Ada burung yang menarik perhatian karena warna tubuhnya. Ada pula yang istimewa karena tempat hidupnya sangat terbatas. Jalak alis-api termasuk keduanya, sebab tubuhnya khas dan seluruh dunia alaminya hanya berada di Sulawesi.
Namanya terdengar seperti tokoh dalam cerita petualangan. Jalak alis-api memiliki garis jingga kemerahan menyala di atas mata, seolah sepasang alisnya terbakar. Di balik penampilan itu tersimpan kisah evolusi, sejarah penelitian, ekologi pegunungan, dan persoalan konservasi yang jauh lebih serius.
Secara ilmiah, burung ini bernama Enodes erythrophris (Temminck, 1824). Ia termasuk ordo Passeriformes dan keluarga Sturnidae, kelompok yang juga menaungi berbagai jenis jalak dan perling. Genus Enodes bersifat monotipik, karena jalak alis-api merupakan satu-satunya spesies yang masih diakui dalam genus tersebut.
Data taksonomi Naturalis juga mencatat bahwa Coenraad Jacob Temminck mendeskripsikannya pada 1824 berdasarkan spesimen dari kawasan Manado dan Taguatto di Sulawesi.
Nama lokalnya cukup beragam, antara lain jalak alis-api dan jalak alis-sapi. Dalam bahasa Inggris, burung ini dikenal sebagai Fiery-browed Myna atau Fiery-browed Starling. Nama tersebut bukan sekadar label, karena garis jingga kemerahan di atas mata memang menjadi tanda pengenal paling mudah.
Secara fisik, jalak alis-api berukuran sekitar 27 sampai 29 sentimeter. Tubuhnya didominasi abu-abu gelap, sedangkan tunggirnya berwarna kuning keemasan. Sayapnya bernuansa cokelat dan zaitun, sementara ekornya relatif panjang dengan warna zaitun kekuningan dan ujung krem.
Bagian kepalanya menjadi pusat perhatian. Garis jingga kemerahan terang bermula dari pangkal paruh dan memanjang melewati mata. Area tepat di belakang mata berwarna hitam, sehingga garis tersebut tampak semakin menyala ketika burung bertengger di antara dedaunan.
Paruhnya berwarna hitam dan kakinya kuning. Matanya tampak pucat pada individu dewasa, sedangkan burung muda cenderung lebih cokelat dengan garis alis lebih sempit. Jantan dan betina relatif sulit dibedakan dari penampilan luar, karena keduanya mempunyai pola warna yang hampir sama.
Ekor panjangnya juga menarik perhatian. Bentuk ekor tersebut membantu membedakannya dari beberapa kerabat jalak lain di Sulawesi. Tubuh yang kuat, kaki yang sesuai untuk bertengger, serta paruh yang kokoh mendukung kehidupannya sebagai burung kanopi dan penghuni pepohonan.
Keunikan paling penting justru bukan warna tubuhnya. Jalak alis-api merupakan burung endemik Sulawesi, sehingga secara alami tidak ditemukan sebagai populasi liar di pulau lain.
Dalam kajian Frank E. Rheindt dan koleganya, “New and significant island records, range extensions and elevational extensions of birds in Eastern Sulawesi, its nearby satellites, and Ternate,” (2014), jalak alis-api tercatat pada kawasan Gunung Tumpu sekitar 1.300 sampai 1.400 meter.
Sebaran spesies ini mencakup berbagai kawasan pegunungan Sulawesi. Habitatnya meliputi hutan hujan pegunungan, hutan sekunder dengan pepohonan tinggi, hutan bekas tebangan selektif, hutan lumut atau elfin forest, serta tepian hutan. Ketinggian yang tercatat berkisar sekitar 500 sampai 2.300 meter, dengan banyak pengamatan terjadi di atas 1.000 meter.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa jalak alis-api bukan sekadar penghuni hutan. Ia merupakan bagian dari komunitas burung khas lanskap pegunungan Sulawesi. Ketika hutan pegunungan berubah, persoalannya bukan hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan ruang ekologis bagi spesies yang telah berevolusi di sana.
