jejak inovasi kuliner semarang yang menggerakkan ekonomi kreatif lokal - News | Good News From Indonesia 2026

Jejak Inovasi Kuliner Semarang yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Lokal

Jejak Inovasi Kuliner Semarang yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Lokal
images info

Foto oleh Budi Puspa Wijaya di Unsplash


Ketika Kawan GNFI mengunjungi kota yang baru, pertanyaan yang muncul sering kali sederhana: “Enaknya makan apa, ya, nanti?” Apalagi saat berada di Kota Semarang. Sebab, kota ini memiliki deretan makanan khas yang wajib untuk dicoba.

Dari lumpia hingga wingko babat, makanan itu sering kali dicari wisatawan. Bukan karena daftar kuliner Semarang pendek, melainkan karena rasa-rasa tersebut sudah menjadi cara paling mudah untuk mengenali kota.

Semarang: Kota Pusaka Kuliner dengan Kekayaan Rasa dan Sejarah

Sebagai kota yang tumbuh dengan inkulturasi, Semarang tidak hanya menumpuk jejak budaya di bangunan tua. Perjumpaan etnis Jawa, Tionghoa, dan Arab tidak berhenti pada adat atau ruang ibadah, tetapi juga masuk sampai ke kuliner yang ada.

Seperti lumpia yang lahir dari resep Tionghoa. Namun, agar rasanya cocok, kudapan ini disesuaikan dengan cita rasa setempat. Hal serupa terjadi pada kehadiran wingko babat dari Babat, Lamongan, yang kemudian tumbuh menjadi oleh-oleh khas Semarang.

Kekayaan tersebutlah yang menjadi daya tarik wisata. Menurut survei pasar wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang pada 2023, lumpia menjadi kuliner favorit wisatawan. Bandeng presto, soto Semarang, nasi ayam, dan tahu petis menyusul di peringkat atas, sementara wingko babat masuk jajaran kudapan yang wajib dicoba.

Inovasi Kuliner Lokal: Transformasi Resep Tradisional Menjadi Daya Tarik Wisata dan Ekonomi

Dengan perkembangan kuliner yang ada, tentunya mendorong pula inovasi rasa agar tetap masuk di lidah generasi sekarang. Seperti kuliner khas kota Semarang, perubahan itu tidak berarti resep lama dibuang. Yang disesuaikan justru takaran, isian, dan tekstur, supaya makanan khas ini tetap dikenali sekaligus mudah dinikmati.

Misal saja lumpia. Sekarang ini banyak lumpia yang sudah dimodifikasi dengan isian kambing maupun seafood, ataupun keju. Namun, tetap menggunakan rebung untuk menjaga cita rasa aslinya sebagai lumpia Semarang.

Hal serupa juga terlihat dari roti gandjel rel yang saat ini berkembang dengan isian cokelat, vanila, maupun keju, serta olesan butter di atasnya. Bentuknya yang padat dan taburan wijennya tetap dikenali, tetapi tekstur serta rasanya dibuat lebih akrab bagi lidah yang terbiasa pada roti modern.

Dengan begitu, melalui cara inilah makanan khas tidak akan tertinggal dan rasanya tetap masuk di selera yang terus berubah. Sebab, pada riset yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Semarang, potensi urban gastronomy kota ini dipetakan sebagai bagian dari identitas sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Melalui inilah inovasi rasa inilah kuliner Semarang masih tetap memiliki identitas yang sesuai, tetapi terus berkembang mengikuti rasa yang sedang disukai oleh masyarakat.

Dampak Ekonomi dan Sosial: Kuliner sebagai Lokomotif UMKM dan Pencipta Lapangan Kerja di Semarang

Pedagang Menggoreng Lumpia (https://unsplash.com/photos/a-man-is-cooking-food-on-a-cart-i3R1qn9JLaE)
info gambar

Pedagang Menggoreng Lumpia (https://unsplash.com/photos/a-man-is-cooking-food-on-a-cart-i3R1qn9JLaE)


Tahukah Kawan GNFI, bahwa sektor kuliner menjadi tulang punggung ekonomi kreatif? Sebab, pada tingkat nasional, sektor ini menyumbang sekitar 41 persen terhadap PDB ekonomi kreatif. Subsektor yang sama juga menyerap tenaga kerja paling luas di antara 17 bidang yang diakui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Hal tersebut didukung pula dengan data BPS Kota Semarang yang mencatat bahwa di kota ini lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum pada 2025 mencapai Rp6.324,68 miliar atas dasar harga konstan 2010. Angka itu menjadi peluang terhadap potensi pertumbuhan ekonomi yang lahir dari dapur, warung, restoran, dan sentra oleh-oleh.

Perputaran ekonomi pada industri ini tidak berhenti pada kuliner saja, tetapi menjadi satu rantai kerja yang saling menopang. Sebab, rebung dan ebi untuk lumpia serta kelapa untuk wingko menghubungkan petani, nelayan, perajin kemasan, dan penjual rumahan.

Dengan demikian, belanja wisatawan pada makanan khas menimbulkan efek berantai. Uang yang keluar di warung atau sentra oleh-oleh tidak hanya berputar di dapur, tetapi juga sampai ke pemasok bahan, pengemas, hingga tenaga kerja di sekitarnya.

baca juga

Tantangan dan Prospek Masa Depan: Membangun Ekosistem Kuliner Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global

Jualan Jajanan Pasar (https://unsplash.com/photos/people-buying-food-at-a-street-food-stall-6zn_lPbV6Cs)
info gambar

Jualan Jajanan Pasar (https://unsplash.com/photos/people-buying-food-at-a-street-food-stall-6zn_lPbV6Cs)


Tentunya tantangan akan selalu muncul di berbagai macam industri, termasuk kuliner Semarang. Terutama pada perubahan generasi yang telah mengenal berbagai macam tekstur dan rasa. Dengan demikian, inovasi menjadi jalan agar resep lama tidak tertinggal.

Namun, proses inovasi tentunya tidaklah mudah. Apalagi jika belum ada ekosistem, standar mutu, dan sarana promosi yang tepat. Tanpa itu, perubahan isian atau tekstur hanya bersifat sporadis: laku di satu warung, tetapi sulit tumbuh menjadi daya saing kota.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.