Di sebuah ruang latihan gamelan Pura Wira Loka Natha di Kota Cimahi, suara kendang, gong, gangsa, dan instrumen lainnya berpadu menjadi satu kesatuan. Namun, yang tumbuh di ruang itu bukan hanya musik. Di antara bunyi-bunyi gamelan, tumbuh pula kesabaran, kepedulian, dan kebersamaan yang perlahan menjadikan kelompok ini seperti sebuah ruang keluarga.
Sekaa Gong Gita Shanti telah belajar gamelan sejak 2013. Perjalanan kelompok ini sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi Covid-19 dan kembali aktif pada 2023. Sepanjang perjalanan tersebut, keanggotaan terus mengalami perubahan. Ada anggota yang keluar, anggota baru yang masuk, hingga pergantian posisi pemain pada sejumlah instrumen. Dinamika tersebut masih berlangsung hingga 2026. Sebagian besar anggota berada pada usia di atas 45 tahun, bahkan cukup banyak yang telah memasuki usia pensiun, 60 tahun ke atas.
Secara musikal, kelompok ini telah memiliki kemampuan dasar dan menguasai sejumlah repertoar. Namun, lagu-lagu yang dikuasai umumnya masih relatif pendek dan mudah dimainkan. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dilaksanakannya program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) “Penguatan Literasi Seni dan Kohesi Sosial Sekaa Gong Gita Shanti melalui Pelatihan Gamelan di Kota Cimahi.”
Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIPA Tahun 2026 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia. Kegiatan diketuai oleh I Komang Kusuma Adi, dengan anggota I Putu Riangga Budi Pramana dan Muh. Fadlan Fathurohman.

Penabuh Reyong Gita Shanti sedang berlatih gamelan dengan panduan notasi (Dokumentasi : Koleksi Pribadi I Komang Kusuma Adi,2026)
Melalui pendekatan akademik, latihan mulai diarahkan secara lebih terstruktur, dua kali dalam seminggu. Posisi pemain ditetapkan pada masing-masing instrumen, sementara materi disusun secara bertahap dan diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, khususnya untuk mendukung kegiatan keagamaan Hindu. Yang berbeda, materi tabuhan tidak sengaja disederhanakan agar cepat dimainkan bersama.
Para anggota justru diperkenalkan pada pola permainan dengan kompleksitas tertentu. Setiap instrumen memiliki fungsi dan hubungan dengan instrumen lainnya sehingga permainan seorang anggota membutuhkan kehadiran dan kesiapan anggota yang lain.Di sinilah latihan gamelan mulai menjadi latihan kehidupan.
Pemain yang telah menguasai bagian tertentu harus menunggu pemain lain yang masih belajar. Mereka tidak dapat berjalan sendiri. Sebuah bagian musik baru dapat berkembang ketika bagian lainnya juga siap. Proses tersebut memang membutuhkan waktu. Tetapi, justru dalam proses menunggu itulah anggota belajar bersabar.
Mereka belajar bahwa bermain gamelan bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat bisa. Ada saatnya seseorang memainkan bagiannya, ada saatnya menunggu, membantu, mendengarkan, dan memberi ruang kepada orang lain untuk berkembang.
Kesadaran tersebut perlahan membangun rasa saling membutuhkan. Anggota mulai memahami bahwa setiap instrumen memiliki beban tugas masing-masing dan bahwa keberhasilan permainan tidak ditentukan oleh satu orang.
Lebih jauh lagi, pola hubungan tersebut terbawa ke dalam kehidupan sosial mereka. Di dalam kelompok, setiap orang datang dengan cerita kehidupannya masing-masing. Ada anggota yang harus menjalani hari-hari karena pasangan hidupnya berada jauh, ada yang anaknya bekerja atau bersekolah di luar kota, dan ada pula yang menjalani perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Namun, cerita-cerita personal tersebut tidak menjadi bahan untuk saling menghakimi.
