eksplorasi orang utan dan badak jawa masuk daftar wisata satwa liar terbaik dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Eksplorasi Orang Utan dan Badak Jawa Masuk Daftar Wisata Satwa Liar Terbaik Dunia

Eksplorasi Orang Utan dan Badak Jawa Masuk Daftar Wisata Satwa Liar Terbaik Dunia
images info

Orang Utan


Indonesia kembali mendapat pengakuan di tingkat global melalui wisata berbasis konservasi. Dua pengalaman bertemu satwa liar di Indonesia, yakni pelacakan badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dan pengamatan orang utan di Kalimantan, masuk dalam 10 besar wisata satwa liar terbaik dunia versi Wildlife Experience Index 2026.

Dalam daftar yang dirilis perusahaan perjalanan Bailey Robinson dan dikutip Euronews pada 31 Agustus 2026, pelacakan badak Jawa menempati peringkat kelima dengan skor 85 dari 100. Sementara itu, pengalaman mengamati orang utan Kalimantan berada di peringkat kedelapan dengan skor 84. 

Keduanya berada di antara pengalaman satwa liar dari berbagai kawasan dunia, termasuk trekking gorila gunung di Rwanda dan Uganda yang menempati peringkat pertama dengan skor 90, ekspedisi penguin kaisar di Antarktika dengan skor 88,5, serta pelacakan macan tutul salju di Himalaya dengan skor 85,5.

Indeks tersebut tidak hanya menilai popularitas sebuah destinasi. Bailey Robinson menggunakan enam indikator, yaitu kelangkaan satwa, keterpencilan habitat, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, dan peluang wisatawan untuk menjumpai satwa. Setiap indikator mendapat nilai maksimal 10 yang kemudian menghasilkan skor akhir dari 100. 

Menelusuri Badak Jawa di Ujung Kulon

Pengalaman pelacakan badak Jawa di Ujung Kulon berbeda dari wisata satwa yang mengandalkan kepastian melihat hewan. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan salah satu mamalia besar paling langka di dunia dan kini memiliki habitat utama di Taman Nasional Ujung Kulon.

Karena jumlahnya sangat terbatas dan satwa ini hidup di kawasan hutan, pengamatan dilakukan dengan pendekatan yang mengutamakan pemantauan dan konservasi. Pengunjung tidak sekadar berjalan mencari badak, tetapi dapat mengikuti proses penelusuran jejak, mengenali habitat, serta memahami bagaimana petugas memantau keberadaan satwa tersebut.

Balai Taman Nasional Ujung Kulon bersama Rhino Monitoring Unit (RMU) melakukan pemantauan secara rutin sepanjang tahun. Salah satu metode utamanya adalah memasang camera trap atau kamera jebak di berbagai lokasi di Semenanjung Ujung Kulon. Data dari kamera tersebut digunakan untuk mengetahui keberadaan, populasi, karakteristik, dan persebaran badak Jawa. 

Tanda keberadaan badak juga dapat dicari melalui jejak kaki, kotoran, bekas aktivitas makan, hingga lokasi berkubang. Dalam sebuah kegiatan pemantauan, tim bahkan mencatat jenis tumbuhan yang dimakan badak, ukuran pohon, jumlah daun dan ranting yang tersisa, serta koordinat lokasi temuan. Cara ini membuat eksplorasi tidak berhenti pada kegiatan melihat satwa, tetapi juga menjadi bagian dari pengumpulan informasi untuk konservasi. 

Ujung Kulon sendiri menyediakan habitat berupa hutan hujan tropis dataran rendah dengan semak dan area terbuka yang menjadi bagian dari habitat badak Jawa. Pemantauan melalui sekitar 100 kamera jebak pernah dilakukan di kawasan Semenanjung Ujung Kulon seluas sekitar 30.000 hektare. 

Menyusuri Hutan untuk Mencari Orang Utan

Pengalaman wisata satwa di Kalimantan menawarkan kegiatan yang berbeda. Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pepohonan. Satwa ini memakan buah, daun, dan serangga serta berperan dalam ekosistem hutan, salah satunya melalui penyebaran biji tanaman. IUCN memasukkan orang utan Kalimantan dalam kategori Endangered atau terancam punah. 

Eksplorasi orang utan umumnya dilakukan dengan memasuki kawasan hutan bersama pemandu dan petugas. Salah satu pengalaman yang dikenal wisatawan berada di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Perjalanan dapat dimulai dengan menaiki klotok, perahu kayu tradisional yang menyusuri sungai di tengah hutan hujan.

Dari sungai, wisatawan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kawasan seperti Camp Leakey atau Pondok Tanguy. Kegiatan dapat mencakup trekking di hutan untuk mengamati flora dan fauna serta mencari kemungkinan perjumpaan dengan orang utan liar. Di kawasan tertentu, wisatawan juga dapat melihat orang utan hasil rehabilitasi di lokasi pemberian pakan. 

Pengalaman serupa juga tersedia di kawasan konservasi lain di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung, misalnya, menawarkan trekking, pengamatan satwa liar, serta kegiatan penelitian dan edukasi mengenai ekosistem hutan hujan tropis. Orang utan menjadi salah satu satwa yang dapat ditemukan di kawasan tersebut. 

Wisata yang Bergantung pada Konservasi

Masuknya Ujung Kulon dan Kalimantan dalam jajaran global menunjukkan bahwa daya tarik wisata satwa tidak selalu ditentukan oleh kemudahan melihat hewan. Justru, kelangkaan satwa dan kondisi habitat yang masih alami menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

Direktur Penjualan Bailey Robinson Sarah Parker mengatakan hubungan antara kelangkaan spesies dan keterpencilan habitat menjadi salah satu hal yang menonjol dalam penilaian indeks tersebut. Menurutnya, wisata satwa yang bernilai adalah pengalaman melihat sesuatu yang langka sekaligus dilakukan secara bertanggung jawab dan mendukung kawasan serta proyek konservasi yang membuat pengalaman tersebut tetap memungkinkan. 

Pengakuan ini menempatkan dua kawasan dengan karakter berbeda dalam peta wisata satwa liar dunia. Ujung Kulon menawarkan kesempatan memahami upaya menjaga badak Jawa yang sangat langka, sedangkan hutan Kalimantan memberikan pengalaman mengenal orang utan dan ekosistem tempat hidupnya.

Keduanya memperlihatkan bahwa wisata alam dapat berjalan bersama kegiatan penelitian, edukasi, pemantauan satwa, dan perlindungan habitat. 

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.