Oleh Ari J. Palawi
Lingkar Wali Sustainable Platform for Society (SPS Revival); Founder Geunta Seni Jauhari (GSJ); Interim Master in Creative Arts and Cultural Studie (MACS) Task Force Team – Sekolah Paskasarjana (SPs) USK.
Pada generasi Marzuki Hasan, yang dikenal sebagai Pak Uki, pertunjukan Ratoh dapat berlangsung dari selepas Isya sampai Subuh. Kemampuan bertahan selama itu bukan sekadar soal tenaga. Para pelaku menguasai banyak bahan dan variasi melalui latihan bertahun-tahun. Dalam transkrip wawancara saya, Pak Uki mengatakan, “Kelihatan nanti dalam pertunjukan mana yang sudah lama berlatih dan mana yang baru.”
Pengalaman itu mengingatkan kita bahwa kemahiran tidak muncul hanya karena seseorang mampu mengikuti gerak. Ada proses belajar dan pengetahuan yang tidak selalu terlihat oleh penonton.
Format pertunjukan sekarang berbeda. Sebagai contoh, lomba video Ratoh Jaroe yang diselenggarakan Badan Penghubung Pemerintah Aceh pada 2021 menetapkan durasi 8–10 menit. Ketentuan lomba tersebut bukan gambaran semua pertunjukan Ratoh, tetapi menunjukkan bagaimana kesenian menyesuaikan diri dengan kebutuhan acara. Pertanyaannya: ketika durasi berubah, apa lagi yang ikut berubah—cara belajar, penguasaan materi, hubungan antarpelaku, dan pemahaman terhadap tradisi?
Pak Uki memiliki pengalaman panjang dalam kehidupan seni Aceh. Profil Indonesian Dance Festival tahun 2022 mencatat perjalanan lebih dari lima puluh tahun beliau bersama Nurdin Daud dalam memperkenalkan dan mengembangkan tari Aceh. Sejak kecil, beliau belajar berbalas syair dan pantun di meunasah. Pengalaman seperti ini penting karena memperlihatkan bahwa pengetahuan seni tumbuh melalui praktik, bukan hanya dari apa yang terlihat di panggung.
Baca Selengkapnya

