cerita laut bengkulu melalui sedapnya bagar hiu - News | Good News From Indonesia 2026

Cerita Laut Bengkulu melalui Sedapnya Bagar Hiu

Cerita Laut Bengkulu melalui Sedapnya Bagar Hiu
images info

Generated by Gemini AI


Indonesia memiliki cita rasa makanan yang beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke. Salah satu cita rasa yang unik dan menjadi khas dari salah satu daerah di Indonesia adalah bagar hiu.

Makanan khas Bengkulu yang memiliki rasa gurih, pedas, dan kaya rempah ini bukan sekadar hidangan berbahan daging hiu. Namun, terdapat tradisi kuliner masyarakat Bengkulu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagar hiu ini digadang-gadang mirip dengan rendang khas Padang, Sumatra Barat. Perbedaannya, bagar hiu tidak dimasak menggunakan santan, melainkan kelapa yang telah disangrai. Melansir dari Tribuntravel, terdapat cara khusus dalam pengolahannya, karena daging hiu beraroma amis yang cukup menyengat.

Proses pengolahannya dimulai dengan membersihkan daging hiu menggunakan jeruk nipis untuk mengurangi aroma amis. Setelah itu, daging direbus selama kurang lebih sepuluh menit agar teksturnya menjadi lebih lembut. Selanjutnya, bumbu-bumbu dasar dihaluskan dan dimasak bersama bahan utamanya. Proses memasak ini memungkinkan bumbu dan rempah meresap ke dalam daging sehingga menghasilkan cita rasa bagar hiu yang gurih, pedas, dan kaya rempah.

baca juga

Tidak hanya itu, masakan ini turut menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Bengkulu yang tinggal di pesisir Pantai. Keberadaan hidangan ini tidak terlepas dari masyarakat yang hidup dekat dengan laut dan memiliki hubungan erat dengan hasil tangkapan nelayan.

Dari generasi ke generasi, bagar hiu menjadi bukti salah satu kuliner yang mempresentasikan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Bengkulu.

Akan tetapi, makanan ini tidak selalu dapat ditemukan setiap saat, melainkan pada saat tertentu seperti acara adat atau hari-hari besar. Hal ini terjadi karena penggunaan daging hiu sebagai bahan utama membuatnya turut bersinggungan dengan isu konservasi dan keberlanjutan ekosistem laut.

Lantas, bagaimana tradisi kuliner khas Bengkulu ini dapat terus dipertahankan tanpa mengabaikan kelestarian hiu?

Melestarikan Bagar Hiu Tanpa Mengancam Laut

Mengutip dari detik.com, bagar hiu biasanya memanfaatkan hiu berjenis punai dan tanduk. Namun, tidak semua jenisnya dapat digunakan sebagai bahan baku, karena setiap spesies memiliki status dan ketentuan pemanfaatan yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional juga perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan populasi hiu dan ekosistem laut.

Seiring meningkatnya kesadaran terhadap konservasi, masyarakat mulai mencari alternatif agar cita rasa dan keberadaan masakan ini tetap dapat dipertahankan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada daging hiu.

Visit Indonesia menyatakan bahwa ikan tenggiri atau ikan kakap dapat digunakan untuk menggantikan ikan hiu walaupun daging ikan hiu-lah yang membuat kuliner ini memiliki ciri khas unik tersendiri daripada makanan lainnya.

baca juga

Cara ini memungkinkan bumbu dan teknik pengolahan khas bagar hiu tetap dipertahankan, sementara penggunaan daging hiu sendiri dapat dikurangi. Upaya tersebut menunjukkan bahwa melestarikan makanan tradisional tidak selalu berarti mempertahankan setiap unsur di dalamnya seperti dahulu.

Resep, teknik memasak, cita rasa, serta cerita yang melekat pada suatu makanan juga merupakan bagian penting dari warisan kuliner yang perlu dijaga.

Pada akhirnya, bukan hanya tentang daging hiu yang dimasak bersama rempah. Di balik hidangan tersebut terdapat cerita mengenai masyarakat Bengkulu dan hubungan mereka dengan kehidupan pesisir. Melalui penyesuaian dalam menggunakan bahan yang dipakai, bagar hiu tetap dapat dikenalkan kepada generasi yang akan datang tanpa mengesampingkan pentingnya menjaga kelestarian laut.

Oleh karena itu, pelestarian tradisi dan konservasi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan secara berdampingan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.