sente dan talas raksasa hijau dari kebun raya yang menyimpan cerita pangan - News | Good News From Indonesia 2026

Sente dan Talas: Raksasa Hijau dari Kebun Raya yang Menyimpan Cerita Pangan

Sente dan Talas: Raksasa Hijau dari Kebun Raya yang Menyimpan Cerita Pangan
images info

Talas raksasa di Kebun Raya Bogor. Foto: Fabian S.R.


Di antara rimbunnya vegetasi Kebun Raya Bogor, dua tumbuhan berdaun raksasa dari keluarga talas-talasan atau Araceae tampak seperti tanaman dari negeri dongeng.

Keduanya adalah sente (Alocasia macrorrhizos) dan talas padang (Colocasia gigantea), yang sekilas sulit dibedakan karena sama-sama memiliki daun berukuran besar.

Padahal, keduanya berbeda genus, karakter morfologi, serta pemanfaatannya. Kehadiran kedua tumbuhan tersebut memperlihatkan betapa kaya dan beragamnya sumber daya hayati yang sering luput dari perhatian kita.

Sente dikenal pula dengan nama bira dan merupakan salah satu anggota Alocasia yang memiliki penampilan mencolok. Daunnya dapat berukuran sangat besar, sementara tanaman ini menyukai lingkungan lembap dan tanah yang kaya bahan organik.

Dalam bahasa Inggris, A. macrorrhizos dikenal sebagai giant taro atau elephant ear, nama yang cukup menggambarkan sosoknya yang menyerupai telinga gajah. Kawan GNFI, dari sini kita dapat melihat bahwa sebuah tanaman tidak sekadar memiliki nama lokal, tetapi juga membawa pengetahuan masyarakat dan sejarah pemanfaatan yang panjang.

baca juga

Menariknya, perbedaan antara sente dan talas padang dapat diamati dari bentuk daun dan posisi tangkainya. Pada sente, permukaan daun cenderung lebih mengilap dan tangkai daun melekat pada bagian yang lebih dekat dengan pangkal daun, sedangkan pada Colocasia karakter perlekatan tangkai berbeda sehingga arah helaian daun tampak khas.

Foto: Fabian S.R.

Perbedaan kecil seperti ini penting bagi ilmu botani karena membantu peneliti mengenali, mengelompokkan, dan mendokumentasikan keanekaragaman tumbuhan. Identifikasi semacam itu juga menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya genetik tanaman.

Adapun talas padang, yang secara ilmiah disebut Colocasia gigantea (Blume) Hook.f., merupakan salah satu komoditas yang telah dicatat Kementerian Pertanian Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi dengan daun berbentuk hati atau perisai dan tangkai yang panjang, bahkan dapat mencapai sekitar satu meter.

Umbinya dapat berukuran sangat besar, tetapi bagian yang dikenal dimanfaatkan masyarakat terutama adalah tangkai daunnya sebagai sayuran. Karena itu, penyebutan “talas” tidak selalu berarti semua bagian tanaman dapat diperlakukan dan dikonsumsi dengan cara yang sama.

Ada satu hal penting yang membuat keluarga talas-talasan menarik sekaligus perlu diperlakukan dengan pengetahuan. Sejumlah tanaman dalam kelompok ini mengandung kalsium oksalat, senyawa yang dapat menimbulkan rasa gatal dan iritasi apabila tanaman dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat.

Penelitian dan informasi pertanian menunjukkan bahwa pengolahan merupakan bagian penting dalam pemanfaatan talas sebagai pangan.

Dengan kata lain, tradisi mengolah talas sebelum disantap bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan berkaitan dengan karakter kimia alami tanaman tersebut.

Namun, cerita tentang tanaman raksasa ini tidak berhenti pada urusan pangan. Talas memiliki kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang beragam, termasuk kondisi tergenang, tanah tertentu yang kurang ideal, dan lingkungan teduh. Keragaman tersebut menjadikan kelompok talas menarik untuk dikaji dalam konteks pertanian, ketahanan pangan, dan konservasi sumber daya genetik.

baca juga

Penelitian terhadap koleksi talas lokal di Pulau Jawa, misalnya, menemukan variasi morfologi yang menunjukkan bahwa kekayaan genetik tanaman pangan lokal masih menyimpan banyak kemungkinan untuk dipelajari dan dimanfaatkan.

Dari perspektif bioteknologi, keragaman tersebut merupakan modal yang sangat berharga. Sumber daya genetik tanaman dapat dikarakterisasi melalui pengamatan morfologi dan, bila diperlukan, diperkuat dengan karakterisasi molekuler untuk mengetahui hubungan serta tingkat keragamannya secara lebih akurat.

Pada tanaman hias dari kelompok Alocasia, teknik kultur jaringan juga telah diteliti sebagai salah satu cara memperbanyak tanaman secara lebih terkontrol sekaligus mengurangi tekanan terhadap populasi yang diperoleh dari alam. Pendekatan semacam ini mempertemukan botani, bioteknologi, dan konservasi dalam satu tujuan: memanfaatkan tanaman tanpa mengorbankan keberlanjutannya.

Perspektif lingkungan juga membuat kedua tanaman tersebut semakin menarik. Tanaman berdaun besar yang tumbuh di kawasan lembap merupakan bagian dari komunitas vegetasi yang membantu membentuk struktur habitat mikro bagi organisme lain.

Di sisi lain, keberadaan plasma nutfah talas lokal perlu dijaga karena setiap varietas atau aksesi dapat menyimpan karakter yang berguna bagi pemuliaan tanaman pada masa depan. Kawan GNFI, ketika kita menjaga satu tanaman lokal, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kemungkinan lahirnya inovasi pangan dan pertanian pada masa mendatang.

Indonesia sendiri memiliki modal besar untuk mengembangkan tanaman umbi sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Kementerian Pertanian mencatat talas sebagai salah satu kelompok tanaman yang dapat dikembangkan, sementara berbagai sumber pertanian menunjukkan potensi talas sebagai bahan pangan dan bahan baku pengolahan.

Tantangannya bukan sekadar memperbanyak produksi, melainkan memastikan bahwa pemanfaatannya berbasis pengetahuan: mengenali jenis, memahami bagian yang dapat dimanfaatkan, menguasai pengolahan yang aman, serta menjaga sumber daya genetiknya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.