mengenal orang utan kalimantan penghuni hutan borneo yang terancam punah - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Orang Utan Kalimantan, Penghuni Hutan Borneo yang Terancam Punah

Mengenal Orang Utan Kalimantan, Penghuni Hutan Borneo yang Terancam Punah
images info

Mengenal Orang Utan Kalimantan, Penghuni Hutan Borneo yang Terancam Punah | Foto: (Simone Dinoia | Unsplash)


Di antara rimbunnya pepohonan Kalimantan, seekor orang utan bergerak perlahan dari satu dahan ke dahan lain.

Lengannya yang panjang membantunya meraih makanan, sementara pepohonan menjadi tempat berlindung sekaligus ruang untuk mencari buah, daun, dan biji.

Saat malam tiba, orang utan akan membangun sarang dari dedaunan di atas pohon sebagai tempat beristirahat. Kehidupan tersebut terlihat sederhana, tetapi sangat bergantung pada hutan yang masih mampu menyediakan ruang dan makanan.

Persoalannya, ruang hidup itu tidak selalu tersedia dalam kondisi yang sama. Hutan terus menghadapi perubahan fungsi lahan, kebakaran, hingga aktivitas perkebunan dan pertambangan.

Lantas, seperti apa sebenarnya kehidupan orang utan Kalimantan, dan apa yang membuat keberadaannya begitu penting?

Mengenal Penghuni Kanopi Borneo dari Dekat

Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki penampilan yang mudah dikenali. Tubuhnya diselimuti rambut panjang dan kusut dengan warna merah tua hingga kecokelatan. Warna wajahnya dapat bervariasi, mulai dari merah muda, merah, hingga hitam.

Ukuran tubuhnya juga tergolong besar. Orang utan jantan dewasa dapat memiliki berat sekitar 90 kilogram dengan tinggi hingga 1,5 meter. Sementara itu, betina memiliki berat sekitar 50 kilogram dan tinggi sekitar 1 meter.

Bagian wajah menjadi salah satu karakter yang mencolok. Orang utan Kalimantan memiliki bantalan wajah yang lebar, kepala besar, serta posisi mulut yang relatif tinggi.

Pada jantan dewasa, terdapat kantong suara di bagian tenggorokan yang dapat mengembang dan membantu menghasilkan suara keras untuk berkomunikasi serta menarik perhatian.

Lengan panjang dan kuat membantu orang utan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka juga memiliki pola makan yang beragam, dengan buah sebagai salah satu sumber makanan utama.

Orang utan Kalimantan sendiri terbagi menjadi tiga subspesies dengan wilayah persebaran berbeda, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.

baca juga

Beda Orang Utan Kalimantan dan Sumatra

Apa bedanya orang utan Sumatra dan Kalimantan? Perbedaannya dapat dilihat dari bentuk tubuh, warna rambut, wajah, hingga perilakunya.

Orang utan Kalimantan umumnya memiliki tubuh lebih besar dan rambut merah tua kecokelatan yang lebih gelap.

Sementara itu, orang utan Sumatra cenderung berukuran lebih kecil dengan rambut yang lebih terang dan halus. Rambut pada wajah orang utan Sumatra juga biasanya lebih lebat, terutama di sekitar pipi dan dagu.

Perbedaan juga terlihat pada wajah jantan dewasa. Orang utan Kalimantan memiliki flange atau bantalan pipi yang cenderung lebih lebar dan menonjol ke samping sehingga wajah terlihat lebih besar. Pada orang utan Sumatra, bagian tersebut relatif lebih kecil.

Dari perilakunya, orang utan Kalimantan lebih sering hidup soliter dan memiliki wilayah jelajah yang lebih luas. Mereka juga lebih sering turun ke tanah dibandingkan orang utan Sumatra yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon.

Secara geografis, orang utan Kalimantan hidup di Pulau Borneo, sedangkan orang utan Sumatra ditemukan di Pulau Sumatra. Keduanya kini menjadi spesies yang berbeda, yaitu Pongo pygmaeus dan Pongo abelii.

Berapa Banyak yang Masih Tersisa di Hutan Kalimantan?

Orang Utan
info gambar

Orang Utan Kalimantan | Foto: (Simone Dinoia | Unsplash)


Menurut data Borneo Orangutan Survival, terdapat sekitar 57.530 orang utan Kalimantan yang masih hidup di alam liar. Jumlah ini turun sekitar 80 persen dibandingkan 1973 ketika populasinya diperkirakan mencapai 288.500 individu.

Mereka menghuni hutan hujan tropis, termasuk kawasan dataran rendah, pegunungan hingga ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, serta hutan rawa dan lahan gambut.

Ketika Hutan Menyusut, Rumah Orang Utan Ikut Hilang

Kenapa orang utan Kalimantan menjadi terancam punah? Salah satu ancaman terbesar berasal dari hilangnya dan terfragmentasinya hutan yang menjadi habitat sekaligus sumber makanan mereka.

Ketika hutan berkurang atau terpecah menjadi bagian-bagian kecil, ruang gerak dan ketersediaan makanan ikut terganggu.

Deforestasi, kebakaran hutan, perubahan fungsi lahan, perambahan, perkebunan kelapa sawit, kegiatan agrikultur, hingga pertambangan dapat mempersempit dan memecah habitat orang utan Kalimantan.

Ketika buah sulit ditemukan, orang utan Kalimantan dapat memanfaatkan makanan alternatif seperti kulit kayu dan vegetasi yang lebih keras. Kemampuan tersebut membantu mereka bertahan ketika sumber makanan utama sedang terbatas.

Namun, kemampuan beradaptasi tidak berarti mereka dapat hidup tanpa hutan.

Semakin sempit dan terpisah habitatnya, semakin besar pula tekanan yang harus dihadapi populasi di alam.

baca juga

Menyelamatkan Orang Utan Berarti Menjaga Rumah yang Kita Bagi

Hutan adalah ruang untuk mencari makanan, bergerak, beristirahat, dan berkembang biak.

Orang utan juga memiliki peran ekologis sebagai penyebar biji yang membantu proses regenerasi hutan.

Ketika satwa ini berpindah dan memakan buah, biji yang dibawanya dapat membantu tumbuhnya vegetasi di tempat lain.

Karena itu, hilangnya habitat orang utan bukan hanya berarti berkurangnya ruang bagi satu jenis satwa. Kerusakan hutan juga berdampak pada ekosistem yang lebih luas, termasuk tumbuhan dan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada kawasan tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.