museum kambang putih tuban menjelajah saksi bisu kejayaan maritim tuban hingga kisah koes plus - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Kambang Putih Tuban, Menjelajah Saksi Bisu Kejayaan Maritim Tuban hingga Kisah Koes Plus

Museum Kambang Putih Tuban, Menjelajah Saksi Bisu Kejayaan Maritim Tuban hingga Kisah Koes Plus
images info

Dok. indonesia.travel


 

Di antara semua destinasi wisata yang dimiliki Kota Tuban, Museum Kambang Putih berdiri dalam kategorinya sendiri, sebagai satu-satunya museum di Kota Wali ini.

Berlokasi di Jalan R.A. Kartini No. 3, tepat bersebelahan dengan Makam Sunan Bonang dan tidak jauh dari Alun-Alun Tuban, museum ini adalah tempat di mana ribuan benda bersejarah berkumpul dalam satu gedung berarsitektur kolonial seluas 150 meter persegi.

Nama museum ini diambil dari nama lama Kota Tuban. Pada Prasasti Kambang Putih yang dibuat pada 1050 Masehi di masa Raja Sri Mapanji Garasakan, disebutkan bahwa Kambang Putih adalah sebuah kota pelabuhan penting yang terletak di jalur perdagangan maritim antara Semenanjung Malaka dan wilayah Indonesia bagian Timur.

Nama itu kemudian menjadi identitas museum yang didirikan untuk merawat dan memamerkan warisan dari kejayaan pelabuhan bersejarah itu.

Apa yang ada di dalamnya cukup mengejutkan untuk ukuran museum sekecil ini. Hingga Agustus 2021, koleksinya mencapai 5.774 buah, mencakup artefak dari zaman prasejarah, masa Hindu-Buddha, masa Islam, dan era kolonial, termasuk benda-benda yang diangkat langsung dari dasar laut Pantai Boom oleh perusahaan swasta pada 1990-an.

 

Sekilas Mengenai Museum Kambang Putih

Museum Kambang Putih diresmikan pertama kali pada 25 Agustus 1984 oleh Gubernur Jawa Timur Wahono. Pada awalnya museum ini menempati kompleks Pendopo Krido Manunggal Tuban, namun lokasinya yang kurang strategis membuat kunjungan tidak optimal.

Pada 15 Januari 1996, museum ini secara resmi dipindahkan ke lokasi baru yang lebih strategis di Jalan Kartini, menempati gedung yang pada masa kolonial Belanda dikenal sebagai "Ball Room", sebuah tempat hiburan populer di kalangan warga Eropa di Tuban kala itu.

Pemindahan itu terbukti tepat. Lokasi baru yang bersebelahan langsung dengan Makam Sunan Bonang dan dekat dengan Alun-Alun Tuban menjadikan museum ini mudah diakses oleh peziarah dan wisatawan yang sudah datang ke kawasan tersebut.

Museum ini kini menjadi bagian utama dari rute wisata sejarah dan religi di pusat Kota Tuban.

 

Daya Tarik Utama Museum Kambang Putih

Koleksi terbesar dan paling signifikan di Museum Kambang Putih adalah peralatan dan artefak laut, mayoritas didapat dari penyelaman di kawasan Pantai Boom.

Ratusan guci, keramik dari berbagai dinasti Tiongkok, senjata kuno, dan benda-benda pelayaran dari berbagai negara menunjukkan betapa sibuknya Pelabuhan Tuban pada masa kejayaannya, ketika kapal dari Tiongkok, Gujarat, Arab, dan Eropa silih berganti merapat.

Salah satu koleksi paling mencolok dan paling tidak terduga adalah fosil badak purba berusia lebih dari 300.000 tahun yang pertama kali ditemukan di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Fosil ini sudah mengalami silifikasi, proses di mana tulang-tulang organik berubah menjadi batu, menjadikannya salah satu temuan paleontologi paling penting yang pernah ditemukan di wilayah Tuban.

Penataan koleksi di museum ini disusun secara kronologis. Pengunjung dimulai dari bagian resepsionis yang menampilkan fosil-fosil dari masa prasejarah, berlanjut ke koleksi Hindu-Buddha di sisi kanan, kemudian koleksi dari masa Islam, dan diakhiri dengan ruang etnografi dan numismatik. Setiap ruang dilengkapi pencahayaan yang cukup dan label informatif.

Kejutan kecil yang sering membuat pengunjung lokal terkejut adalah keberadaan koleksi tentang Koes Plus Bersaudara, band legendaris asal Tuban yang namanya sudah masuk dalam sejarah musik Indonesia.

Kaset-kaset dan foto-foto band ini tersimpan di museum sebagai bagian dari koleksi etnografi yang merekam kontribusi warga Tuban dalam budaya nasional.

 

Akses Menuju Museum Kambang Putih

Museum Kambang Putih beralamat di Jalan R.A. Kartini No. 3, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, tepat di sebelah barat Kantor Bupati Tuban dan bersebelahan dengan Makam Sunan Bonang. Dari Alun-Alun Tuban, museum ini hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki ke arah utara.

Dari Terminal Tuban, perjalanan ke museum bisa ditempuh dengan angkutan kota, ojek, atau becak dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit.

Dari Surabaya, setelah tiba di Tuban menggunakan bus antarkota dengan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam, museum bisa dicapai dengan transportasi lokal

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Kambang Putih buka setiap hari Senin hingga Minggu mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional.

Tiket masuk museum ini gratis. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu di pintu masuk. Beberapa sumber menyebut tarif Rp10.000 untuk kunjungan tertentu atau program khusus, namun untuk kunjungan reguler tidak ada pungutan.

Fasilitas yang tersedia meliputi ruang pamer yang terawat, pemandu wisata yang siap memberikan penjelasan lebih mendalam, dan area parkir di sekitar kawasan. Mengingat museum ini berada satu kawasan dengan Makam Sunan Bonang, pengunjung diharapkan berpakaian sopan.

 

Ayo Berkunjung ke Museum Kambang Putih!

Museum Kambang Putih cocok untuk Kawan GNFI yang sedang di Tuban dan ingin memahami mengapa kota ini punya lapisan sejarah yang sangat tebal.

Masukkan museum ini ke dalam rute yang sama dengan kunjungan ke Makam Sunan Bonang dan Pantai Boom, karena ketiganya berjarak sangat dekat dan bisa dituntaskan dalam setengah hari.

Gratis, informatif, dan tidak memerlukan banyak waktu namun bisa meninggalkan banyak wawasan. Selamat menjelajahi Tuban ya, Kawan!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.