Candi Borobudur memasuki babak baru dalam pengembangannya. Tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai destinasi wisata dan warisan budaya, Borobudur kini diarahkan menjadi destinasi spiritual dan pilgrimage kelas dunia.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam segmen GoodTalk yang menghadirkan Maya Watono, CEO InJourney, dalam wawancara bertajuk “Transformasi Borobudur sebagai Spiritual and Pilgrimage Destination”.
Transformasi Borobudur disebut telah berjalan selama sekitar empat tahun. InJourney berupaya mengembalikan dimensi spiritual kawasan sekaligus membangun pengalaman wisata yang lebih berkualitas, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang melekat pada Candi Borobudur.
Borobudur Bukan Sekadar Destinasi Wisata
Selama ini, Borobudur lebih banyak dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Indonesia. Namun, di balik kemegahan arsitekturnya, candi yang berada di Magelang, Jawa Tengah, tersebut memiliki nilai spiritual yang sangat kuat, terutama bagi umat Buddha.
Karena itu, transformasi yang dilakukan InJourney mencoba memperluas cara pandang terhadap Borobudur. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi untuk melihat peninggalan sejarah, tetapi juga ruang untuk menjalani pengalaman spiritual, budaya, dan perjalanan ziarah.
“Aim kami adalah mempromosikan ini ke seluruh dunia terutama negara-negara yang bisa menikmati Borobudur sesuai spiritual. Negara-negara Buddhist seperti Thailand, Vietnam, juga negara-negara yang mengapresiasi culture, heritage,” ucap Maya kepada Good News From Indonesia.
Maya Watono juga menjelaskan bahwa visi tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan Borobudur sebagai spiritual and pilgrimage destination yang dapat dikenal masyarakat dunia. Konsep tersebut juga terlihat dalam pelaksanaan Waisak 2026. Borobudur menjadi ruang pertemuan antara spiritualitas, budaya, pariwisata, dan keberagaman masyarakat.
Perayaan Waisak bahkan menghadirkan perjalanan spiritual para bhikkhu dari sejumlah negara serta berbagai aktivitas yang memperlihatkan Borobudur sebagai ruang spiritual yang terbuka bagi masyarakat dunia. Selain menerima kunjungan para bhikku, perayaan Waisak juga menerima wisatawan asing dan media luar negeri agar acara keagamaan ini bisa diliput dan disebarkan secara luas.
“Kami memang berharap terutama dengan adanya Waisak ini sebenarnya acara yang memang dirayakan seluruh dunia. Oleh seluruh umat Buddha seluruh dunia. Dan Borobudur sebagai the largest buddhist temple in the world. Ini adalah tempat yang sangat sakral untuk merayakan Waisak. Nah, kami juga mengundang media sluruh dunia untuk hadir meliput, dan wisatawan asing datang,” katanya lagi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

