Hai, Kawan GNFI! Setelah menjelajahi museum, menonton film bersama, hingga belajar aksara bersama di Perpusnas beberapa waktu lalu, BerKawan Jabodetabek kali ini menghadirkan workshop mendongeng, berkolaborasi dengan komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI).
Diadakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, acara tersebut bertempat di Social Enterprise Hub, Benhil. BerKawan yang terbaru ini mengusung tema "Menjelajahi Imajinasi lewat Mendongeng.”
Energi positif langsung terasa sejak pukul 10.00 WIB, ketika para peserta dari berbagai latar belakang mulai berdatangan. Tidak hanya mereka yang sudah biasa mendongeng, beberapa di antaranya juga guru PAUD, pustakawan dari Perpusnas, hingga pelaku seni teater. Mereka semua berkumpul dengan satu tujuan, yakni belajar merajut cerita untuk menghidupkan kembali imajinasi.
Nah, sebagai informasi Kawan, Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI) sendiri merupakan komunitas sosial berbasis kerelawanan yang telah berdiri sejak tahun 2011. Kelompok ini telah berusaha mengembalikan budaya mendongeng dan melestarikan cerita daerah dengan konsisten, terutama di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.
Yang menarik, AyoDi juga aktif bergerak melalui berbagai program kreatif, seperti Dongeng Kejutan, Kelas Dongeng, hingga Festival Dongeng Internasional Indonesia.
Di acara BerKawan, workshop kali ini dipandu langsung oleh Kak Budi, sosok berpengalaman yang telah lama mendedikasikan dirinya dalam ekosistem cerita. Selain pernah dipercaya sebagai Direktur Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) 2022, Kak Budi juga sedang fokus mengembangkan Sekolah Cerita Indonesia (Imaginatory). Ini adalah sebuah wadah belajar mendongeng baik secara online maupun offline bagi siapa saja yang ingin mengasah keterampilan bercerita.
Dalam pemaparan materi, Kak Budi membuka sudut pandang baru bahwa mendongeng sesungguhnya adalah seni berkomunikasi dan sarana menciptakan pengalaman bersama. Manfaatnya pun banyak, termasuk membangun ikatan batin yang sangat kuat antara orang tua atau pendidik dengan anak hingga pembentukan perilaku positif.
Untuk memulai perjalanan menjadi seorang storyteller, Kak Budi membagikan dua teknik utama yang bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan audiens, yakni membaca dengan nyaring dan bercerita kreatif dengan bahasa sendiri hingga eksplorasi alat bantu agar lebih ekspresif.
Keseruan workshop tak berhenti saat para peserta BerKawan ditantang dalam sebuah simulasi kelompok. Dalam waktu 15 menit, mereka harus menyusun sebuah konsep dongeng 3 babak yang menyasar audiens anak-anak TK dan berbentuk gambar. Setiap kelompok bergantian membawakan karya mereka dengan gaya storytelling yang ekspresif layaknya pendongeng profesional.
Melalui kegiatan BerKawan ini, Kak Budi menaruh harapan besar agar semangat belajar ini tidak padam begitu saja setelah acara usai. Harapan terbesarnya adalah agar anak-anak muda pulang membawa rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk mulai bercerita.
“Menurut saya, anak muda bukan hanya audiens dari cerita, tetapi bisa menjadi pencipta. Karena itu saya berharap anak muda bisa membawa cerita ke ruang-ruang baru,” sebut Kak Budi saat diwawancara.
Di sisi lain, teknologi sering kali dianggap menjauhkan anak-anak dari buku. Namun menariknya, di mata Kak Budi, kehadiran media sosial, video pendek, podcast, animasi, hingga kecerdasan buatan (AI) justru merupakan kesempatan emas bagi ekosistem dongeng.
“Anak muda punya kemampuan untuk membuat cerita menjadi relevan dengan kehidupan generasinya. Mereka bisa menemukan bahasa, humor, visual, dan medium yang lebih dekat dengan teman-teman sebayanya. Jadi saya melihat anak muda sebagai jembatan antara cerita masa lalu dengan generasi masa depan,” tutupnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