Dalam aktivitas gamelan, nyaris tidak ditemukan percakapan yang mengarah pada gosip atau pembicaraan yang dapat melukai anggota lain. Tanpa banyak kata, mereka tampaknya memahami kondisi satu sama lain. Gestur, perhatian kecil, dan cara mereka memperlakukan sesama anggota menjadi bentuk komunikasi yang jauh lebih bermakna.
Ketika seseorang sedang berada dalam situasi sulit, yang muncul bukan rasa ingin tahu yang berlebihan, melainkan upaya untuk merangkul dan menghibur. Di sela-sela latihan, mereka dapat tertawa lepas. Keunikan karakter masing-masing justru sering menjadi bahan gurauan yang membuat suasana menjadi ringan. Candaan tersebut bukan untuk merendahkan, melainkan menjadi cara untuk saling mendekatkan diri—sebuah humor yang menyimpan keakraban, harapan, dan penerimaan.
Pada saat tertentu, tawa itu mungkin hadir di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah. Ada kerinduan terhadap keluarga. Ada jarak yang harus diterima. Ada perubahan kehidupan yang tidak selalu dapat diceritakan. Namun, setiap kali mereka bertemu dalam latihan, tersedia sebuah ruang untuk kembali menjadi bagian dari kelompok.
Ruang itu tercipta melalui gamelan. Tidak ada target pentas dalam waktu dekat yang sengaja dipaksakan. Kegiatan tampil mengikuti kalender upacara keagamaan Hindu. Karena itu, latihan tidak dibangun dalam suasana penuh tekanan. Proses berlangsung secara bertahap dan mengalir mengikuti kemampuan anggota.
Hubungan sosial juga tidak berhenti ketika latihan selesai. Ketika ada anggota yang sakit, anggota lainnya dapat mengatur jadwal untuk berkunjung, bahkan sekitar dua jam sebelum latihan dimulai. Ketika ada anggota yang menikah, mengadakan syukuran rumah, merayakan kelahiran atau cucu, ibu-ibu Gita Shanti juga kerap berbagi makanan kepada anggota lainnya.

Anggota Gita Shanti menjenguk keluarga Ibu Rai Astiti yang sedang dalam kondisi sakit. (Dokumentasi : Koleksi pribadi Ibu Ari Suweni,2026)
Hal-hal kecil tersebut memperlihatkan bahwa gamelan telah berkembang menjadi lebih dari sekadar aktivitas musikal. Ia menjadi ruang hidup bersama. Di dalamnya, kemampuan bermusik berkembang bersamaan dengan kemampuan memahami orang lain. Anggota belajar mengenali pola tabuhan sekaligus belajar membaca situasi sosial. Mereka belajar kapan harus memainkan peran, kapan harus menunggu, kapan membantu, dan kapan memberikan ruang.
Pada titik inilah literasi seni dan kohesi sosial bertemu. Komposisi musik yang kompleks menciptakan ketergantungan musikal. Ketergantungan musikal kemudian melahirkan kesadaran sosial: bahwa setiap orang penting, bahwa setiap orang memiliki peran, dan bahwa harmoni hanya dapat tercipta ketika semua pihak saling mendukung. Yang menarik, proses tersebut menemukan ruang yang sesuai dengan kedewasaan para anggotanya. Usia yang relatif matang tidak menjadi penghalang untuk belajar. Sebaliknya, pengalaman hidup membuat proses belajar gamelan memiliki makna yang lebih dalam.
Bagi Sekaa Gong Gita Shanti, gamelan dengan demikian menjadi lebih dari sekadar aktivitas berkesenian. Ia menjadi media untuk merawat hubungan antarmanusia, menjaga kebersamaan, dan membangun kehidupan komunitas yang lebih harmonis.
Pada akhirnya, mungkin justru inilah makna terdalam dari bermain gamelan: bukan siapa yang paling cepat atau paling menonjol, melainkan bagaimana banyak orang dengan kemampuan, usia, dan pengalaman yang berbeda dapat duduk bersama, mendengarkan satu sama lain, lalu menciptakan satu harmoni. Dari bunyi yang disatukan, tumbuh kebersamaan. Dari kebersamaan, tumbuh kepedulian. Dan dari kepedulian, sebuah komunitas menemukan cara untuk terus hidup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