Jalak alis-api bukan pemakan biji yang hanya mencari makanan di permukaan tanah. Catatan pengamatan menunjukkan bahwa burung ini memakan buah dan berbagai invertebrata. Ia bahkan kerap memanjat batang pohon ketika mencari makanan, sebuah perilaku yang memperlihatkan fleksibilitas dalam memanfaatkan sumber daya hutan.
Burung ini dapat terlihat berpasangan, dalam kelompok kecil, atau sesekali bergabung dalam kelompok lebih besar. Pada pohon yang sedang berbuah, jalak alis-api juga dapat bergabung dengan jenis burung endemik Sulawesi lainnya. Interaksi semacam itu menunjukkan bahwa pohon buah berfungsi sebagai titik pertemuan berbagai spesies dalam ekosistem hutan.
Perannya dalam ekosistem tidak berhenti pada aktivitas mencari makan. Burung pemakan buah berpotensi membantu penyebaran biji, sedangkan konsumsi serangga ikut menghubungkan jalak dengan dinamika populasi invertebrata. Fungsi ekologis seperti ini sering tidak terlihat karena berlangsung jauh di atas kepala manusia.
Kemampuan terbangnya juga mendukung perpindahan antarpohon dan pencarian sumber makanan. Jalak alis-api bukan burung migran jarak jauh, sehingga kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kualitas lanskap yang tersedia di Sulawesi. Karena itu, keberadaan hutan yang saling terhubung menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah individu.
Suaranya terdengar berbeda dari kicauan burung yang melodis. Rekaman lapangan menunjukkan panggilan berupa bunyi seperti “peeep”, “tik tik”, serta beberapa nada serak. Lagunya juga digambarkan sebagai bunyi metalik berulang, sehingga suara dapat menjadi petunjuk penting ketika burung sulit terlihat di kanopi.
Salah satu rekaman historis yang menarik tersimpan di Macaulay Library. Pada 30 Juli 1984, Arnoud B. van den Berg merekam jalak alis-api di Taman Nasional Lore Lindu pada ketinggian sekitar 1.450 meter. Catatan tersebut menunjukkan aktivitas terbang, mencari makan, dan berkomunikasi di habitat hutan pegunungan.
Penelitian mengenai burung ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Temminck pertama kali mendeskripsikannya pada 1824, kemudian genus Enodes digunakan pada 1839. Peneliti berikutnya pernah mengusulkan beberapa subspesies, termasuk centralis dan leptorhynchus, tetapi statusnya masih menjadi persoalan taksonomi.
Hal menarik lainnya adalah minimnya informasi tentang reproduksi spesies ini. Data terbuka yang dapat diverifikasi belum memberikan angka kuat mengenai umur maksimum, umur pertama kali berkembang biak, jumlah telur, lama pengeraman, atau usia anak ketika mandiri. Kekosongan data tersebut penting disebutkan, sebab konservasi yang baik tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta.
Menurut BirdLife International, jalak alis-api saat ini berstatus Least Concern atau Risiko Rendah dalam kerangka IUCN. Penilaian tersebut tidak berarti spesies ini bebas masalah. BirdLife mencatat bahwa spesies ini memiliki wilayah sebaran terbatas dan informasi populasi tetap menjadi bagian penting dalam penilaian konservasinya.
Kajian Dewi M. Prawiradilaga, “Diversity and threats to endemic birds in the Wallacean region, Indonesia,” (2020), memberi konteks yang lebih luas. Prawiradilaga menunjukkan bahwa burung endemik Wallacea menghadapi tekanan berupa kehilangan habitat, fragmentasi hutan, perdagangan, perburuan, serta keterbatasan wilayah hidup. Jalak alis-api termasuk salah satu burung endemik yang disebut dalam pembahasan tersebut.
Ancaman terbesar bagi burung ini bukan semata-mata sangkar atau perdagangan. Hilangnya hutan pegunungan dapat memutus sumber makanan, tempat berlindung, ruang bergerak, dan peluang reproduksi sekaligus.
Bagi spesies dengan sebaran geografis terbatas, kehilangan habitat lokal dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


