Di balik garis pantainya yang panjang, Bengkulu menjadi rumah penyu semasa hidup. Penyu menjadikan pesisir sebagai tempat bernaung dan menghiasi kekayaan alam. Sejak lama, sejumlah pantai di provinsi ini menjadi tempat penyu naik ke daratan untuk bertelur, salah satunya kawasan pesisir Mukomuko. Pantai berpasir dan lingkungan pesisir yang relatif mendukung siklus hidup penyu, termasuk penyu lekang
Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) memang dikenal sebagai salah satu penjelajah lautan yang tangguh. Ukurannya relatif kecil dibandingkan jenis penyu lainnya, tetapi perjalanan hidupnya membentang jauh di perairan tropis dan subtropis. Pada Mei 2025, RRI melaporkan keberadaan penyu lekang masih menghadapi berbagai ancaman. Mulai dari terjerat alat tangkap nelayan secara tidak sengaja, terdampak polusi laut, hingga kehilangan pantai tempat bertelur akibat pembangunan pesisir.
Perburuan serta perdagangan telur dan bagian tubuhnya turut menambah tekanan terhadap populasinya. Kondisi tersebut membuat penyu lekang masuk kategori rentan dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Di Indonesia, persoalan tersebut menjadi penting karena perairan Nusantara merupakan rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu laut dunia, termasuk penyu lekang. Artinya, keberadaan penyu di Indonesia bukan sekadar tentang satu spesies atau satu kawasan pantai.
Ia berkaitan dengan ekosistem laut yang lebih luas serta keberlanjutan kawasan pesisir sebagai tempat mencari makan, bermigrasi, dan berkembang biak.
Penyu Lekang Kembali ke Laut
Kawan GNFI, menurut laporan terbaru dari BKSDA Bengkulu pada Agustus 2026 lalu, sebanyak 120 penyu lekang dilepasliarkan ke habitat alami yakni kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Konteks inilah yang membuat keberadaan penyu lekang di Bengkulu menarik untuk diperhatikan. Sejumlah kawasan pesisir Bengkulu diketahui menjadi lokasi pendaratan dan peneluran penyu. Di tengah berbagai ancaman yang dihadapi penyu lekang secara umum, upaya konservasi di daerah menjadi semakin berarti mulai dari menjaga pantai peneluran, mengamankan telur, hingga memastikan tukik dapat kembali ke laut.
Pada akhirnya, perjalanan seekor penyu lekang tidak berhenti ketika ia berhasil mencapai laut. Perjalanan itu justru baru dimulai, dan keberlangsungannya sangat bergantung pada seberapa baik manusia menjaga rumah yang mereka tinggalkan dan suatu hari nanti mungkin akan mereka datangi kembali.
Pantai jadi Tempat Penting dalam Siklus Hidup
Bagi penyu, pantai bukan sekadar bentang alam. Di sanalah penyu betina naik ke daratan untuk meletakkan telurnya. Setelah menetas, tukik kemudian harus melewati perjalanan singkat tetapi penuh tantangan untuk mencapai laut.
Kondisi pantai menjadi salah satu faktor penting dalam proses tersebut. Gangguan habitat, aktivitas manusia, hingga perubahan kondisi pesisir dapat memengaruhi keberhasilan peneluran penyu.
Prosesnya dimulai dari perlindungan sarang, penyelamatan telur, penetasan, perawatan, hingga pemantauan habitat. Karena itu, keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan peneluran menjadi bagian penting dalam konservasi.
Upaya yang dilakukan di Mukomuko memperlihatkan bagaimana masyarakat dapat berperan sebagai penjaga langsung habitat penyu di pesisir.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pelepasan 120 penyu lekang di Pantai Panjang menjadi salah satu contoh kolaborasi dalam menjaga satwa dilindungi. BKSDA Bengkulu bersama masyarakat dan mitra konservasi berupaya memastikan penyu dapat kembali ke habitat alaminya.
Di sisi lain, keberhasilan konservasi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga pantai, tidak mengambil telur penyu dari alam, serta mengurangi aktivitas yang dapat mengganggu penyu ketika naik ke daratan.
Pada akhirnya, 120 penyu lekang yang kembali ke laut dari Pantai Panjang bukan sekadar angka. Di baliknya terdapat proses penyelamatan, penetasan, perawatan, dan kerja sama berbagai pihak. Dari pesisir Mukomuko hingga Pantai Panjang, penyu menjadi bagian dari cerita alam Bengkulu yang masih terus berjalan.
Menjaga mereka berarti memastikan pantai dan laut Bengkulu tetap memiliki ruang bagi kehidupan untuk tumbuh, kembali, dan melanjutkan siklusnya.
Kita Bisa Mulai dari Mana?
Kawan GNFI, menjaga penyu lekang bukan hanya tugas pemerintah atau pegiat konservasi. Kita pun bisa ikut bergerak lewat langkah sederhana:
- Tidak membeli atau mengonsumsi telur penyu,
- Mengurangi sampah plastik dan enjaga kebersihan pantai,
- Tidak mengganggu penyu saat bertelur
- Dukung komunitas konservasi dan menyebarkan informasi tentang pentingnya menjaga habitat penyu.
Sebab, menjaga penyu berarti ikut menjaga laut dan pesisir sebagai rumah mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


