Tim mahasiswa Universitas Padjadjaran mengembangkan smart greenhouse berbasis Internet of Things atau IoT untuk membantu petani stroberi putih di Ciwidey meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha.
Inovasi bernama Snowberry Farm: Low-Cost Hybrid Smart Greenhouse Plant Factory 4 in 1 tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek atau PKM-PI.
Teknologi ini dirancang untuk mengatasi masalah budidaya stroberi putih yang rentan mengalami kerusakan akibat curah hujan tinggi. Buah yang membusuk sebelum dipanen dapat menurunkan hasil produksi dan mengurangi pendapatan petani.
Stroberi putih memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan stroberi biasa. Namun, budidayanya membutuhkan kondisi lingkungan yang lebih terkontrol.
Petani mitra di Ciwidey baru membudidayakan stroberi putih sekitar enam bulan sebelum program dimulai. Dalam praktiknya, curah hujan yang tinggi menjadi salah satu kendala utama.
Buah yang terlalu banyak terkena air lebih mudah membusuk. Kondisi tersebut membuat produktivitas tidak optimal dan meningkatkan risiko kerugian bagi petani.
“Kami tidak membawa ide yang sudah jadi untuk ditawarkan kepada mitra. Justru kami datang melihat permasalahan yang mereka hadapi, kemudian mencari solusi yang dapat meningkatkan profit mitra,” ujar Ketua Tim PKM-PI Unpad, Alifka Dina Hasanah dikutip dari Faperta Unpad.
Greenhouse Dilengkapi Sensor IoT
Untuk mengurangi risiko kerusakan, tim membangun greenhouse tertutup yang dilengkapi sistem IoT. Sistem ini membantu petani memantau dan mengatur kondisi lingkungan di dalam greenhouse.
Perangkat yang digunakan mencakup sensor suhu dan kelembapan udara DHT22, sensor kelembapan tanah, sensor intensitas cahaya, serta humidifier.
Seluruh perangkat dapat dipantau melalui telepon pintar. Sistem penyiraman otomatis juga membantu menghemat waktu dan tenaga petani.
Sebelumnya, penyiraman dilakukan secara manual menggunakan selang. Dengan sistem otomatis, penggunaan air dapat disesuaikan dengan kondisi media tanam.
Kapasitas Tanam Lebih Besar
Greenhouse yang dibangun memiliki luas sekitar enam meter persegi. Tim menggunakan sistem vertikultur untuk meningkatkan kapasitas tanam.
Dalam luas lahan yang sama, greenhouse tersebut dapat menampung sekitar 200 tanaman dalam 100 polybag. Kapasitas ini lebih besar dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional di lahan terbuka.
Peningkatan kapasitas tanam dapat membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan volume produksi. Jika diikuti dengan kualitas buah yang baik dan pasar yang memadai, teknologi ini berpotensi meningkatkan pendapatan usaha.
Seluruh instalasi greenhouse dan sistem IoT telah selesai dipasang. Saat ini, tim masih melakukan monitoring untuk membandingkan kualitas dan produktivitas stroberi putih di dalam greenhouse dengan tanaman di lahan terbuka.
Hasil pemantauan akan digunakan untuk melihat sejauh mana teknologi tersebut mampu menciptakan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman.
Pengukuran produktivitas menjadi bagian penting dalam menilai manfaat ekonomi inovasi ini. Teknologi tidak hanya perlu berfungsi, tetapi juga harus mampu membantu petani meningkatkan hasil dan menekan biaya produksi.
Teknologi Harus Terjangkau Petani
Tim Unpad juga menyiapkan buku panduan operasional bagi petani. Panduan tersebut berisi cara menggunakan setiap fitur greenhouse, prosedur perawatan, dan langkah penanganan apabila terjadi kendala teknis.
Pendampingan ini diharapkan membuat petani dapat mengoperasikan teknologi secara mandiri setelah program selesai.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi modern dapat diterapkan secara nyata untuk membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” kata Alifka.
Menurut tim, teknologi pertanian tidak harus mahal dan eksklusif. Dengan desain yang sesuai kebutuhan, smart greenhouse dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani.
Inovasi ini dikembangkan oleh mahasiswa dari sejumlah program studi. Mereka terdiri atas mahasiswa Agroteknologi, Teknologi Pangan, Akuntansi Perpajakan, dan Agribisnis.
Kolaborasi tersebut membuat pengembangan inovasi tidak hanya berfokus pada teknologi. Tim juga mempertimbangkan aspek budidaya, pengelolaan usaha, pascapanen, dan keberlanjutan pendampingan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


