Tanah Datar, pasbana - Ada perjalanan yang jaraknya diukur dengan kilometer. Ada pula perjalanan yang ukurannya justru berada di dalam ingatan.
Bagi diaspora Minangkabau asal Negeri Sembilan, Malaysia, perjalanan ke Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pada Selasa (8/9/2026), menjadi lebih dari sekadar kunjungan budaya. Ia seperti membuka kembali pintu rumah lama—tempat sejarah, adat, dan identitas leluhur berkelindan.
Dalam rangkaian “Pulang Kampuang Ka Ranah”, rombongan terlebih dahulu berdialog di UIN Mahmud Yunus Batusangkar melalui diskusi “Ranah dan Rantau: Mengenal Minangkabau dari Perspektif Sejarah dan Budaya”. Dari ruang akademik, perjalanan berlanjut ke Nagari Pariangan, Batu Batikam dan Batu Basurek di Nagari Limo Kaum, hingga Istano Basa Pagaruyung.
Tempat-tempat itu bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah kepingan penting untuk memahami bagaimana Minangkabau membangun identitas, adat, dan kehidupan sosialnya.


