jogja marketing festival 2026 bahas cara yogyakarta bertahan dan tumbuh di era ai - News | Good News From Indonesia 2026

Jogja Marketing Festival 2026 Bahas Cara Yogyakarta Bertahan dan Tumbuh di Era AI

Jogja Marketing Festival 2026 Bahas Cara Yogyakarta Bertahan dan Tumbuh di Era AI
images info

Jogja Marketing Festival 2026 Bahas Cara Yogyakarta Bertahan dan Tumbuh di Era AI


Di Yogyakarta, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, usaha lokal, hingga seni dan budaya tumbuh berdampingan di sini. Perkembangan teknologi kemudian membawa tantangan baru bagi berbagai sektor tersebut, terutama ketika artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara orang bekerja hingga berinteraksi dengan konsumen.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Jogja Marketing Festival (JMF) 2026 yang berlangsung pada 26-28 Agustus 2026 di Yogyakarta. Memasuki penyelenggaraan ke-14, festival yang diinisiasi MCorp tersebut mengangkat tema “Winning the Competition in the Age of AI” dan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga generasi muda.

AI Berkembang, Manusia Tetap Jadi Pusat 

Sri Sultan Hamengkubuwono X membuka Jogja Marketing Festival 2026 | GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Sri Sultan Hamengkubuwono X membuka Jogja Marketing Festival 2026 | GNFI/Pierre Rainer


Pembukaan JMF 2026 diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari pertunjukan budaya hingga keynote speech Hermawan Kartajaya, Founder & Chairman MCorp. Turut menyampaikan pula Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang menyoroti pentingnya menjaga nilai kemanusiaan ketika AI semakin banyak digunakan dalam marketing. 

Ia mengingatkan bahwa konsumen tidak semata-mata dapat dilihat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi. “Pelanggan adalah kategori ekonomi, manusia adalah kategori moral,” paparnya. 

Pembahasan serupa muncul dalam sejumlah sesi yang menghadirkan pelaku usaha dan institusi di Yogyakarta. Festival ini juga menjadi ruang pertemuan antara pendidikan dan industri melalui penandatanganan kerja sama Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan MarkPlus Institute.

Menjaga Lokalitas di Tengah Teknologi 

Suasana pertemuan dalam Jogja Marketing Festival 2026 | Foto: MCorp
info gambar

Suasana pertemuan dalam Jogja Marketing Festival 2026 | Foto: MCorp


Selain membicarakan AI, JMF 2026 memberi ruang bagi “identitas” Yogyakarta. Salah satunya melalui penghormatan terhadap seniman Nasirun yang menghadirkan Garin Nugroho untuk membahas perjalanan dan kontribusi sang maestro dalam seni dan budaya Indonesia.

Pada sesi lain, GKR Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DI Yogyakarta, menyoroti pentingnya kemampuan melihat potensi lokal dari sudut pandang wisatawan. Menurutnya, sesuatu yang dianggap biasa oleh masyarakat lokal bisa memiliki daya tarik bagi pengunjung.

“Terkadang orang Jogja yang sehari-hari lihat Tugu merasa yasudah. Tapi bagi orang luar lihatnya wow,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyoroti kebutuhan membangun ekonomi yang mampu memanfaatkan teknologi sekaligus menjaga kemandirian pelaku usaha lokal. 

“Kita harus membangun smart economy. Tidak cukup hanya memberikan Teknologi kepada UMKM,” katanya. 

JMF 2026 menekankan bahwa persaingan di era AI tidak hanya soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi. Tantangannya juga berkaitan dengan bagaimana teknologi dapat berjalan bersama kreativitas, potensi lokal, dan nilai kemanusiaan.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Pierre Rainer lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Pierre Rainer.

PR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.