kelenteng kwan sing bio tuban kelenteng terluas di asia tenggara dengan gapura kepiting raksasa - News | Good News From Indonesia 2026

Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Kelenteng Terluas di Asia Tenggara dengan Gapura Kepiting Raksasa

Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Kelenteng Terluas di Asia Tenggara dengan Gapura Kepiting Raksasa
images info

Dok. woelly william (Google Maps)


 

Di pinggir Jalan Raya Pantura di Kabupaten Tuban, tepat menghadap Laut Jawa, berdiri sebuah kelenteng yang tidak ada duanya di Asia Tenggara.

Kelenteng Kwan Sing Bio, yang beralamat di Jalan Martadinata No. 1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, diklaim sebagai kelenteng terluas di Asia Tenggara dengan luas kawasan mencapai 4 hektar, sekaligus satu-satunya kelenteng di kawasan ini yang dibangun menghadap langsung ke laut terbuka.

Hal pertama yang mengejutkan saat mendekati kelenteng ini adalah gapuranya. Di atas pintu gerbang masuk bertengger seekor kepiting raksasa yang menganga ke atas, sebuah penanda visual yang tidak lazim dan langsung membekas di ingatan siapapun yang pernah melihatnya.

Begitu masuk ke dalam kawasan seluas 4 hektar itu, pengunjung akan berjumpa dengan dominasi warna merah, kuning, dan hijau, ornamen naga di berbagai sudut, lampion yang bergelantungan,

Selain itu, bagian belakang kompleks berdiri patung Dewa Kwan Kong setinggi 30 meter yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung panglima perang tertinggi di Asia Tenggara.

Jadi, ayo kita ketahui lebih lanjut mengenai Kelenteng Kwan Sing Bio!

 

Sekilas Mengenai Kelenteng Kwan Sing Bio

Kelenteng Kwan Sing Bio didirikan pada 1773, menjadikannya salah satu kelenteng tertua di Jawa Timur. Namun inskripsi tertua yang ditemukan di kelenteng ini bertarikh 1871, menunjukkan bahwa pencatatan sejarahnya mengalami beberapa perbedaan interpretasi di kalangan peneliti dan pengelola.

Nama kelenteng ini diambil dari Kwan Kong atau Guan Yu, seorang jenderal besar dari Tiongkok yang kemudian didewaikan dan dipuja sebagai Dewa Perang, Kesetiaan, dan Keadilan dalam kepercayaan Tionghoa.

Kawasan tempat kelenteng berdiri dahulunya adalah area tambak yang banyak menghasilkan kepiting, dan kepiting-kepiting besar disebut sering muncul dari tambak pada malam hari. Dari cerita itulah muncul simbol kepiting yang kini menjadi ikonik di gapura kelenteng.

Bangunan kelenteng terus berkembang dari waktu ke waktu, terutama di bagian belakang kompleks. Kehadiran patung Dewa Kwan Kong setinggi 30 meter yang dibangun di masa modern menjadi penanda bahwa komunitas Tionghoa Tuban terus berinvestasi dalam kelenteng ini sebagai pusat spiritual dan budaya mereka.

 

Daya Tarik Utama Kelenteng Kwan Sing Bio

Gapura kepiting raksasa adalah titik pertama yang hampir selalu menjadi tujuan foto setiap pengunjung. Kepiting besar dengan capit terangkat yang bertengger di atas gerbang ini tidak hanya unik secara visual, tapi juga menjadi simbol yang sarat cerita tentang asal usul kawasan tempat kelenteng berdiri.

Di dalam bangunan utama terdapat tiga ruang dengan fungsi yang berbeda. Ruang pertama di bagian depan digunakan sebagai tempat membakar hio, sementara ruang-ruang berikutnya menyimpan altar pemujaan berbagai dewa dengan dekorasi yang kaya dan terperinci

Di bagian belakang kompleks, patung Dewa Kwan Kong setinggi 30 meter berdiri menghadap laut, sebuah pemandangan yang jarang bisa dijumpai di kelenteng mana pun.

Posisi kelenteng yang langsung menghadap Laut Jawa memberikan pemandangan yang unik. Dari beberapa sudut kawasan, terutama di sisi yang menghadap ke depan, laut terbuka terlihat jelas dan angin laut berhembus masuk. Ini yang menjadikannya berbeda secara atmosfer dibanding kelenteng yang biasanya dibangun di kawasan padat kota.

Di waktu-waktu tertentu, kawasan ini menjadi sangat meriah. Perayaan Imlek dan berbagai festival Tionghoa menghadirkan pertunjukan barongsai, atraksi kungfu, dan pesta kembang api yang terbuka untuk umum dan bisa disaksikan secara gratis.

 

Akses Menuju Kelenteng Kwan Sing Bio

Kelenteng Kwan Sing Bio berlokasi di Jalan Martadinata No. 1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, tepat di pinggir jalan raya Pantura. Posisinya yang berada di tepi jalan utama Surabaya-Semarang membuatnya sangat mudah ditemukan bahkan tanpa panduan peta.

Dari Alun-Alun Tuban, jaraknya hanya sekitar 2,1 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 25 menit berjalan kaki atau beberapa menit dengan kendaraan.

Dari Surabaya, perjalanan menuju Tuban bisa ditempuh menggunakan bus antarkota dengan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam, lalu dari Terminal Tuban melanjutkan dengan angkutan kota atau ojek menuju kelenteng.

Kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat bisa langsung diparkir di area yang tersedia tanpa biaya.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kelenteng Kwan Sing Bio buka setiap hari. Hari Senin hingga Jumat pukul 06.00 hingga 21.30 WIB, sedangkan Sabtu dan Minggu hingga pukul 22.00 WIB.

Tiket masuk ke Kelenteng Kwan Sing Bio gratis. Namun pengunjung perlu meninggalkan tanda pengenal seperti KTP kepada petugas sebelum masuk.

Parkir kendaraan juga tidak dipungut biaya. Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi area parkir luas, toilet umum, musala, gazebo, dan berbagai sudut foto di dalam kompleks. Festival dan pertunjukan seni yang digelar di waktu tertentu juga bisa disaksikan tanpa biaya tambahan.

 

Ayo Berkunjung ke Kelenteng Kwan Sing Bio!

Kelenteng Kwan Sing Bio cocok untuk Kawan GNFI yang sedang di Tuban dan ingin melihat perpaduan antara arsitektur Tionghoa, sejarah lokal, dan keunikan geografis dalam satu lokasi yang terbuka gratis untuk semua orang.

Kawan bisa datang di waktu perayaan Imlek atau festival Tionghoa jika ingin pengalaman yang paling meriah

 Di hari biasa pun, berjalan-jalan dalam kompleks seluas 4 hektar sambil mengamati detail ornamen dan berakhir dengan pemandangan laut di depan kelenteng sudah cukup berkesan. Selamat berkunjung, Kawan!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.