dua kelompok tani itik di brebes ini untung rp39 49 ribu per ekor setahun ini rahasia di baliknya - News | Good News From Indonesia 2026

Dua Kelompok Tani Itik di Brebes Ini Untung Rp39-49 Ribu per Ekor Setahun, Ini Rahasia di Baliknya

Dua Kelompok Tani Itik di Brebes Ini Untung Rp39-49 Ribu per Ekor Setahun, Ini Rahasia di Baliknya
images info

PIC by Alex Guillaume | Unsplash.com


Kawan GNFI, siapa sangka usaha ternak itik rakyat yang tampak sederhana ternyata menyimpan pelajaran berharga tentang efisiensi ekonomi? Sebuah penelitian berjudul "Analisis Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi pada Dua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) di Kabupaten Brebes" ditulis oleh Nunur Nuraeni dari Prodi Peternakan Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen.

Dalam publikasinya pada September 2021 di Bulletin of Applied Animal Research, mengungkap perbandingan menarik antara dua kelompok tani itik dengan pendekatan pemeliharaan yang berbeda, tetapi sama-sama menguntungkan.

Dua Kelompok dengan Karakter Berbeda

Penelitian ini membandingkan Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Maju Jaya dan KTTI Sumber Pangan, yang keduanya berlokasi di Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Kedua kelompok ini memiliki kondisi pemeliharaan yang cukup kontras.

KTTI Maju Jaya, yang melibatkan 27 peternak, terletak di sepanjang aliran Sungai Sigeleng di atas tanah lepe-lepe milik pemerintah, dan dipelihara dengan sistem basah dengan halaman umbaran yang lebih luas dan terbuka.

Sementara itu, KTTI Sumber Pangan yang melibatkan 14 peternak terletak memusat di area persawahan, baik kontrak, sewa, maupun tanah sawah milik sendiri. Itik di kelompok ini dipelihara dengan sistem kering, dengan kandang berhalaman umbaran yang jauh lebih sempit dan tertutup dibandingkan KTTI Maju Jaya.

baca juga

Perbedaan Kunci: Sumber Pakan Alternatif

Kawan, salah satu perbedaan mencolok antara kedua kelompok ini terletak pada strategi pakan. KTTI Maju Jaya memanfaatkan tambahan pakan limbah pabrik berupa limbah sohun untuk menggantikan sebagian nasi aking sebagai sumber energi, sementara KTTI Sumber Pangan tidak menggunakan campuran limbah sohun dalam ransumnya.

Perbedaan strategi pakan inilah yang diduga memengaruhi tingkat efisiensi ekonomi dari kedua kelompok tani tersebut.

Hasil: Pendapatan yang Tak Jauh Berbeda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan peternak KTTI Maju Jaya mencapai Rp49.682,04 per ekor per tahun, sementara KTTI Sumber Pangan sebesar Rp39.820,46 per ekor per tahun.

Sementara itu, rata-rata efisiensi ekonomi kedua kelompok masing-masing sebesar 1,39 dan 1,28, yang berarti setiap Rp1.000 biaya yang dikeluarkan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1.390 pada KTTI Maju Jaya dan Rp1.280 pada KTTI Sumber Pangan.

Menariknya, meski secara nominal terdapat selisih pendapatan, uji statistik independen t-test menunjukkan bahwa perbedaan pendapatan maupun efisiensi ekonomi antara kedua kelompok ini tidak signifikan secara statistik.

Kedua kelompok sama-sama dinyatakan menjalankan usaha yang efisien, karena nilai R/C ratio keduanya berada di atas angka 1, sebuah standar yang menandakan sebuah usaha layak untuk terus dijalankan.

Produktivitas dan Biaya Pakan, Dua Faktor Penentu

Penelitian ini juga menguji pengaruh berbagai faktor sosial ekonomi terhadap efisiensi usaha, meliputi produktivitas ternak, curahan jam kerja, biaya pakan, dan kepadatan kandang. Hasilnya cukup jelas: hanya produktivitas ternak dan biaya pakan yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap efisiensi ekonomi pada kedua kelompok tani, baik secara individual maupun keseluruhan.

Sementara itu, curahan jam kerja, kepadatan kandang, dan sistem pemeliharaan ternyata tidak menentukan besarnya efisiensi ekonomi usaha ternak itik ini.

Semakin tinggi produktivitas ternak, semakin banyak pula jumlah telur yang dihasilkan, sehingga pendapatan dari penjualan telur pun ikut meningkat secara otomatis.

Di sisi lain, semakin besar biaya pakan yang dikeluarkan, semakin kecil pula efisiensi ekonomi yang diperoleh peternak, mengingat biaya pakan yang mencapai 60-80 persen dari total biaya produksi menjadikannya komponen paling krusial dalam menentukan untung rugi usaha.

baca juga

Pelajaran bagi Peternak Itik Rakyat Lainnya

Kawan GNFI, temuan dari Brebes ini memberikan pelajaran berharga bagi peternak itik rakyat di berbagai daerah lain di Indonesia.

Alih-alih fokus menambah jam kerja atau memperluas kandang, peternak justru perlu memusatkan perhatian pada dua hal utama: meningkatkan produktivitas ternak dan mengelola biaya pakan seefisien mungkin, misalnya dengan mencari sumber pakan alternatif yang lebih ekonomis seperti limbah sohun yang diterapkan KTTI Maju Jaya.

Keberadaan kelompok tani ternak itik seperti ini juga membuktikan bahwa koordinasi dan kerja sama antarpeternak mampu membuat usaha peternakan rakyat menjadi lebih kuat, bahkan mampu mengantarkan para peternak meraih kejuaraan tingkat nasional serta meningkatkan pendapatan keluarga dan daerah setempat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.