ini strategi badan bahasa agar buku bacaan bermutu bisa tepat sasaran - News | Good News From Indonesia 2026

Ini Strategi Badan Bahasa agar Buku Bacaan Bermutu Bisa Tepat Sasaran

Ini Strategi Badan Bahasa agar Buku Bacaan Bermutu Bisa Tepat Sasaran
images info

Hafidz Muksin. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)


Hafidz Muksin adalah Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sosok lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Adminisrasi Negara (STIA LAN) dan Universitas Moestopo ini telah menjabat posisi strategis tersebut sejak 2025.

Sedari awal, Hafidz telah banyak bekerja bersinggungan dalam bidang perencanaan, tata kelola pemerintahan, literasi, serta pengembangan dan pembinaan bahasa. Dan kini sebagai kepala Badan Bahasa sejumlah tantangan tengah dihadapinya, salah satunya mengkampanyekan pemahaman orang Indonesia terhadap bahasa ibunya sendiri.

Kehadiran Badan Bahasa bagi bangsa Indonesia teramat penting menurut Hafidz. Buktinya terdapat di tiga tugas utama yang diemban Badan Bahasa yakni pengembangan, pembinaan dan perlindungan dalam bidang bahasa dan kesusastraan.

“Tiga tugas utama inilah yang mengawal salah satu lambang negara kita yaitu bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia suku, bahasa, dapat bersatu sehingga kita bisa meraih kemerdekaan 1945. Inilah pentingnya lembaga ini sebagai lembaga yang menjaga identitas negara dan bangsa Indonesia,” ucap Hafidz kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Selain tiga tugas utama, Badan Bahasa juga memiliki program prioritas yaitu menjaga permartabatan sastra Indonesia, peningkatan kecakapan literasi, pelestarian bahasa daerah, dan menginternasionalkan bahasa Indonesia. Untuk program terakhir sendiri sudah diimplementasikan belum lama ini di forum UNESCO.

“Sekarang bahasa Indonesia telah diakui sebagai bahasa resmi di forum UNESCO. Dalam sidang umum UNESCO menjadi bahasa resmi yang ke-10,” ungkap Hafidz.

Berbahasa Indonesia Baik dan Benar

Tidak semua orang Indonesia memahami bahasanya sendiri. Banyak kesalahpahaman terjadi karena minimnya pengetahuan dalam memaknai kata atau tulisan. Misalnya kata “acuh” yang sebenarnya berarti “peduli”, banyak orang Indonesia mengira mengartikan kata tersebut justru sebaliknya yakni “tidak peduli”.

Kedengarannya sepele, tetapi inilah yang menjadi tantangan dari Badan Bahasa. Di mata Hafidz sendiri masyarakat Indonesia masih terbilang rendah memaknai bahasa Indonesia dan semakin tingginya pemakaian bahasa asing terutama di keseharian.

“Tantangan pertama tentu adalah sikap positif masyarakat terhadap masyarakat terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar tentu masih rendah. Kenapa? Karena kita melihat terkadang kita lebih suka atau lebih dikatakan keren kalau menggunakan bahasa asing. Padahal di forum nasional yang forum resmi di mana undang-undang, Perpres bahkan, sekarang sudah ada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar Menengah nomor dua tentang pedoman pengawasan penggunaan bahasa Indonesia,” kata Hafidz.

Bahasa asing memang wajar dan wajib untuk dipelajari, meskipun imbasnya tercipta fenomena di tengah masyarakat yang membuat bahasa Indonesia menjadi tersisihkan. Padahal banyak dari bahasa asing yang kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia dan sayangnya tidak banyak orang Indonesia tahu atau minim menggunakannya. Misalnya kata “perekik” yang biasa digunakan dalam bahasan sepak bola diambil dari kata “freekick”.

“Beberapa kosakata yang ada di KBBI juga merupakan serapan dari bahasa asing. Artinya kalau memang tidak ada itu bisa digunakan setelah dibakukan dalam kaidah kebahasaan dan tentu ini sekali lagi satu unsur yang memang harus ada kesadaran, harus ada kebanggaan terhadap bahasa Indonesia,” ujar Hafidz.

Strategi Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu

Badan Bahasa belum lama ini telah mendistribusikan lima juta lebih eksemplar buku bacaan bermutu untuk SD dan SMP di seluruh provinsi di Indonesia. Harapannya tentu dari situ anak-anak Indonesia dapat tergerak hatinya untuk meningkatkan budaya literasi sejak dini.

Namun, apakah gerakan pendistribusian buku bacaan bermutu sudah cukup untuk meraih misi tersebut? Menurut Hafidz, Badan Bahasa menetapkan strategi khusus salah satunya anak-anak mesti mengulas buku bacaan bermutu yang sudah diterima.

“Kita ada aktivitas mengulas buku. Jadi anak-anak diberikan bacaan, mereka baca, kemudian mereka pahami. Ini judulnya apa? Siapa tokoh yang ada di sana? Bagaimana jalan ceritanya? Apa yang mungkin bisa dilihat dari sana? Jadi berbasis kontekstual untuk betul-betul memahami sumber bacaan baik dari jalan ceritanya sampai ilustrasinya,” kata Hafidz yang menegaskan strategi ini dilakukan untuk anak-anak SD.

Bagi anak SMP, level strateginya ditingkatkan. Badan Bahasa berharap pelajar SMP bisa meningkatkan kemampuan bacanya dalam hal kecepatan menandaskan suatu bacaan.

“Menanamkan kesiapan dan membaca dengan cepat namun tanpa mengganggu pemahaman informasi yang didapatkan. Jadi bagaimana ini penting juga supaya tentu kalau tingkat dasar kan membacanya masih patah-patah, belum lancar. Namun, dengan bacaan ringan yang mudah itu akan mudah. Nah, untuk SMP jenjangnya sudah novel, jadi narasinya sudah banyak, tidak hanya dua baris, bahkan lebih banyak, gambarnya lebih sedikit,” jelas Hafidz.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.