Puluhan pulau, ribuan suku bangsa, hingga ratusan bahasa daerah, itulah Indonesia. Negara dengan julukan Zamrud Khatulistiwa ini dikenal sangat beragam dan keunikannya tidak dimiliki oleh semua negara.
Indonesia memang memiliki satu bahasa satu yaitu bahasa Indonesia. Namun, di tanah yang sama terdapat lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah ini melebihi total dari provinsi dan kota di Indonesia jika digabungkan.
Familiarkah Kawan GNFI dengan beberapa bahasa lokal, atau kamu mulai jarang mendengarnya dan perlahan tidak menyadari kalau suara dari penutur asli sudah mulai sunyi?
Dalam beberapa kasus, bahasa daerah sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan. Namun, di sisi lain, masih ada yang bertahan dan masih sering terucap. Fenomena lidah lokal yang terancam punah ini bukan tanpa sebab. Lantas, apa yang membuat hal-hal tersebut bisa terjadi?
Ketika Bahasa Daerah Sudah Tidak Pernah Terucap
Bahasa Tandia adalah bahasa daerah Papua, lebih tepatnya di Papua Barat. Sayangnya, Tandia menjadi salah satu identitas Papua Barat yang benar-benar dinyatakan punah. Ketiadaannya ini sudah lama terjadi semenjak tahun 1970, dikutip dari artikel Kompas. Adapun faktor yang memengaruhinya sebagaimana berikut ini:
Faktor pernikahan
Banyaknya anak hasil dari pernikahan ayah dari suku Mbakawar (penutur Tandia) dan ibu dari suku Wamesa (penutur Wandamen) lebih menguasai bahasa Wandamen.
Faktor mitos dan kepercayaan
Masyarakat suku Mbakawar memiliki kepercayaan bahwa percakapan yang dilakukan antara orang tua dan anak menggunakan bahasa Tandia bersifat tabu. Bahkan, jika seorang anak berbicara menggunakan bahasa Tandia saat kedua orang tua masih hidup, maka dapat mendatangkan celaka pada keluarga.
Pada wilayah lain, terdapat bahasa daerah yang sudah berada di ujung tanduk, yaitu bahasa Ponosakan dari Sulawesi Utara. Dikutip dari BBC, hanya tersisa 10 penutur asli dan umur mereka sudah lebih dari 50 tahun.
Sejak tahun 1950-an bahasa Ponosakan sudah jarang dipelajari oleh anak-anak, sehingga lambat laun penuturnya mulai berkurang secara bertahap. Bahkan, pada tahun 1991 penutur asli hanya tersisa 2000 orang.
Bahasa Daerah yang Masih Bertahan Kuat
Bahasa Jawa masih menjadi penutur terbanyak di Indonesia. Selain penuturnya merupakan yang terbanyak, banyak sekolah yang memasukkan pelajaran bahasa Jawa ke kurikulum. Bahasa daerah Jawa Tengah ini juga punya banyak dialek, dari dialek sosial dan daerah.
Penyebab utama lidah lokal ini masih bisa hidup dipengaruhi oleh masyarakat Jawa Tengah yang sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Dilansir dari INews, pendatang dari luar Jawa Tengah juga ikut mahir karena terbiasa mendengar.
Bahasa Minangkabau dan Upaya Mencegah Kepunahan Bahasa Daerah
Bahasa Minangkabau atau Minang bisa menjadi contoh kasus di mana sebuah nyawa identitas sebuah provinsi berada di ambang pilihan. Bahasa daerah dari Sumatera Barat ini kurang dikenal anak muda sekitar, akibat belum optimalnya pembelajaran bahasa Minangkabau di lembaga pendidikan formal, mengutip dari Liputan6.
Demi mempertahankan salah satu identitas Sumatera Barat ini, sejak 2022 pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menerapkan kebijakan pembelajaran muatan lokal keminangkabauan.
Dari kisah penutur Tandia yang lenyap akibat pernikahan antarsuku dan kepercayaan, penutur Ponosakan yang tinggal menghitung hari, hingga bahasa Minangkabau yang kini berjuang di persimpangan, terlihat jelas bagaimana sebuah identitas bisa punah.
Sebaliknya, bahasa Jawa menunjukkan selama sepatah dua kata masih digunakan di atap yang sama dan terus diwariskan kepada anak cucu, maka masih ada cara mempertahankan budaya satu ini.
Satu hal yang paling terlihat adalah kontribusi generasi baru yang akan menjadi penentu apakah sebuah budaya akan terus hadir atau tidak.
Menjaga sebuah budaya tidak harus langsung dari hal yang besar, tapi bisa memulai perlahan dari hal paling kecil, yaitu pembekalan ilmu pada mereka yang kelak menjadi generasi penerus.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


