, kertas, plat dan mesin ketik, sampai media digital. Media batu misalnya digunakan pada prasasti era Kerajaan Hindu-Buddha seperti Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai dan Prasasti Ciaruteun dari Kerajaan Tarumanegara." tutur Afifah. Pada bagian ini, Kawan GNFI juga diberikan kesempatan langsung untuk melihat beberapa media tulis aksara dari lontar dan daluang/dluwang. Lontar sendiri berupa lembaran daun yang dikeringkan yang terbuat dari daun pohon siwalan dan ditulis menggunakan pisau khusus, sedangkan daluang berupa kertas yang terbuat dari kulit kayu pohon saeh melalui proses pemukulan.

Materi ketiga adalah tata tulis Aksara Jawa yang dipaparkan oleh Latifa Margia Romadloni. Menurutnya, untuk memulai belajar menulis Aksara Jawa, terdapat aturan dasar dan tata tulis yang perlu dipahami. Pertama, ditulis dari kiri ke kanan. Kedua, bersifat syllabic/suku kata (setiap aksara terdiri dari konsonan yang sudah otomatis bervokal ‘A’ ) “ha na ca ra ka”. Ketiga, scriptiocontinua (tanpa spasi/ndlujur). Keempat, aksara ha bisa menggantikan huruf A dan bisa menjadi “i u é ě o“ jika diberi sandhanganswara/vokal, meskipun ada aksara swara “a i u é ě o”. Kelima, mempunyai dua bentuk aksara (nglegena & pasangan ). Dan keenam, fungsi pangkon.

Setelah dijelaskan mengenai aturan dasar dan tata tulis tersebut, Kawan GNFI lalu diajak untuk praktik menulis langsung Aksara Jawa dengan menuliskan nama masing-masing di kertas HVS dan daluang yang sudah disediakan. Pada sesi ini, peserta sangat antusias dan serius untuk belajar Aksara Jawa. Mereka bukan hanya memperhatikan materi yang dijelaskan, tetapi juga turut berdiskusi dan tanya jawab.

Seru-seruan di GamesChallenge "Teka Teki Silang"

Seusai belajar Aksara Jawa bersama Komunitas Segajabung, Kawan GNFI kemudian diajak mengikuti GamesChallenge berupa Teka Teki Silang yang berisi 20 pertanyaan seputar Kotagede. Tiga pemenang terbaik akan diberikan hadiah menarik. Mereka kemudian dibagi menjadi 4 kelompok yang berisi 5-6 anggota. Dengan waktu 15 menit, setiap kelompok harus bergegas menemukan jawaban dan mengisinya. Menariknya, setiap kelompok dilarang mencari jawaban melalui alat bantu handphone atau Google.

Mengingat durasi waktu games yang sudah habis, setiap kelompok harus segera menyerahkan jawabannya untuk menentukan pemenangnya. Setelah dinilai hasilnya, ternyata terdapat dua kelompok yang memiliki kesamaan skor untuk memperebutkan posisi ketiga. Untuk menentukan posisi tersebut, perwakilan dari kelompok 3 dan 4 diajak untuk gunting batu kertas untuk menentukan pemenangnya. Dengan sedikit rasa tegang, kelompok 4 yang akhirnya menempati posisi ketiga. Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh kelompok 1 dan posisi pertama ditempati oleh kelompok 2. Bukan hanya diberikan hadiah, pemenang juara 1 juga mendapatkan kertas daluang yang diberikan langsung oleh Komunitas Segajabung.

Menginjak berakhirnya acara, Kawan GNFI juga diberikan kesempatan untuk mencicipi langsung Kipo, sebagai salah satu kuliner khas Kotagede. Kipo merupakan kue dengan warna hijau kecokelatan yang terbuat dari tepung ketan dengan isian unti kelapa atau enten-enten. Menariknya Kawan, kuliner ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2019.

Dengan acara ini, Kawan GNFI tidak sekadar berkumpul, tetapi juga menumbuhkan rasa kebanggaan dan kepedulian untuk mengenal menjaga, dan melestarikan sejarah dan warisan budaya.

Nah, Kawan GNFI, selanjutnya, mau ke mana lagi kita, ya?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.