Ndarboy Genk adalah penyanyi tembang Jawa yang sedang naik daun pada era digital seperti sekarang ini. Lagu “Kicau Mania” yang dinyanyikannya bersama Banditoz Yaow 86 sanggup viral dan kerap dipakai oleh netizen bekreasi dengan unggahannya masing-masing.
Suara emas pemilik nama asli Helarius Daru Indrajaya sesungguhnya sudah populer sebelum lagu “Kicau Mania” menggema. Ia sudah dikenal seusai menyanyikan lagu “Balungan Kere” ciptaan sesasma musisi lagu-lagu Jawa, Hendra Kumbara pada 2019.
Beberapa khalayak mungkin menilai pria 31 tahun lulusan Universitas Negeri Semarang ini bisa begitu mudahnya mendulang kesuksesan lewat lagu-lagunya. Namun, sebenarnya Ndarboy tetap harus menempuh kerja keras dan jatuh bangun berulang kali sampai akhirnya di titik sekarang ini.
Beda Berkarya Dulu dan Kini
“Kata wong tua ojo cepat puas, jangan cepat berbangga diri. Jadi saya selalu merasa kurang, tapi merasa kurang untuk pengin beraktivitas lagi, produktif lagi,” kata Ndarboy kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Ndarboy mengatakan itu sebagai bentuk mengenang masa-masa sebelum seterkenal sekarang. Pada tahun-tahun di mana peranan digitalisasi belum sebesar sekarang, ia mengaku harus merasakan pedihnya di tengah proses berkarya.
Namun, dari kepedihan itu bisa dijadikan Ndarboy sebagai sumber inspirasi. Tak jarang lagu-lagunya yang telah beredar kini diciptakan berdasarkan pengalaman pribadi saat menempuh masa-masa sulit.
Pengalaman demi pengalaman kini telah Ndarboy rasakan hingga akhirnya berada di jalur kesuksesan. Ia pun bisa membedakan proses berkarya dulu dengan sekarang yang berkiblat dengan algoritma internet.
“Kadang kita dulu rilis, nulis, rilis, nulis, rilis. Mau ada yang dengerin apa enggak, kita masa bodo lah. Tujuannya yang penting berkarya. Sekarang kita di era digital ini lihat insight, engagement, terus tren apa, algoritma. Kita harus menyesuaikan rilisku, insight-ku, nanti turun atau naik. Harus dipertimbankan. Yang dulu berkarya benar-benar tulus pakai hati, sekarang tulus pakai hati tapi dipikir (trennya),” ucap Ndarboy yang menekuni karier bermusiknya sejak 2010.
UMR Indonesia 2045
Ada banyak mimpi-mimpi besar dari Indonesia dalam menatap usia ke-100 tahun pada 2045 mendatang. Pemerintah contohnya yang bermimpi – atau lebih tepatnya memprediksi – akan terjadi bonus demografi yang membawa Indonesia ke tingkatan yang lebih baik terutama dalam segi perekonomian.
Senada dengan pemerintah, Ndarboy juga bermimpi hal yang nyaris serupa. Ia berharap upah minum regional (UMR) di Indonesia bisa naik pada tahun emas tersebut.
“Menurut saya 2045 Indonesia yang jelas UMR-nya naik,” ucap Ndarboy.
Ndarboy sendiri punya mimpi besar di lain jalur musik yakni menjadi pengusaha. Bukan menjadi peternak lele seperti yang dilakukan ayahnya, tetapi ia memilih menjadi pengusaha telur ayam.
“Juragan endok. Saya nggak punya bisnis selain musik. Jadi kalau saya nggak berangkat (manggung), saya nggak sehat, ya semua tim nggak makan. Kalau saya punya ayam petelur, saya kalau mau istirahat bisalah (menghidupi) gitu,” ujarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

