Musim kemarau selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak di Desa Singgahan. Ketika hujan berhenti turun dan lahan mengering, hijauan pakan ternak seperti rumput gajah menjadi semakin sulit dicari.
Di sisi lain, limbah peternakan seperti urin sapi kerap kali hanya dibiarkan terbuang begitu saja, padahal sesungguhnya menyimpan potensi besar sebagai pupuk bagi lahan pertanian warga.
Dua persoalan yang tampak terpisah ini, yaitu kelangkaan pakan ternak dan limbah peternakan yang belum termanfaatkan, sesungguhnya dapat diselesaikan dengan satu pendekatan yang sama: pengolahan berbasis fermentasi.
Dari sinilah lahir program kerja SILAMBA x SIPETANI, sebuah inisiatif mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 di Desa Singgahan yang menghubungkan dua isu tersebut sekaligus, sesuai namanya: Silase Lamba (limbah pertanian untuk pakan) yang bersinergi dengan Sinergi Petani dan peternak.
Berangkat dari Observasi Lapangan
Program ini tidak lahir dari asumsi semata. Sejak awal masa KKNT, mahasiswa telah berkeliling desa untuk melakukan observasi dan penjajakan permasalahan bersama masyarakat.
Dari proses inilah tergambar jelas bahwa persoalan pakan ternak di musim kering dan limbah peternakan yang belum dikelola menjadi dua isu yang benar-benar dirasakan warga, bukan sekadar dugaan mahasiswa dari luar desa.
Mahasiswa KKNT mengumpulkan rumput gajah sebagai bagian dari persiapan pembuatan silase | Dokumentasi Pribadi
Dua Minggu Menyiapkan Produk, Sebelum Berbagi Ilmu
Berbeda dari program sosialisasi pada umumnya yang langsung dimulai dengan penyampaian materi, SILAMBA x SIPETANI dijalankan dengan pendekatan yang lebih matang.
Selama kurang lebih dua minggu sebelum hari pelaksanaan, mahasiswa KKNT terlebih dahulu membuat sendiri produk silase dan Pupuk Organik Cair (POC) dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di desa: rumput gajah dan konsentrat untuk silase, serta urin sapi, molase, dan EM4 untuk POC.
Pendekatan "praktik dulu, baru sosialisasi" ini sengaja dipilih agar mahasiswa benar-benar memahami proses dan tantangan pembuatan kedua produk tersebut, sekaligus memiliki contoh produk jadi yang nyata untuk ditunjukkan dan dibagikan kepada masyarakat, bukan sekadar teori di atas kertas.

Rumput gajah yang telah dicacah sebagai bahan utama dalam pembuatan silase | Dokumentasi Pribadi
Sosialisasi: Silase untuk Pakan, POC untuk Lahan
Puncak program dilaksanakan pada 7 Agustus 2026 dalam bentuk sosialisasi yang mengundang peternak dan petani Desa Singgahan.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan doa, sambutan dari koordinator kelompok KKN, serta sambutan dari Kepala Desa Singgahan, sebelum dilanjutkan dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta.
Materi yang disampaikan mencakup dua topik utama secara berurutan. Pertama, panduan lengkap pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari urin sapi, mulai dari pengertian, manfaat dalam mengurangi ketergantungan pupuk kimia dan memperbaiki struktur tanah, bahan dan rasio campuran, tahapan fermentasi selama 14–21 hari, ciri POC yang berhasil, hingga contoh-contoh kegagalan yang sering terjadi seperti bau busuk, berbelatung, atau tumbuh jamur berlebih.
Turut disampaikan pula data hasil penelitian yang menunjukkan penerapan POC pada tanaman padi mampu meningkatkan produksi gabah hingga lebih dari 100% dibanding metode konvensional.
Kedua, panduan pembuatan silase sebagai solusi pengawetan pakan ternak. Peserta diperkenalkan pada konsep fermentasi anaerob menggunakan rumput gajah sebagai bahan utama, tahapan pembuatan mulai dari pencacahan hingga proses pemadatan dan penutupan rapat wadah, serta ciri-ciri silase yang baik dan gagal.
Penyampaian materi pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian melalui pembuatan POC dan silase | Dokumentasi Pribadi
Antusiasme dan Kebutuhan yang Nyata
Respons dari peserta menunjukkan bahwa program ini menjawab kebutuhan yang sudah lama dirasakan. Sejumlah peternak mengaku sangat membutuhkan solusi semacam silase, terutama untuk menghadapi musim kering yang membuat mereka kesulitan mencari hijauan segar bagi ternaknya.
Di sisi lain, POC juga dipandang sebagai jawaban atas persoalan limbah ternak yang selama ini belum dikelola secara optimal, sekaligus membuka peluang keberlanjutan bagi usaha peternakan dan pertanian warga secara bersamaan.
Sesi diskusi yang mengiringi sosialisasi ini pun berjalan dua arah. Bukan hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan baru. Namun, juga menjadi ajang berbagi pengalaman lapangan dari para peternak dan petani senior kepada mahasiswa. Pengalaman yang pada akhirnya turut memperkaya pemahaman mahasiswa selama menjalani masa pengabdian di Desa Singgahan.

Diskusi interaktif bersama peternak dan petani Desa Singgahan mengenai penerapan POC dan silase | Dokumentasi Pribadi
Praktik Langsung dan Berbagi Produk
Materi yang disampaikan tidak berhenti sebagai teori. Peserta diajak melihat langsung media dan simulasi dari proses pembuatan silase dan POC, sehingga dapat memahami tekstur, aroma, dan tampilan produk yang berhasil secara nyata.
Sebagai bentuk dorongan agar ilmu yang dibagikan benar-benar dipraktikkan, mahasiswa turut membagikan sampel produk POC dan silase yang telah dibuat selama dua minggu masa persiapan kepada seluruh peserta yang hadir.
Pembagian sampel ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata sekaligus meningkatkan semangat peternak dan petani untuk mencoba membuat produk serupa secara mandiri di kemudian hari.
Langkah Kecil, Dampak Berkelanjutan
Peserta menerima sampel POC dan silase setelah sesi sosialisasi | Dokumentasi Pribadi
Sesi ditutup dengan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta dibanding sebelum sosialisasi dimulai. Seperti yang disampaikan dalam penutup materi: dengan konsistensi dan partisipasi bersama, langkah kecil dalam membuat silase maupun eco enzyme dapat memberikan dampak positif yang lebih besar bagi kelestarian lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Melalui SILAMBA x SIPETANI, mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 berharap sinergi antara peternak dan petani Desa Singgahan dapat terus terjalin, di mana limbah dari satu sektor menjadi solusi bagi sektor lainnya, dan pengetahuan yang dibagikan hari ini terus dipraktikkan jauh setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
*Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian publikasi program kerja KKNT Inovasi IPB 2026 di Desa Singgahan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


